Header Ads

Pemerintah Membuat Narasi Seolah-olah Negara Ini Hancur Besok Karena Radikalisme



Ancaman radikalisme itu nyata? Apa tanda tandanya?

Soal radikalisme ini jujur saya kurang terlalu tertarik membahasnya. Selain terminaloginya keliru dan definisi radikal versi pemerintah ini juga belum jelas—bahkan Pak Jokowi berniat mengganti istilah radikalisme ini dengan manipulator agama yang bagi saya juga belum jelas maksudnya apa—bagi saya radikalisme bukanlah persoalan utama atau ancaman utama negeri ini.

Persoalan radikalisme—kalau negara lain seperti Amerika sudah meninggalkan istilah radikalisme karena memang tidak pas dan menggantikanya dengan Counter Violence Extremism—radikalisme memang salah satu persoalan negeri ini, tetapi bagi saya bukan persoalan utama.

Namun narasi yang dibangun pemerintah saat ini seolah-olah negeri ini besok akan runtuh akibat radikalisme. Sehingga isu lain misalnya ekonomi yang jadi persoalan utama negeri ini menjadi kalah penting.

Persoalan utama negeri ini adalah tanda petik “radikalisme ekonomi”. Ancaman nyata kita itu gejala resesi ekonomi dunia, perang dagang, dan kondisi global yang kian tak tentu. Apa kita siap sementara ekonomi kita juga tidak kunjung tumbuh, pondasi ekonomi kita rapuh, utang yang terus meningkat, investasi kita yang kalah jauh dari Vietnam atau Thailand? Itu ancaman nyata saat ini.

Pemerintah juga harusnya sadar, membesar-besarkan persoalan radikalisme sebagai persoalan utama negeri ini adalah kampanye buruk untuk ekonomi kita, karena investor pasti takut. Mana mau mereka nanam uang di negeri ini yang tiap hari presidennya bicara bahwa radikalisme sedang menghancurkan negeri yang dipimpinnya.

Bagaimana cara terbaik melawan radikalisme :

1. Jangan mengaitkan radikalisme dengan agama, agama apapun. Karena kalau sudah dikatikan ke salah satu agama, upaya apapun mencegahnya tidak akan berhasil.

Dan sayangnya kalau bicara radikalisme, pasti dikaitkan dengan Islam baik umatnya maupun ajarannya dan ini fenomena yang terjadi di banyak dunia. Namun, saat ini sudah banyak negara yang menyadari kekeliruan ini. Saya harap bangsa ini juga.

2. Selain itu menurut hemat saya, seperti yang sudah saya sampaikan di awal Paham radikalisme tidak bisa diukur dari aksesoris yang dikenakan seseorang seperti cadar, celana cingkrang, dan jenggot. Jika ini dijadikan ukuran, rusak republik ini. Kita akan saling curiga dan umat Islam akan jadi terdakwa terus. 

Alangkah baiknya jika misi menangkal radikalisme dilakukan melalui pendekatan yang sifatnya persuasif dan edukatif, konseling yang dilaksanakan secara intensif juga dapat menjadi jalan keluar. Bukan malah mengurusi busana.

3. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah negara mampu menghadirkan keadilan ekonomi, keadilan sosial, keadilan hukum, dan keadilan politik. Niscaya paham radikal ini akan layu sendiri.

Fahira Idris
Anggota DPD RI
Ketum Ormas Bang Japar


Loading...

Tidak ada komentar