Kata Ahli, Kalau Mau Berhasil Atasi Corona, Buang Rapid Test Segera!


Untuk membuat sebuah provinsi di Indonesia sukses mengatasi Covid-19 diperlukan pemeriksaan PCR yang masif, dan bukan rapid test. Apalagi belum ada data independen tentang validitas rapid test.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas Andani Eka Putra.

Sumatera Barat menjadi salah satu provinsi yang berhasil melakukan pemeriksaan secara masif menggunakan PCR dan tidak mengandalkan rapid test karena hasilnya kurang akurat. Bahkan saat ini laboratorium Universitas Andalas bisa memeriksa hingga 3.000 spesimen dalam satu hari.

"Tanggal 25 Maret [2020] saya diminta rekomendasi oleh Pak Gubernur [Irwan Prayitno] terkait rapid test, saya bilang tidak merekomendasikan rapid test dan pak Gubernur setuju. Argumennya, tidak ada data independen tentang validitas rapid tes," kata Andani dalam Podcast Energi DI's Way milik Dahlan Iskan, Sabtu (18/07/2020).

Andani menjelaskan rapid test tidak bisa mendeteksi virus Covid-19 pada satu minggu pertama dan tingkat akurasinya hanya 20%. Sehingga jika ada 10 orang test di minggu pertama hasilnya pasti negatif, inilah yang justru berbahaya. Rapid test merupakan deteksi antibodi, tetapi bisa saja protein virus ini mirip dengan antibodi yang diproduksi manusia.

Hal ini bisa menyebabkan reaksi silang sehingga hasilnya bias dan hasilnya positif palsu ataupun negatif palsu. Sementara untuk minggu kedua, tingkat akurasi hanya 60%, jika ada 10 orang positif hanya 6 yang positif 4 nya lolos. Yang berbahaya jika yang negatif palsu ini dilepaskan padahal sudah terkena, dan malah menjadi sumber penularan. Di masa pandemi ini menurutnya dibutuhkan diagnosa akurat untuk penanganan yang tepat.

"Kalau satu Pemerintah Daerah mau berhasil jalan yang instan adalah PCR dan buang rapid test. Karena ada risiko lolos tadi, rapid test idealnya 2x periksa tapi kalau sudah sekali mana mau mereka tes lagi?" katanya.

Saat ini Laboratorium yang dia kelola juga menerima spesimen dari daerah lain, seperti dari Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Jambi, dan Sulawesi Tenggara. Untuk mengapresiasi kerja berat ini Andani bahkan memberikan honor pribadinya untuk para pekerja laboratoriumnya, yang bisa menyelesaikan lebih dari 3.000 spesimen per hari.

Dia mengatakan hasil analisis PCR hanya membutuhkan waktu 1,5 jam, yang membutuhkan waktu lama adalah isolasi RNA, bagian inilah yang membutuhkan banyak sumber daya manusia.

"Kalau (laboratorium) cuma periksa 100-200 mending tutup saja lah, karena harus ada komitmen laboratorium dibangun untuk masyarakat. Saya bilang pada Pak Doni (Kepala BNPB) kalau cuma 100-200 spesimen mendingan merger saja," tegasnya. (cnbc)

Bagikan Gratis :


Loading...

Tidak ada komentar