Breaking

Selasa, 11 April 2017

Dalam Rintihan, Kinara Mencari Keluarganya: “Ibu, Ayah, Kakak, Abang, di Mana Kalian?




Tangisannya sarat akan kepedihan. Keluarga yang selalu setia berada di samping, direnggut paksa manusia-manusia keji. Kinara pun menjadi pelampiasan dendam teman ayahnya.

Rumah itu akan terasa sepi. Tak ada lagi sosok ayah yang sering membawakan jajanan. Belaian lembut tangan ibu yang selalu menidurkan Kinara, selamanya sirna.

Canda tawa abang dan kakak saat menggoda Kinara pun lenyap seketika.

Kinara, tubuhmu dipaksa menerima derita dan kepedihan yang tak seorang manusia pun sanggup menerimanya.
Kasih sayang yang tulus dari kedua orangtua hanya dirasa sampai usiamu 4 tahun.

Kau tidak bisa memanggil ibumu, saat PR sekolah terlalu rumit buatmu.

Kau tidak bisa merebahkan kepala sekedar untuk mencium aroma tubuh dan merasakan hangat kasih sayang ibumu.

Kau tidak bisa mendengar suara ayah saat membujukmu agar berhenti menangis.

Tidak ada lagi tangan kekar yang cekatan menggendong dan menyembuhkan lukamu.

Kinara, di usia yang masih belia, kau harus terbiasa hidup sebatang kara.

Semoga limpahan kasih sayang pengganti bisa engkau dapatkan dari sanak saudara.

Di saat engkau masih terjaga dari pekatnya malam, pasti kau akan berbisik, "Ayak, Ibu, Kakak, Abang... Dimana Kalian? Kinara Rindu..." Sembari meneteskan air mata. Seperti kami yang juga tidak bisa menahan air mata kami saat melihatmu.

Ketika rasa rindumu membuncah, sujud dihadapan-NYA. Dan menangislah seraya berdoa untuk keluargamu.

Sehat selalu Kinara, doa kami mengiringimu beranjak dewasa.

(empati buat Kinara) (rakyatsumatera)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar