News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Misteri Makam Kramat Glugur, Pernah Dipugar Belanda, Kini Disia-siakan Warga

Misteri Makam Kramat Glugur, Pernah Dipugar Belanda, Kini Disia-siakan Warga



Kabarnya ini salah satu nisan yang dibahas serius panitia hari jadi Kota Medan tahun 1975. Menurut Dada Meuraxa yang merujuk Begraafplaats Rapport 1938,  makam Kramat Glugur ini bernama Said Tahir asal Jawa yang dimakamkan tahun 1570, dua puluh tahun dari klaim ulang tahun kota Medan yang konon didirikan tahun 1590.

 Kramat  Glugur ini  berada di Jalan Putri Hijau Medan, tidak jauh dari Sei Deli  tepat di depan rumah sakit Putri Hijau. Makam di pugar Belanda dengan bangunan kokoh dan monumental, pertanda ini makam  ulama Islam yang penting. Banyak makam ulama Islam lain sekitar Medan, tapi  tidak dipedulikan Belanda. Yang satu ini benar benar lain, siapa tahu kenapa demikian ?

Kontras dengan Belanda yang memperhatikan dan membuatkan monumennya, pemerintah RI cq. "Medan Rumah Kita"  membiarkannya terjepit diantara kedai nasi dan rumah warga sebagai mana nampak dalam gambar.

 Karena terjepit bangunan lain, sia sia,  kita tak akan bisa mengabadikan foto arsitektur monumen penghargaan Belanda pada ulama Islam ini.

Sebagai mana makam yang dikeramatkan, sejumlah legenda dan mitos pun menyertainya  di sini. Ada bunga, bendera warna warni dan kain kuning emas penutup nisan. Saat patik berkunjung jelajah Remadhan ke nisan ini 4.6.2017, jumpa Ibu  juru peliharanya boru Nasution  yang garang, patik pun disemprotnya. 

Dia melarang dan melabrak orang yang coba  foto nisan ini. Yang terlanjur moto dimintanya hapus dari kamera  (kecuali curi curi minta izin sama ahli kubur). Bukan apa apa, katanya, banyak yang dapat celaka bahkan meninggal jika coba memfotonya.

 Juru pelihara bilang : "kadang makamnya bergerak, bulan puasa begini lagi datang rohnya. Ini bukan makam orang sembarangan, yang kunjungipun orang luar negeri. Baru baru ini yang datang ziarah dari Yaman, nginapnya di  hotel Mariot"  sambil tangannya menunjuk hotel megah yang memang tak jauh dari makam ini. 

Patik teringat tahun 2013 ada mahasiswa sejarah Unimed  bimbingan patik, Daniati namanya,  menulis skripsi  "Identifikasi dan Dokumentasi Nisan Nisan Kuno di Medan"  termasuk makam ini. Dia bercerita juga mendapat kesulitan  memfoto nisan ini.

Entah, apakah angka tahun nisan 1570 itu sudah dirubah atau ada dua makam yang satu tidak kelihatan? Pengakuan sang juru pelihara makam ini dipindahkan dari bawah ke atas , jadi ada dua pasang batu nisan untuk jenazah yang sama. Yang satu nisan kuno, yang satu dibuat baru. 

Nah, nisan yang baru itu dibuat namanya Syech Bachrin dari Syam (Haldramaut?) usia 200 tahun, wafat 1716. Keterangan sang juru peliharapun berubah ubah, kadang katanya ini makam dari Yaman, kadang disebutnya salah satu makam Wali Songo datang dari Cirebon. Tapi ah,  yang penting katanya  : " ini makam guru besar Sultan Deli yang pertama". Selalu begitu di makam keramat ada banyak cerita berlapis.

Sementara Dada Meuraxa menanyakan apakah inilah makam ulama Islam lama asal Jawa yang disebut Guru Patimpus  dalam Riwayat Hamparan Perak?

Nisan Keramat  Glugur ini  diselimuti misteri. Kenapa Belanda memugarnya? Benarkah karena ini makam "guru besar" Sultan Deli?  (Ichwan Azhari)

Tags

Posting Komentar