Pengamat Sosial Agus Yohanes: Hentikan Isu Kudeta Demokrat, Sebaiknya Fokus Dukung Pemerintah Tangani Pandemi Covid-19

 


Pemerhati sosial Agus Yohanes meminta Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko untuk tidak menanggapi lagi isu kudeta terhadap Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pasalnya, masalah kudeta yang dituduhkan tersebut, akan menguntungkan pihak tertentu jika isunya masih tetap ditanggapi.


"Sikap Moeldoko yang dengan begitu cepat memberikan klarifikasi atas tuduhan melakukan kudeta terhadap AHY, memang patut diapresiasi. Sebagai mantan Panglima TNI, Moeldoko sudah membuktikan dengan memperlihatkan sikap kesatrianya di hadapan publik," ujar Agus Yohanes menanggapi pertanyaan wartawan, Selasa (9/2/2021).


Agus Yohanes yang juga merupakan Ketua Masyarakat Anti Korupsi (Marak) ini mengatakan, isu kudeta yang dituduhkan kepada Moeldoko untuk melengserkan AHY dari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, tidak layak dijadikan konsumsi publik. Seharusnya, AHY terlebih dulu menanyakan itu secara langsung Moeldoko.


"Tuduhan kudeta terhadap Moeldoko oleh AHY itu, secara tidak langsung sudah menyudutkan Istana, khususnya Moeldoko sebagai KSP. Padahal, selama ikut mendampingi Presiden Jokowi, Moeldoko sama sekali tidak pernah melontarkan statemen tentang elit partai politik. Moeldoko tidak melakukan itu karena memahami kapasitasnya," kata Agus Yohanes.


Menurut Agus Yohanes, isu kudeta yang dikemukakan pendukung AHY terhadap Moeldoko tersebut, kurang belasan. Masalah itu diduga dengan sengaja dilemparkan ke publik. Demokrat tidak menyadari, bahwa Moeldoko sebagai mantan Panglima TNI, memahami mekanisme tentang organisasi. Tidak ada kata kudeta dalam organisasi.


"Pergantian pucuk pimpinan di tengah masa kepemimpinan dalam sebuah organisasi itu, dapat dilakukan jika situasi dengan kondisi keadaan yang luar biasa. Inipun diatur dalam anggaran dasar (AD)/anggaran rumah tangga (ART) melalui musyawarah luar biasa, atau konferensi luar biasa. Yang menjadi pertanyaan, apakah Demokrat memahami ini? Harusnya mereka mengerti," jelas Agus Yohanes.


Agus Yohanes menambahkan, tuduhan AHY kepada Moeldoko tidak baik karena bisa membuat suasana tidak kondusif, membawa kegaduhan politik di Tanah Air, yang secara tidak langsung bisa mengganggi kinerja pemerintahan Jokowi. Apalagi, Jokowi masih fokus dalam membangkitkan ekonomi dan sekaligus bekerja keras dalam menuntaskan pandemi Covid-19.


Oleh karena itu, Agus Yohanes menyarankan Demokrat untuk tetap menjaga situasi kondusif di tengah pandemi tersebut. Demokrat diminta tidak lagi mengungkit masalah isu kudeta untuk melengserkan jabatan AHY sebagai Ketua Umum Demokrat. Dengan membuat suasana tenang, Demokrat dinilai sudah membantu pemerintah.


Sebelumnya, Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra sebelumnya mengungkap sosok di balik lingkaran Presiden Joko Widodo yang diduga ingin mengkudeta Agus Yudhoyono dari kursi ketua umum Partai Demokrat. Menurut Herzaky, sosok tersebut adalah Moeldoko yang kini menjabat sebagai kepala staf kepresidenan (KSP). 


Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko membantah tudingan soal pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Menurut dia, kudeta biasanya dilakukan oleh orang dalam partai. "Kalau ada istilah kudeta, maka kudeta itu dari dalam. Masa kudeta dari luar," kata Moeldoko dalam konferensi pers virtual, Senin (1/2/2021) lalu.


Moeldoko.menduga tudingan yang disampaikan AHY itu bermula dari foto-foto dirinya bersama dengan para tamunya. Moeldoko mengaku memang sering menerima tamu yang datang ke rumahnya. 


"Beberapa kali memang banyak tamu yang berdatangan dan saya orang yang terbuka. Saya mantan Panglima TNI, tapi saya tidak memberi batas dengan siapapun. Apalagi di rumah ini mau datang terbuka 24 jam, siapapun," ujarnya. "Secara bergelombang mereka datang berbondong-bondong, ya kita terima. Konteksnya apa saya juga enggak ngerti," sambung Moeldoko. 


Meski demikian, Moeldoko memastikan tidal.pernah membahas soal upaya pengambilalihan kekuasaan Partai Demokrat. Hanya saja, mereka memang menceritakan situasi yang terjadi di Partai Demokrat. "Saya sih sebetulnya prihatin melihat situasi itu, karena saya juga bagian yang mencintai Demokrat," sebut Moeldoko. (*)


Bagikan Gratis :


Loading...

Tidak ada komentar