Sangking Miskinnya, Pemerintah pun Bingung Mau Beri Bantuan Bedah Rumah


Menempati rumah layak huni tentu menjadi idaman bagi setiap orang agar terlindung dari panas dan hujan seperti saat sekarang ini.

Namun hal itu berbeda dengan kondisi rumah yang ditempati keluarga Syamsuar (65) warga Jorong Pandan Gadang Nagari Sungai Tanang, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.

Sebab selama puluhan tahun keluarga Syamsuar bersama istrinya Zuraida (57) dan dua putrinya menempati gubuk reyot yang lokasinya juga berada di tanah rawan longsor.

Miris lagi kondisi gubuk tua yang terbuat dari bambu dengan satu kamar dan satu dapur itu juga sudah miring. Selain itu ketika hari hujan air masuk ke gubuk itu karena atapnya sudah banyak yang bocor.

“Beberapa waktu lalu, saat itu hujan lebat yang diiringi angin kencang. Kami sekeluarga sedang di dalam, kami cemas kalau angin kencang itu akan membuat rumah kami diseret angin ke dalam jurang,” kata Zuraida dihadapan Walinagari Sungai Tanang, di rumah salah seorang kerabatnya, Rabu (4/3).

Karena itu ia bersama keluarga mengungsi ke rumah salah seorang keluarga suaminya karena merasa takut tinggal di gubuk itu. Hidup serba kekurangan bukan karena malas bekerja tetapi takdir berkata lain.

Syamsuar yang diharapkan sebagai tulang punggung keluarga, sejak 8 tahun lalu mengalami sakit asam urat, jangankan untuk bekerja berjalan saja ia tidak mampu.

Untuk menghidupi keluarga, Zuraida membanting tulang menerima upah sebagai penggarap ladang warga sekitar. Jangankan untuk membuat rumah layak huni untuk dapur tetap berasap saja dia sudah susah.

“Untuk dapur tetap berasap, saya bekerja di ladang orang sebagai penerima upah, sehari saya menerima upah Rp60 ribu. Kalau bapak sudah tidak dapat bekerja lagi karena sakit,” ulas Zuraida berlinang air mata.

Anak gadis sulungnya Nur Ikhmah saat ini bekerja sebagai penerima upah untuk membantu ekonomi keluarga sedangkan anak satunya lagi Rahma Yanti kini sedang kuliah di IAIN Bukittinggi semester II, dia kuliah mendapat beasiswa Bidik Misi.

Ia mengakui Pemkab Agam telah 4 kali mendaftarkannya sebagai penerima bantuan bedah rumah, namun bantuan itu belum terwujud karena ia tidak mempunyai tanah untuk membangun rumah bantuan tersebut.

Karena gebuk yang ditempatinya bersama keluarga selama puluhan tahun itu merupakan tanah pinjaman dari famili suaminya.

Sementara untuk mendapatkan bantuan bedah rumah harus syaratnya harua memiliki tanah sendiri. “Inilah kendala kami selama ini sehingga urung mendapatkan batuan bedah rumah tersebut,”ujarnya.

Sebab untuk membeli tanah sama sekali ia tidak mampu, karena penghasilanya hanya pas pasan bahkan jauh dari cukup untuk kebutuhannya krluarganya.

Sementara itu, Walinagari Sungai Tanang Ferri Nata Kusuma membenarkan keluarga itu telah 4 kali terdaftar sebagai penerima bantuan bedah rumah, namun saat ini belum terlaksana karena terkendala pengadaan tanah.

“Saat ini kita sedang berkumpul bersama Walijorong, niniak mamak dan pihak kecamatan untuk mencarikan jalan keluar bagaimana kita dapat mencarikan tanah agar rumah keluarga ibu Zuraida dapat kita bangun. Hasil pertemuan ini ada 3 alternatif tapi itu belum pasti karena terkait dengan pihak lain,” terangnya.

Terpisah, Setda Pemkab Agam Martias Wanto ketika dihubungi melalui selular mengatakan, Pemkab Agam siap membangunkan rumah untuk keluarga itu melalui bantuan Baznas Kabupaten Agam, namun tanah untuk mendirikan rumah itu yang belum ada.

“Jika tidak ada juga tanah di daerah itu, kita siap membangunkan rumah di daerah Dama Gadang Nagari Tanjung Sani Kecamatan Tanjung Raya, disana ada tanah pemerintah, namun apakah yang bersangkutan mau,” katanya.

Ia menegaskan, tidak ada masyarakat yang diabaikan oleh pemerintah, namun permasalahan ini tidak dapat diselesaikan karena terkendala pengadaan tanah.

Bahkan selama ini keluarga Ibu Zuraida juga telah mendapatkan bantuan sosial lainnya, seperti bantuam keluarga harapan, (PKH) Beras Raskin, dan juga sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan,” ungkapnya. (top)

Bagikan Gratis :


Loading...