Nobon Kayamuddin, Pesepakbola Legendaris asal Brayan Bengkel, Berjuluk Si Biang Kerok

Nobon Kayamuddin

Nobon Kayamuddin kelahiran Medan 8 Maret 1951 adalah salah satu pemain sepak bola legendaris Indonesia.         

Berposisi sebagai gelandang bertahan, dia juga mendapat julukan "Biang Kerok".

Julukan ini didapat karena karakternya yang keras,temperamental dan tanpa kompromi dalam mengawal lini tengah baik di PSMS maupun di Timnas.

Mengenal sepakbola tahun 1960 di tempat tinggal orangtuanya di kawasan Brayan Bengkel dan tempat bergaulnya di Kampung Dadap Medan.

Dia adalah rekan seangkatan Parlin Siagian,Wibisono, Ronny Pasla, Anwar Ujang dan Tumsila di PSMS Medan. Beliau juga adalah sosok yang turut dibesarkan pada awal karirnya oleh Bapak Umar Khattab yang juga orang tua dari legenda Persija Anjas Asmara.

Sebagai seorang gelandang bertahan pemain yang identik dengan nomor "13" ini tak akan pernah memberi ruang bagi lawannya walau sejengkal.

Maka tak heran sepanjang karirnya baik di PSMS maupun Timnas dirinya kerap mendapatkan kartu. Selain garang di lini tengah Nobon juga lumayan tajam dalam membobol gawang lawan.

Kehebatan Nobon membuatnya dipercaya pelatih Suwardi Arland untuk mengisi line up Timnas pada 1974 saat mengikuti pertandingan segitiga antara Indonesia, Rapid Austria dan Khmer Vietnam.

Aksinya yang memikat saat menjalani debut membuatnya dipercaya kembali saat melawan Uruguay pada 19 April 1974.

Di laga tersebut, Nobon sukses menjadi pemutus alur serangan Uruguay di lini tengah. Uruguay frustrasi hingga akhirnya bertekuk lutut dengan skor 2-1.

Nobon bahkan menjadi "Man of The Match" dalam duel ini. Kekalahan ini membuat Uruguay penasaran hingga minta diadakan pertarungan ulangan pada 21 April 1974.

Dalam pertandingan kedua ini walau Timnas kalah 2-3 tapi Nobon tetap menjadi bintang dengan menjadi pemutus serangan Uruguay seperti laga pertama dan mencetak satu gol indah pada menit ke-16.

Nobon juga menjadi salah satu legenda di Timnas Indonesia karena turut memperkuat Timnas yang hampir lolos ke Olympiade 1976 ketika dilatih Wiel Coerver dari Belanda.

Timnas gagal lolos setelah kalah dalam drama adu penalti dari Korea Utara. Dalam pertandingan tersebut Nobon ditarik keluar 15 menit sebelum perpanjangan waktu berakhir. 

Di PSMS pemain yang dibesarkan klub Perisai ini turut membawa PSMS menjadi juara Divisi Utama Perserikatan pada 1971 dan 1975. Nobon juga turut mempersembahkan gelar Soeharto Cup 1972, Marah Halim Cup 1972 dan 1973, Jusuf Cup 1974 dan turut membawa PSSI Wilayah I yang didominasi bintang PSMS meraih Runner Up President Cup 1974 di Seoul.

Nobon juga membawa PSMS Medan menjadi Runner Up Marah Halim Cup 1978 dan Runner Up Divisi Utama Perserikatan PSSI 1979 serta Juara Tugu Muda Cup 1979

Sebagai pelatih dia juga cukup sukses. Salah satu prestasinya yang menonjol adalah ketika membawa Tim PON SUMUT meraih medali emas sepakbola pada PON 1985 dan 1989.

Pada 1985 Nobon juga sukses membawa PSMS Medan Juara Walikota Cup di Padang.

Selain itu Nobon juga sukses meloloskan PSDS lolos ke - 6 Besar Divisi Utama Perserikatan PSSI 1991/1992.

Nobon juga sukses ketika melatih Medan Jaya pada 1988 - 1991.

Sebagai pelatih Nobon juga sukses membawa PSMS promosi kembali ke Divisi Utama Liga Indonesia pada 2004 setelah pada Divisi I Liga Indonesia 2003 menempati posisi Runner Up walau kemudian ketika promosi digantikan oleh Sutan Harhara.                                         

Nobon yang bermukim di Jalan Karikatur Komplek Wartawan Medan, kini menjabat sebagai Tim Penasihat Teknis PSMS Medan bersama rekannya sesama Legenda PSMS Medan Tumsila dan Parlin Siagian.

(indra rangkuti)

Bagikan Gratis :


Loading...

Tidak ada komentar