Breaking

Sabtu, 24 Desember 2016

Rakyat Aceh Sangat Murka, "Ada Pencemaran dan Pembelokan Sejarah Terhadap Pahlawan Aceh"



Peluncuran uang rupiah edisi 2016 mendapat beragam respon dari masyarakat. Tidak kecuali dari Aceh.

Masyarakat tanah Rencong ini sangat murka atas penggunaan gambar pahlawan perempuan daerah setempat di dalam mata uang rupiah pecahan Rp 1.000 sangat berbeda dengan tatanan masyarakat Serambi Mekkah itu yang penuh menjunjungi tinggi tatanan syariah islam.

Bentuk murka tokoh Aceh ini, mereka akan mengirimkan nota Petisi ke Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah. Pesiti itu dilakukan oleh Peubeudoh Sejarah Adat dan Budaya Aceh (Peusaba).

Ketua Peusaba Mawardi Usman meminta BI merevisi gambar Cut Meutia di uang rupiah baru dari yang tak berjilbab menjadi berhijab.

“Ada pencemaran dan pembelokan sejarah terhadap pahlawan wanita Aceh dalam hal penggambaran di rupiah baru yakni Cut Meutia. Karenanya ini harus direvisi. Dalam waktu dekat kita, Puesaba, segera mengajukan petisi ke BI dan pemerintah,” tandas Mawardi yang dilansir Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), Kamis (22/12).

Sementara petisi untuk pemerintah, yakni segera mengambil langkah agar mengganti penggambaran seluruh pahlawan wanita Aceh tak menggunakan hijab dengan menggambarkannya secara syariah.

Dikatakan Mawardi, penggunakan lukisan Cut Meutia pada uang kertas pecahan Rp 1.000 itu sangat mencoreng nama baik dan citra wanita Aceh yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat Aceh bernafaskan Syariat Islam.

Untuk petisi ini, Peusaba kini tengah mengumpulkan seluruh sejarahwan Aceh dan ulama untuk dapat bersama-sama meneken petisi penggambaran Cut Meutian menggubakan hijab di mata uang rupiah baru.

“Dalam beberapa hari ini, bersama rekan-rekan sejarahwan lainnya dan ulama, kita merembukan konsep untuk petisi yang akan dikirimkan,” tukasnya lagi.
(jpnn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar