Nigeria Lockdown Ketat! 18 Warga Tewas Ditangan Aparat, 11 Karena Corona


Aparat keamanan di Nigeria telah menewaskan 18 orang dalam penindakan terkait karantina wilayah (lockdown) untuk mengantisipasi wabah virus corona (Covid-19) di negeri itu.

Ironisnya, jumlah korban jiwa akibat kekerasan aparat itu lebih tinggi daripada jumlah pasien yang meninggal karena infeksi Covid-19 di Nigeria sejauh ini, menurut laporan lembaga HAM setempat.

Sebagai negara terpadat di Afrika, Nigeria telah memberlakukan lockdown total di Kota Metropolitan Lagos dan Ibu Kota Abuja. Pemerintah di sana juga menetapkan pembatasan yang ketat di wilayah lain dalam upaya untuk menahan laju persebaran virus asal China itu.

Menurut angka resmi sejauh ini, virus corona telah menginfeksi 407 orang di Nigeria. Sebanyak 12 di antaranya meninggal dunia.

Pasukan keamanan, termasuk polisi dan tentara, telah dikerahkan untuk menegakkan pembatasan sosial di negara itu. Kebijakan tersebut memicu bentrokan antara aparat dan masyarakat yang berujung kematian di beberapa negara bagian di Nigeria.

Dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu (15/4/2020) malam, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Nigeria mengaku telah menerima dan mendokumentasikan 105 pengaduan tentang insiden pelanggaran HAM yang melibatkan pasukan keamanan di 24 dari 36 negara bagian Nigeria dan Kota Abuja.

“Ada 8 insiden terdokumentasi tentang pembunuhan di luar proses hukum yang menyebabkan 18 kematian,” ungkap Komnas HAM Nigeria dalam laporannya yang dikutip AFP, Kamis (16/4/2020).

Lembaga itu juga mencatat, jumlah kasus pembunuhan oleh aparat keamanan selama lockdown di Nigeria lebih tinggi dari jumlah warga yang terkonfirmasi mengidap Covid-19.

“Covid-19 sejauh ini menyebabkan 11 korban meninggal dunia. Aparat malah mengeksekusi di luar hukum 18 orang dengan dalih penegakan hukum,” kata lembaga itu.

Komnas HAM Nigeria menuduh aparat keamanan menggunakan kekuatan yang berlebihan atau tidak proporsional. Lembaga itu juga melihat kecenderunga penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan ketidakpatuhan polisi terhadap hukum nasional dan internasional.

Merespons tudingan Komnas HAM, Juru Bicara Kepolisian Nigeria, Frank Mba mengatakan, lembaga itu terlalu menggeneralisasi tuduhannya terhadap aparat negara. Dia pun meminta Komnas HAM agar lebih spesifik alias perinci dalam melaporkan informasi terkait korban yang memang betul-betul tewas di tangan polisi.

“Komisi seharusnya memberikan perincian tentang mereka yang terbunuh oleh polisi, jumlah mereka, nama, dan tempat-tempat di mana mereka dibunuh untuk memungkinkan kami mengambil tindakan yang sesuai,” katanya kepada AFP.

Dia menuturkan, polisi akan terus menegakkan tindakan terkait kebijakan lockdown secara profesional dan sejalan dengan praktik terbaik internasional. (ins)

Bagikan Gratis :


Loading...

Tidak ada komentar