News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kisah Adu Kesaktian Guru Patimpus dan Datuk Kota Bangun

Kisah Adu Kesaktian Guru Patimpus dan Datuk Kota Bangun

 


Naskah Tua Riwayat Hamparan Perak, buku yang menceritakan silsilah datuk-datuk Hamparan Perak ini terbuat dari kulit alim (kulit kayu) dan ditulis dalam bahasa dan aksara Karo. Menurut sumber Sepuluh Dua Kuta, teks naskah ini disalin ke dalam bahasa Melayu (tulisan arab melayu) pada tahun 1274 H (kira-kira tahun 1857 M).

 Kemudian disalin lagi dan diteruskan riwayatnya ke dalam bahasa Melayu beraksara Latin pada 29 Desember 1916. Naskah aslinya musnah akibat revolusi sosial pada 04 Maret 1946, tetapi Panitia Hari Jadi Kota Medan memiliki salinannya dalam bahasa Melayu. 

Patut dibanggakan, naskah tua ini menjadi salah satu alat bukti pendukung dalam menemukan Hari Jadi Kota Medan yang disepakati Tim Panitia Hari Jadi Kota Medan jatuh pada tanggal 01 Juli 1590 menggeser hari jadi Gementee Medan pada 01 April 1909. 

---

Patimpus, seorang sakti yang sangat dihormati di Karo, mendengar kesaktian seorang ulama besar dari Tanah Jawa bernama Datuk Kota Bangun. Karena penasaran, Patimpus meninggalkan Aji Jahe untuk bertemu dengan sang Datuk. Inilah salah satu adegan paling masyhur dalam naskah Hamparan Perak.

Butuh waktu satu tahun bagi Patimpus untuk bertemu Datuk Kota Bangun. Selama perjalanannya menuju Kota Bangun, Patimpus banyak mendirikan kampung-kampung untuk kaumnya.

Setelah menetap selama 3 bulan di Sei Sikambing, Guru Patimpus pergi ke Kota Bangun dan berhasil menemui sang Datuk. Adegan paling menyita perhatian tampak ketika dia menantang sang datuk dalam uji kelayakan dan kepatutan sebagai seorang sakti. Datuk menyambut baik tantangan Patimpus dengan keyakinan sebagai taruhannya. Jika kalah Patimpus harus masuk Islam, tapi jika menang, sang Datuk yang ikut kepercayaan Patimpus.

Singkat kata, Patimpus kalah dalam adu kesaktian tersebut dan harus memenuhi janjinya untuk masuk Islam. Namun Patimpus meminta tempo 3 bulan karena harus kembali ke gunung untuk memberitahu kaumnya sekaligus untuk mengadakan acara adat perpisahan.

 Disinilah kesaktian Datuk Kota Bangun lagi-lagi menggetarkan hati Patimpus. Waktu perjalanan ke gunung dipangkas menjadi sekejap mata, dan Patimpus hanya diberi tempo 15 hari untuk mengadakan acara adat di gunung sana. Setelah kembali dari gunung, Patimpus kemudian menjadi murid Datuk Kota Bangun selama 3 tahun.

Setelah masuk Islam, nama Guru Patimpus menjadi sangat familiar di lingkungannya. Dia pun sering bolak-balik antara Kota Bangun-Sei Sikambing dan kadang-kadang ke gunung. 

Pada suatu kesempatan, Patimpus melewati istana Pulau Brayan dan melihat putri Pulau Brayan keturunan Panglima Hali bermarga Tarigan sedang bermain bersama dayang-dayangnya.

 Dayang-dayangnya secara spontan menunjuk kepada Guru Patimpus sembari bergurau bahwa itulah calon suami Tuan Putri, seorang Batak yang masuk Islam. Tuan Putri tidak terima dan malah meludah ke tanah sambil menyatakan ketidaksudiannya. Mendengar cemooh itu, Patimpus sakit hati. 

Dia pulang ke Sei Sikambing dan mengguna-gunai sang Putri sehingga menjadi gila. Pada akhirnya Patimpus jualah yang berperan sebagai tabib yang berhasil menyembuhkan sang putri.

 Sebagai imbalannya, sang Raja menikahkan putrinya dengan Guru Patimpus. Dari hasil pernikahan ini Patimpus memperoleh dua orang anak. Yang tua bernama Kolok dan yang kecil dinamai kecik. Kedua anak ini kemudian dikirim Patimpus ke Aceh untuk belajar Al Qur’an.

Kedua putra Patimpus sangat cepat menguasai Al Qur’an sehingga masyhurlah nama keduanya hingga sampai kepada Sultan Aceh. Ketika menghadap Sultan Aceh, kedua anak Patimpus menyatakan bahwa mereka berasal dari Deli dan ayahnya adalah penguasa di Sepuluh Dua Kuta. Sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa Patimpus berkuasa secara politik di Sepuluh Dua Kuta.

Sultan Aceh memberikan nama baru kepada anak-anak Patimpus keturunan Panglima Hali (Raja Pulau Brayan) tersebut. Yang tua diberi nama Hafdza Tua dan yang muda diberi nama Hafdza Muda, karena keduanya hapal Al Qur’an. Sultan Aceh kemudian meminta keduanya kembali ke Tanah Deli karena Guru Patimpus dikabarkan dalam keadaan uzur.

Patimpus menyambut kedatangan anaknya dengan penuh sukacita. Beliau mengumpulkan seluruh kaumnya dari pesisir hingga ke gunung untuk merayakan keberhasilan anaknya dalam menuntut ilmu di Aceh. 

Namun tak berapa lama kemudian Patimpus pun meninggal dunia dan dimakamkan di Pulau Bening (belakangan para ahli dari Unimed menyatakan telah menemukan makam Guru Patimpus di Hamparan Perak). (int)

Tags

Posting Komentar