Breaking

Jumat, 17 November 2017

Begini Kesaksian Boru Sihombing yang Berhasil Dibebaskan dari KKB


Ratusan warga sipil mengaku diperlakukan tidak baik saat terisolasi oleh puluhan kelompok bersenjata di perkampungan Distrik Tembagapura, Mimika, selama tiga pekan terakhir.

Salah seorang warga yang berhasil dievakuasi pada Jumat (17/11) siang, Elisabet Pirade mengemukakan kondisi memilukan yang dialaminya bersama ratusan warga lainnya saat kelompok bersenjata mulai menguasai tiga kampung di Distrik Tembagapura.

"Kami diperlakukan tidak manusiawi. Perempuan disuruh telanjang. Syukur Tuhan masih menjaga kami, sehingga itu tidak sampai terjadi," tutur Elisabet kepada Jurnalis seputarpapua.com di Tembagapura.

Elisabet mengaku masih dalam kondisi trauma setelah menyaksikan sejumlah orang dengan menenteng senjata api, lalu melakukan intimidasi kepada warga sipil. Seluruh alat komunikasi seperti handphone dan harta benda mereka dirampas.

Tidak hanya itu, Elisabet menyaksikan beberapa wanita dibawa pergi ke dalam semak-semak dan nyaris diperkosa. Beruntung korban saat itu berusaha melakukan perlawanan meski harus mendapat pukulan para pelaku.

"Ada beberapa orang sudah dibawa ke dalam semak-semak namun mereka melawan. Ada sejumlah wanita yang melawan harus dipukul, diinjak-injak ujarnya sambil meneteskan air mata.

Kami ditahan hampir satu bulan, 28 hari. Kami makan seadanya, sedikit makanan kami bagi-bagi untuk semua orang bisa makan supaya tidak kelaparan. Tapi ada juga yang memang sudah kelaparan," kisahnya.

Warga kemudian sulit mendapat bahan makanan setelah seluruh jualan di kios-kios habis diambil. Tak hanya jualan, bahkan Elisabet mengaku jika seluruh harta benda tidak ada yang tersisa.

"Semua kios itu sudah tutup. Mereka ambil kita punya jualan semua. Dirampas. Uang dirampas. Kita disuruh diam saja di dalam rumah. Tidak boleh ke mana-mana," katanya.

Sementara warga lainnya, Romauli Sihombing juga mengemukakan kondisi serupa. Namun lebih miris, ketika Romauli bersama seorang anaknya yang baru berusia dua tahun dan dalam kondisi sakit.

"Anak saya umur dua tahun lebih sudah dua hari diare, muntah-muntah, tapi mau buat apa. Kami bertahan, kami di bawah tekanan tapi Tuhan masih jaga kami. Kami bersyukur bisa selamat hari ini," tutur Romauli sambil mengusap air matanya.

Kondisi lebih mengerikan dialami seorang pemilik kios di Kampung Kimbely, Bude Rusida. Sekelompok orang dengan senjata tajam dan senjata api mendatangi rumahnya. Mereka meminta seluruh harta benda yang dimiliki.

"Ada sekelompok orang melakukan sweeping dan memasuki rumah-rumah warga. Mereka mengambil seluruh harta benda dan mengancam kalau tidak buka pintu saya bunuh ko," kisah Rusida.

"Mereka menodong kami dengan parang. Mereka ambil semua, termasuk uang Rp40 juta lebih dirampas. Kami melawan sampai jatuh-jatuh, ditendang dan diinjak-injak," ujarnya sambil menitikan air mata.

"Mereka juga bilang daripada saya bunuh lebih baik buka celana. Parang bahkan masuk ke selangkangan saya. Ada orang tua yang merupakan warga asli Papua di situ mencoba bantu kami," lanjutnya.

"Masyarakat yang bantu kami bilang (ke KKB) bahwa katanya hanya sweeping baru kenapa begitu, kenapa mau perkosa ibu-ibu, kasian mereka juga. Daripada kami dikasih begitu, kami juga berusaha melawan meskipun mereka pukul kami. Kami sudah kasih semua apa yang kami punya, itu tidak pentig asal selamat dan tidak diperkosa," tegas Rusida lagi.

"Semua orang yang menyaksikan perlakuan itu menangis. Sampai ada juga warga asli Papua yang bantu kami. Itu yang selamatkan kami juga. Mereka berusaha lindungi kami," tutup Rusida. (seputarpapua)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar