Tulisan Bagus Ini Harus Anda Baca : Saatnya Rumah Ibadah Ambil Peran!


Dalam situasi yang akan sangat cukup berat ini, solusi sebenarnya ada di bagaimana kita mengatur sumber daya. Manusia dan asset.

Kita sebagai bangsa adalah ibarat satu keluarga besar. Ketika harus menghadapi kesulitan, kuncinya adalah pada manajemen sumber daya. Agar kemudian sumber daya itu dapat bertahan lama.

Jika sebuah keluarga terdiri dari 6 anggota keluarga, Ayah, Ibu, 2 Anak dan 2 Kakek Nenek, lalu terjadi musibah banjir yang menyebabkan 1 keluarga harus mengungsi ke lantai 2, maka kuncinya ada di manajemen sumber daya.

Berapa pasokan pangan, kapan bantuan datang dan bagaimana menjatah makanan ke masing-masing anggota keluarga akan menjadi hal penting.

Masing-masing anggota keluarga harus saling perhatian dan jangan mau menang sendiri. Dengan begitu sebuah keluarga baru bisa bertahan dari kepungan banjir.

Apa yang akan terjadi kedepan alangkah baiknya di antisipasi dari sejak saat ini. Karena mengantisipasi itu baik, ketimbang gak ada rencana sama sekali.

Masyarakat membutuhkan titik koordinasi. Titik komando. Titik hubung untuk saling bahu membahu.

Jika titik ini dibebankan pada pemerintah kota dan kabupaten, bebannya akan sangat besar.

Kabupaten Bogor itu 5 juta populasi. Sebesar Singapura. Lebih besar dari Qatar. 1 Bupati ngurus warga sebanyak 1 negara.

Balikpapan sekitar 700rb populasi. Itu juga kebesaran.

Kota Jakarta 9 juta, kota Bogor 1 juta. Titik koordinasi per kota kabupaten itu berat.

Negeri ini punya infrastruktur pertahanan yang tidur dan dapat dibangunkan segera. Tim nya bahkan siap. Tinggal ada niat atau nggak.

Negeri ini punya 1 juta titik masjid yang tersebar di seluruh wilayah negeri.

Jika 30% dari total masjid tersebut adalah tergolong masjid sehat kepengurusannya, berarti ada 300 ribu titik koordinasi warga.

1 titik koordinasi bisa handle 1000 jamaah, atau 250 KK. Artinya 300 juta populasi sudah tercover.

Dari sejak hari ini, Masjid harus ambil peran sebagai kepemimpinan arus bawah. Artinya melayani masyarakat, memastikan kelangsungan hidup, memastikan kelangsungan pasokan pangan dari jamaah.

Langkah konkret masjid bisa ambil peran :

1. Segera bentuk tim Satgas Penanganan Covid di setiap masjid. Bikin kepanitiaan kecil. Yang melibatkan orang-orang yang mau kerja dan melayani ummat.

2. Setelah terbentuk tim, tim satgas langsung mendata jamaah sekitar masjid, bahkan muslim dan non muslim, untuk kemudian didata secara lengkap. Nama, jumlah anak, jumlah lansia, sumber penghasilan darimana.

Ini untuk antisipasi lockdown. Jadi kita bisa ngerti dan faham mana jamaah yang bisa survive atau gak bisa survive.

Di Korea Selatan sudah banyak yang mati dalam senyap. Mati di apartemen sendirian. Makanya data ini penting bagi jamaah yang ingin diperhatikan dan diurusi masjid. Bagi yang mau, silakan data dirinya ke masjid.

Jangan sampai ada jamaah yang gak bisa makan, atau mati sendirian, lalu masjid gak tahu.

3. Secara perlahan bangun pusat logistik bantuan sederhana di masjid. Yang nimbun sembako jangan pribadi dan personal, tetapi masjid.

Masjid harus bersiap jadi titik supply ketahanan pangan bagi jamaah yang sudah mendatakan dirinya ke masjid. Intinya, siapa yang mau diurusi oleh masjid, dirinya didata. Data ini jadi pegangan masjid untuk prioritas distribusi.

4. Tim satgas lakukan edukasi ttg covid ke jamaah. Karena gak semua jamaah warga lokal teredukasi baik dengan sosmed.

Edukasi bahwa sehat saja bisa jadi carrier, gejala bisa saja ringan, tapi jangan sampai menulari ke orang banyakm terutama elder. Orang manula.

Edukasi tentang fiqh penanganan wabah. Jadi ummat bisa faham dan legowo atas beberapa keputusan. Misalnya MUI bahkan sudah melarang shalat jumat di beberapa area pendemi.

Edukasi tentang bagaimana warga yang kemudian muncul symptoms gejala. Kalo takut lapor negara, minimal suruh lapor ke tim satgas masjid, biar kemudian masjid mediasi ke petugas kesehatan.

Ummat segini banyak gak bisa dikelola 1 posko skala kota kabupaten. Pengelolaannya harus diserahkan ke cluster kecil pembinaan.

5. Masjid mendorong aliran asset muhsinin donatur yang berniat menanggulangi beberapa masalah kedepan.

Siapkan wakaf manfaat kendaraan yang bisa digunakan oleh ummat sebagai ambulance darurat. 1 masjid, 1 kendaraan medis. Mobil APV biasa bisa diubah jadi mobil ambulance. Asal niat.

Mulai juga bangun saling peduli. Yang berlebihan harta mulai bangun sistem supply sembako pekanan ke dhuafa sekitaran masjid. Mulai dari sekarang. Agar saat memang masalah besarnya datang, infrastruktur masjid sudah siap.

Bahkan kalo mau lebih jauh lagi, siapkan 1 rumah wakaf manfaat sebagai fasilitas isolasi klinis. Karena negeri ini gak bisa bangun rumah sakit 100 ribu kamar dalam sepekan.

Kita siapkan saja. 1 masjid. 1 rumah klinis isolasi. Kemenkes dan rumah sakit terdekat bisa koordinasi dengan satgas masjid.

Jangan sampai kayak Italy, kehabisan bed, akhirnya baru skrg mau ngubah hotel jadi rumah sakit. Telat.

6. Pemerintah bersama Dewan Masjid Indonesia alangkah baiknya segera koordinasi termasuk melibatkan MUI.

Karena harapan penanggulangan bencana seperti Italy hanya bisa dilangsungkan jika negeri ini membagi penduduk menjadi cluster se-area masjid.

7. Ide dan gagasan sederhana ini alangkah baiknya di copaste ke grup-grup WA masjid di masing-masing masjid. Untuk kemudian perlahan dibicarakan, mumpung lagi work for home. Ada waktu banyak diskusi via WA grup. Bahkan voice notes. Untuk membangun soliditas.

Tulisan : Ustadz Rendy Saputra

Solusi ini juga bisa diterapkan untuk seluruh rumah ibadah di Indonesia.

Bagikan Gratis :


Loading...