Ingin Saingi Kota Lain, Medan Harus Kolaborasi dengan Kota Penyanggah


Kota Medan, saingannya bukan Surabaya, Makassar atau Bandung lagi. Karena letak posisi Kota Medan yang berdekatan dengan negara tetangga, harusnya saingan dengan Singapura atau Kuala Lumpur, Malaysia.

"Tapi sekarang, jangankan bersaing sama  Singapura dan Kuala Lumpur, dengan kota yang lebih kecil seperti Semarang dan Bandung saja kalah," ucap Muhammad Bobby Afif Nasution dalam kegiatan deklarasi dukungan Nusantara Bangkit di Hotel Madani Jalan Amaliun, Kelurahan Kota Matsumoto III, Kecamatan Medan Kota pada Jumat (18/9/2020).

"Kalau misalnya saya kampanye saja ingin niru Kota Semarang atau Surabaya, pasti banyak yang setuju. Tapi kalau misalnya saat kampanye, saya bilang ingin melanjutkan kepemimpinan Kota Medan yang dulu, Nusantara Bangkit pun akan mencabut dukungannya. Untuk itu, harus ada terobosan dalam kepemimpinan kota ini," jelas calon Wali Kota Medan ini.

Karena itu, sambungnya, dalam memimpin Medan, Bobby Nasution - H. Aulia Rachman tidak memberikan konsep yang muluk-muluk. "Kami (Bobby - Aulia Rachman) muda.  Dengan kemudaan ini, kami tidak mau sok paling bisa semua. Konsep kami adalah bersama-sama membangun Kota Medan, berkolaborasi membangun Kota Medan," tutur dia.

Apalagi, sambung penggagas #KolaborasiMedanBerkah ini, Medan memiliki banyak kota penyanggah, tapi tidak pernah dimanfaatkan, selama ini pemerintah kota malah berebut dengan kota penyanggah.

"Seperti KIM (Kawasan Industri Medan), kita berebut dengan Deli Serdang. Bukannya dimanfaatkan," terang Bobby

Bobby juga mengaku, pernah diberikan pandangan soal masalah ketahanan pangan. Medan yang tidak punya lahan pertanian, jelas dia, harus memiliki pemimpin yang punya terobosan agar bisa berkolaborasi dengan daerah-daerah penyanggahnya.

"Bicara pangan kita pasti harus bicarakan pertanian. Pertanian itu dari hulu sampai hilir. Dan Medan bisa menjadi kawasan hilirisasi pertanian dengan bekerjasama di tingkat hulu yang ada di kabupaten penyanggah, ini yang tidak pernah terjadi. Itu yang belum dipikirkan pemimpin Medan sebelumnya.

"Memikirkan mau dibawa kemana anggaran sekitar Rp 6,2 triliun per tahun saja agak susah, makanya belum memikirkan masalah hilirisasi pertanian ini," ungkap Wakil Ketua BPP HIPMI ini.

Bobby mengungkapkan, keberhasilan pemimpin dalam menggunakan anggaran harus dilihat dari langkahnya menggunakannya dalam satu periode, bukan satu tahun saja. Karena pemimpin dipilih per lima tahun.

"Jadi anggaran kepemimpinan atau anggaran pembangunan dan segala macam, hitungannya harus satu periode, gak bisa dipotong per tahun," tandasnya. (*)

Bagikan Gratis :


Loading...

Tidak ada komentar