MABMI Medan Gelar Pelatihan Telangke dan Adat Perkawinan Melayu, Tekankan Nilai Agama dan Budaya
Pengurus Daerah Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (PD MABMI) Kota Medan akan menggelar Pelatihan Telangke dan Adat Perkawinan Melayu pada 24 Oktober 2026 mendatang. Kegiatan ini bertujuan melestarikan adat resam Melayu sekaligus mengembalikan nilai-nilai agama dan pesan moral dalam prosesi perkawinan Melayu.
Ketua DPD MABMI Kota Medan, H.T. Syahmi Johan, mengatakan pelatihan tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap pelaksanaan adat perkawinan Melayu yang dinilai mulai menyimpang dari nilai dan makna budaya aslinya.
Menurut dia, sejumlah unsur penting dalam adat perkawinan Melayu perlu kembali dipahami dan diterapkan dengan benar. Di antaranya tata cara menyusun dan menyajikan tepak sirih, tradisi makan berhidang, hingga penggunaan bahasa dan penyampaian pantun oleh telangke.
“Dalam acara perkawinan Melayu, pantun bukan sekadar rangkaian kata-kata yang indah. Pantun idealnya mengandung pesan moral bagi pengantin maupun para hadirin,” ujarnya di Kantor Sekretariat MABMI, Jalan Marelan Raya Nomor 109, Kelurahan Tanah Enam Ratus, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan
Syahmi menilai, kemampuan merangkai pantun perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap nilai agama dan adat istiadat. Karena itu, telangke diharapkan tidak hanya pandai berpantun, tetapi juga mampu menyampaikan nasihat yang bermanfaat bagi kehidupan rumah tangga.
Ia mencontohkan, pantun dalam prosesi perkawinan sebaiknya memuat pesan tentang bakti kepada kedua orang tua, tanggung jawab suami, hak dan kewajiban suami istri, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan sanak saudara dan kedua pihak keluarga.
“Jangan sampai pantun hanya membicarakan hubungan suami istri di dalam kamar. Seharusnya, pantun juga mengingatkan pengantin tentang tanggung jawab, bakti kepada orang tua, serta kewajiban menjaga hubungan baik dengan keluarga,” katanya.
Ia berharap pelatihan tersebut dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga agar adat perkawinan Melayu tetap hidup dan dijalankan sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Rudi Suntari, mengatakan kegiatan tersebut terbuka untuk umum. Pihaknya juga berencana menyambangi kampus-kampus untuk mengajak mahasiswa berpartisipasi dalam upaya pelestarian budaya Melayu.
Menurut Rudi, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat resam Melayu agar tidak semakin tergerus oleh perkembangan zaman.
“Pelatihan ini terbuka untuk umum. Kami juga akan masuk ke kampus-kampus untuk mengajak mahasiswa mengenal dan ikut melestarikan adat resam serta budaya Melayu,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, MABMI Kota Medan berharap pemahaman masyarakat terhadap adat perkawinan Melayu semakin baik, sehingga tradisi tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai seremoni, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan nilai agama, nasihat, dan tuntunan kehidupan. (fm)

Posting Komentar