Breaking

Senin, 12 Februari 2018

Kisah Kepahlawanan Riyanto, Anggota Banser yang Meninggal Setelah Lindungi Jemaat Gereja dari Bom


Insiden pembacokan di sebuah gereja di Jogja, Minggu kemarin ingin mencederai toleransi yang selama ini mengikat kuat persatuan di Indonesia. Namun, usaha-usaha yang ingin memecahbelah tersebut seperti menampar angin, sia-sia. Karena banyak kisah heroik yang mengingatkan kita, betapa kuatnya tali persaudaraan sesama anak bangsa yang mustahil untuk diputuskan.

Salah satu yang tidak lekang oleh waktu adalah kisah Riyanto. Riyanto merupakan anggota Barisan Anshor Serbaguna (Banser) yang meninggal dunia akibat ledakan bom pada saat Misa Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur, 17 tahun silam.

Bom meledak dan tubuhnya terlempar sejauh lebih dari 100 meter. Lelaki kelahiran Kediri, 23 November 1975 itu ditemukan meninggal dunia. Sementara, seorang rekannya sesama anggota banser menderita cacat di mata kanannya.

Dari kisah-kisah yang dihimpun, insiden yang merenggut nyawa Riyanto itu terjadi pada 24 Desember 2000. Riyanto bersama tiga rekannya ditugaskan mengamankan Gereja Eben Haezer oleh Gerakan Pemuda Ansor Mojokerto.

Malam Natal berlangsung khusyuk. Sekitar pukul 20.30 WIB, seorang jemaat menaruh curiga pada sebuah bingkisan yang tergeletak di depan pintu masuk gereja.

Anggota banser dan petugas pengamanan gereja dan polisi mengamankan bungkusan mencurigakan tersebut. Riyanto membuka bingkisan dalam tas hitam dengan kabel tampak menjulur. Tiba-tiba keluar percikan api. Riyanto meminta semua orang berlindung: Tiarap!

Dia membuang bom keluar dari gereja agar tidak meledak di dalam gereja. Bom dilempar keluar ke tempat sampah, tapi terpental.

Riyanto berusaha membuang lebih jauh lagi dari gereja. Namun, bom keburu meledak. Riyanto berpulang dengan menyelamatkan nyawa banyak orang.

Sisa-sisa tubuh Riyanto baru ditemukan tiga jam kemudian di sebelah utara kompleks gereja, sekitar 100 meter dari pusat ledakan. Dengan kondisi tubuh mengenaskan, Riyanto wafat saat itu juga.

Ledakan bom saat itu merobohkan pagar tembok di seberang gereja. Kaca-kaca lemari dan etalase Studio Kartini yang tepat di depan gereja Eben Haezer hancur semua

Untuk mengenang jasa-jasanya, nama Riyanto dijadikan sebagai nama jalan di Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Pemerintah Kota Mojokerto juga telah membangun gapura megah di Jalan Riyanto. (bbs)




loading...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar