Wanita Ini Paksa Anaknya Mengemis, Sehari Minimal Rp50ribu, Kalau Gagal....


Bocah perempuan berinisial SR (9 tahun) yang menjadi korban eksploitasi oleh ibu kandungnya, Saminah (34 tahun), kini terus mendapatkan pemulihan kondisi fisik dan mental di Rumah Aman milik Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar, Jalan Anggrek Raya, Kecamatan Panakkukang.

Pemulihan fisik dan mental perlu dilakukan agar sang bocah tidak terjebak dalam kenangan buruk atas kekerasan yang menimpanya. Olehnya itu, trauma healing dan pendampingan dari psikolog dilakukan terhadap SR.


Selama proses pendampingan sejak Selasa 3 Desember 2019, bocah tersebut mulai membeberkan sejumlah fakta mengejutkan kepada psikologi.

Psikolog pendamping P2TP2A, Haeriyah mengatakan selama ini SR hidup dalam tekanan ibunya yang mendoktrin anaknya agar mau dipekerjakan paksa sejak dua tahun terakhir.

“Dia harus hasilkan uang minimal Rp50 ribu sehari. Bila dia tidak dapat itu, dia akan dipukul. Dia dapat jatah makan dua kali. Jam 7 pagi waktu berangkat dan nanti pulang dari mengamen jam 10 malam sebelum tidur. Dia tidur jam 10 malam setelah makan,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, setiap harinya SR disuruh bekerja tanpa mengenal waktu, dalam kondisi apapun bocah itu harus mendapatkan uang sesuai dengan perintah ibunya. Hal itulah yang menjadi tekanan psikologis dari anak ke tiga dari enam bersaudara ini.

“Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kalau setiap hari hanya disuruh untuk kerja dan kerja. Tidak ada waktu bermain, belajar dan bersosialisasi,” ujar Haeriyah.

Selain SR, lanjut Haeriyah kakak dan adiknya juga diperlakukan serupa, dimanfaatkan untuk mendapatkan uang. Kakak laki-lakinya DD, ditarget oleh ibunya untuk mendapatkan Rp100 ribu perhari. Sementara adik perempuannya, Rp40 ribu perhari.

Sementara tiga saudara lainnya telah meninggalkan Kota Makassar yang disebutkan SR berasa di berbagai daerah. Beberapa di antaranya telah berkeluarga.

Namun karena kondisi ekonomi yang tak jauh berbeda dengan apa yang dialami orang tuanya, mereka memilih jalan hidup masing-masing.

“Ini anak semua sudah terdoktrin dengan sendirinya,” ucap Haeriyah.

Disebutkan, Haeriyah, ayah bocah itu berinisial RM hanya berprofesi sebagai pemulung telah diambil keterangannya oleh Penyidik Polsek Panakkukang.

Dihadapan polisi, RM mengaku tidak begitu tahu menahu jika anaknya dipekerjakan paksa oleh ibunya. Sepengetahuannya, SR, kakaknya DD dan sibungsu yang berusia dua tahun hanya berjualan tisu untuk membantu kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk jajan.

Kini dua saudaranya itu hanya dirawat oleh ayahnya sejak ibunya Suminah diamankan di Polsek Panakkukang. Kedepannya kata Haeriyah, pihaknya bakal berkoordinasi dengan ayah SR untuk proses penanganan lebih lanjut kepada dua saudaranya.


Bagikan Gratis :


Loading...

Tidak ada komentar