Breaking

Selasa, 05 Desember 2017

Lebih Dekat dengan Calon Panglima TNI, Sejak Kecil Ingin Jadi Pilot


Marsekal Hadi Tjahjanto menjadi kandidat kuat menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo. Nama Hadi sudah diserahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada DPR RI untuk dilakukan uji kepatutan dan kelayakan.

Hadi dikenal sebagai pribadi yang sabar, tidak pernah nakal dan patuh kepada kedua orang tua. Karirnya bisa dikatakan moncer. Kini, Hadi menjadi calon tunggal untuk menduduki pucuk pimpinan di tubuh TNI.

Arek asli Singosari, Malang itu memang dibesarkan dari keluarga militer. Ayahnya, Bambang Sudarto merupakan purnawirawan TNI AU yang terakhir berdinas di Lanud Abdulrachman Saleh. Jabatan terakhir Bambang adalah Sersan Mayor (Serma).

Bambang menjelaskan, sejak kecil anak sulungnya memang sudah bercita-cita ingin menjadi pilot militer. "Memang sejak kecil ingin jadi pilot," kata Bambang saat ditemui JawaPos.com di rumahnya, Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Senin (4/12).

Memiliki cita-cita menjadi pilot sejak kecil, membuat Hadi menyiapkan diri sematang mungkin. Begitu masuk SMA, Hadi yang menggemari rujak itu mendaftar di Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP) Malang. Hadi merupakan angkatan 1982.

Alasannya, karena sekolah yang kini menjadi SMAN 1 Lawang (Smanela) itu merupakan sekolah favorit, sehingga moncer untuk membuka jalan mantan Danlanud Adi Sumarmo Solo itu untuk diterima di AAU.

Begitu diterima di Smanela pun, lanjut Bambang, penerbang Cassa tersebut tidak lantas berpuas diri. Hadi lantas memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Selama sekolah, kisah pria yang sudah bercicit itu, pola belajar Hadi biasa saja. Memang setiap hari belajar, namun durasinya tidak lama. Kemungkinan hanya 30 menit, kemudian keluar kamar dengan alasan lapar. Bahkan, Bambang mengaku heran dengan pola belajar Hadi.

"Mau bilang tidak pandai itu gimana, wong anak saya. Tapi kalau saya tanya ke teman-temannya dulu, mereka bilang 'Nek Hadi iku otak setan Om (Kalau Hadi itu otak setan, Om). Temannya sering bilang gitu," kisah Bambang.

Bambang menilai, anaknya termasuk pribadi yang ulet serta memiliki kemauan tinggi. Ketika seolah, Bambang hanya memberi uang saku sebesar Rp 10. Uang ini digunakan Hadi untuk transportasi ke Lawang dan jajan selama di sekolah.

Namun, Hadi tidak jarang ngirit. Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) AU itu rela untuk nggandol alias nebeng truk. "Iya, pernah nggandol truk kalau mau ke sekolah. Dulu saya beri uang saku Rp 10. Waktu itu gaji saya Rp 420," kenang kakek 82 tahun itu.

Kegigihan Hadi ditunjukkan ketika usai lulus dari Smanela. Dia melanjutkan mimpinya menjadi anggota TNI AU. Laki-laki yang fasih berbahasa Prancis itu mendaftar ke AAU seorang diri. Bahkan menapaki setiap tahapan, diakui Bambang, dilakukan oleh Hadi tanpa didampingi kedua orang tuanya.

"Dia berangkat sendiri, mendaftar sekali, dan langsung diterima. Kami di rumah hanya memberi arahan saja. Besok mau tes apa, kami beri arahan, harus seperti apa," imbuhnya.

Sejak mendaftar, mengikuti tes, bahkan hingga diterima, Bambang mengaku tidak lepas memberikan wejangan kepada Hadi. Bambang berpesan kepada Hadi bahwa mengikuti pendidikan militer tidak sama dengan pendidikan pada umumnya.

Bambang berusaha membesarkan hati anak kebanggaannya sejak dari pendidikan. Tujuannya, agar tidak patah semangat dan tetap gemilang. "Saya bilang, namanya pendidikan tidak ada orang benar. Serba salah pokoknya kalau di pendidikan. Saya minta agar anaknya (Hadi) selalu berbesar hati," cerita Bambang.

Kini saat Hadi menjadi calon tunggal Panglima TNI, pesan dan nasihat Bambang selalu teriring untuk Hadi. "Laksanakan semua tugas negara dengan apa yang diberikan laksanakan dengan senang hati, ikhlas, dan disiplin," pesan Bambang.

(tik/ce1/JPC)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar