Header Ads

Ratusan Bangkai Babi Akibat Kolera Kontaminasi Sungai Bedera hingga Danau Siombak



Ratusan bangkai babi yang mati terserang virus hog kolera, dibuang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab ke sungai Bedera Medan hingga terdampak ke Danau Siombak.

Dipastikan jika bangkai babi membusuk di sungai, maka akan menebar virus penyakit bagi orang yang mengonsumsi air sungai. Itu juga menimbulkan bau menyengat yang membuat polusi udara ataupun lingkungan.

Tim Unit Reaksi Cepat Pencegahan dan Penanganan Peredaran Virus Hog Kolera Babi Pemprov Sumut pun hingga saat ini terus berupaya mengangkat bangkai babi dari sungai dan melakukan upaya pencegahan pembuangan bangkai babi ke sungai.

Namun untuk memastikan seperti apa kualitas air sungai Badera dari dampak bangkai babi itu, Tim Unit Reaksi Cepat itu memantau kualitas air sungai Badera dan mengambil sampel air sungai tersebut untuk diuji.

"Tim telah mengambil sampe air sungai Badera dan dibawa ke Balai Teknis Kesehatan Lingkungan (BKTI) untuk diuji. Mudah-mudahan hari Senin 11 November besok bisa diketahui hasilnya," kata anggota Tim Unit Reaksi Cepat, Alwi Mujahit Hasibuan, usai konfrensi pers di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Jalan Medan-Binjai, Sunggal, Deli Serdang, Minggu (10/11/2019).

Air sungai Badera sendiri, kata Alwi Mujahit Hasibuan, banyak digunakan masyarakat untuk berbagai hal kebutuhan hidup sehari-sehari. Sehingga perlu dipastikan kualitas air jangan sampai menimbulkan penyakit bagi masyarakat yang menggunakannya.

Meskipun sungai telah tercemar karena bangkai babi mati itu, namun kata Alwi Mujahit Hasibuan, yang juga Kadis Kesehatan Sumut itu, belum ditemukan sejauh ini dampaknya ke kesehatan manusia maupun ke hewan ternak lainnya

"Memang belum ada laporan soal dampaknya kepada manusia dan ke hewan ternak lainnya. Nah inilah yang terus kita pantau agar pencemaran sungai karena bangkai babi ini tidak sampai menggangu kesehatan manusia. Tapi ingat juga bahwa bangkai babi dibuang ke sungai juga bisa memicu peredaran virus hog kolera babi ke babi lainnya," pungkas Alwi Mujahit.

Adapun tim Unit Reaksi Cepat yang dibentuk atas usulan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, itu terdiri dari BPBD Sumut, Dinas Ketahanan Pangan dan Kesehatan Sumut, Dinas Kesehatan Sumut, Badan Lingkungan Hidup Sumut, Dinas SDA Tata Ruang dan Cipta Karya Sumut serta Biro Humas Pemprov Sumut dan Pemko Medan. (mbd)



Loading...

Tidak ada komentar