Penikmat Cerutu di Medan Ini Merindukan Kejayaan Tembakau Deli

Penikmat Cerutu di Medan Ini Merindukan Kejayaan Tembakau Deli
Agung (kiri) dan Fredi, penikmat cerutu asal Medan.

Tembakau Deli pernah jadi primadona.  Di masa jayanya, luas ladang tembakau  mencapai ratusan hektar. Hasilnya diekspor ke beberapa benua diantaranya Eropa.

Namun kejayaan tersebut hanya tinggal kenangan. Saat ini Tembakau Deli sudah memberhentikan ekspor ke Eropa.

Selain jumlah area lahan yang kian menyusut, produk Tembakau Deli kini kian sulit dicari dan ditemukan. Hal ini sangat dirasakan oleh penikmat cerutu, diantaranya Fredi dan Agung.

Agung dan Fredi merupakan pengonsumsi cerutu sejak setahun lalu. Selain mengonsumsi pribadi, mereka melestarikan cerutu untuk memperkenalkan kembali tradisi merokok yang sudah ada sejak zaman dahulu.

"Kita mau mengenalkan seperti kita dulu. Di Sumatera Utara ada Tembakau Deli tapi kita kok kehilangan. Mana cerutunya ini. Nyatanya lebih dominan ke ekspor. Kalau saya sendiri pernah merasakan tembakau deli dan rasanya memang terbaik," ujar Agung, Sabtu (15/2/2020) di Ruang Lima Coffee, Jalan Tuasan no 97 Sidorejo Hilir, Medan Tembung.

Harga Tembakau Deli memiliki varian harga yang cukup mahal bagi Agung dan Fredi.

Varian harganya mulai dari Rp 12 - 24 juta untuk per kilo. Agung menuturkan bahwa satu kilo dari tembakau Deli hanya menghasilkan 200 batang cerutu.

Menurut Agung, permasalahan Tembakau Deli ini dari kurang teredukasinya masyarakat terhadap menanam tembakau.

"Mungkin permasalahan Tembakau Deli ini tidak diedukasinya masyarakat sekitar bagaimana cara menanam tembakau dan cara menjualnya. Inikan harus edukasi. Kurang teredukasi sehingga masyarakat lebih menanam tebu atau singkong yang gampang dijual," ungkapnya

Ia juga menambahkan bahwa menanam Tembakau Deli ini berbeda dengan menanam tumbuhan pada umumnya. Dalam Tembakau Deli ini memiliki perawatan khusus dan dari bibit yang terpilih.

Fredi dan Agung selain penikmat juga menjadikan cerutu sebagai bisnis. Mereka sepakat menyebutkan bahwa cerutu yang saat ini kian populer adalah Bin Cigar yang berasal dari Jember.

"Sekarang Bin Cigar sudah mulai meningkatkan produksinya dengan adanya pabrik sehingga kebun berproduksi yang menjadikan tembakau di jember ini sudah ekspor ke luar negeri. Pemerintahnya sangat peduli dengan produktivitas dan tembakau di jember," ungkap Agung.

Senada dengan Agung, Fredi juga berharap kedepannya Sumatera Utara memiliki pabrik tembakau agar Tembakau Deli dapat bangkit kembali dari keterpurukannya.

"Sebagai penikmat, saya berharap Sumatera Utara itu punya pabrik seperti di Jember dan berharap harga tembakau lokal bisa terjangkau. Selama ini kita dijejeli rokok luar. Kita ini punya ciri khas lokal tembakau. Jember saja sudah mulai, kenapa kita sudah ada nama Tembakau Delinya enggak. Kenapa harus orang luar yang enak tapi kita yang lokal tidak dapat menikmati. Kami ini rindu sekali untuk menikmati Tembakau Deli yang memang dari tanah kita sendiri," pungkas Fredi.

Bagikan Gratis :


Loading...