Ktut Tantri, Keturunan Viking yang Dijuluki Tokyo Rose From Indonesia

Tokyo Rose From Indonesia

Ms. Daventry terlahir dengan nama Muriel Stuart Walker memiliki darah bangsa Viking yang dikenal pemberani dan gemar petualangan.

Dia adalah wanita yang berperan dalam pertempuran Surabaya Tahun 1945.

Wanita kelahiran Glasgow, Skotlandia 18 Februari 1899 ini datang ke Indonesia tahun 1930 dan diangkat anak oleh Raja Bangli dan berganti nama menjadi Ktut Tantri. Walaupun mempunyai banyak nama julukan lain tapi nama Ktut Tantri digunakannya secara resmi hingga akhir hayatnya.

Nama Ms. Devantry muncul karna wartawan asing salah dalam mengeja namanya Ktut Tantry.

Ms. Devantry


K'tut Tantri terus menyuarakan perjuangan Republik Indonesia lewat Radio Pemberontakan, sebuah radio propaganda perjuangan yang diawaki oleh Bung Tomo.

Dia dijuluki Tokyo Rose From Indonesia.

Karna menyiarkan dalam bahasa Inggris sehingga membuat dunia tau tentang kebobrokan Belanda dan Inggris.

Belanda menawarkan 50 ribu Gulden bagi orang Indonesia yang menyerahkan Ktut Tantri.

"Kalian tahu, uang Gulden Belanda kini tidak laku lagi di Indonesia. Kami sudah memiliki mata uang sendiri. Tetapi jika Belanda mau menyumbangkan setengah juta rupiah pada bangsa Indonesia sebagai dana perjuangan kemerdekaan, saya bersedia datang sendiri ke markas besar kalian,” kata Tantri dalam siaran radio balasannya.

Ketika Inggris menguasai kota, dia turut menyingkir dan bergerilya bersama pejuang Republik hingga ke kawasan pegunungan sekitar Mojokerto.

Pada November 1998, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Nararya kepada “Ni K’tut Tantri”. Penghargaan tertinggi kedua itu diterimanya bukan karena keterlibatan dalam Pertempuran Surabaya 1945, melainkan atas jasanya sebagai wartawan sekaligus pegawai Kementerian Penerangan pada 1950. Setidaknya, peran perempuan itu masih dikenang di negeri yang pernah menjadi bagian takdirnya.

Dia wafat di sebuah panti jompo di Redferd, Sydney, New South Wales pada Minggu malam, 27 Juli 1997. Jelang kremasi, bendera Indonesia dan lembaran kain kuning dan putih khas Bali terhampar di atas petinya. Wasiatnya untuk diaben di Bali tak pernah terlaksana.

Bagikan Gratis :


Loading...

Tidak ada komentar