Setelah Jumpai Hotman Paris, Polisi Kerahkan Polwan Terbaik Ungkap Kematian Ahmad Yusuf Gozali


Orangtua Ahmad Yusug Gozali, balita  yang tewas mengenaskan di Samarinda, mendatangi pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.

Keluarga menyakini kematian putranya janggal.

"Agenda kita di sini (Jakarta) mendatangi pengacara ternama di Tanah Air yaitu Hotman Paris Hutapea dan mengunjungi Markas Besar (Mabes) Polri," ungkap Bambang, ayahnYusuf.

Hotman Paris disebut-sebut bakal memberi dukungan bagi pengungkapan kasus anaknya.

Tak hanya bertemu Hotman saja. Rencananya keluarga juga bakal menyuarakan persoalan ini ke Presiden Joko Widodo.

Disinggung mengenai proses aduannya ke Presiden. Bambang menuturkan seluruh gerakan mencari keadilan ini dipercayakan kepada kuasa hukum dan timnya.

"Rencananya semua akan kami datangi. Termasuk ke Istana Negara. Tapi itu semua tim kami yang mengurus.

Belum ada koordinasi ini dengan tim saya. Yang jelas, kami gerak semua disini (Jakarta) dan ada juga yang bergerak di Kaltim. Nanti saya kasih tau kembali perkembangannya," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus penemuan balita tanpa kepala di Samarinda masih bergulir.

Baru-baru ini keluarga dan tim kuasa hukum almarhum Yusuf Achmad Ghazali (4) mengklaim kantongi bukti baru.

Namun, mereka enggan beber alat bukti yang dimaksud. Orang tua dan kuasa hukum bakal menyampaikan temuan bukti ini ke pihak penyidik.

Hal ini diungkapkan orang tua Bambang Sulisto dan Melisari didampingi kuasa hukumnya saat gelar jumpa pers di kedai Mawar baru-baru ini.

Langsung Ditangani Polwan Terbaik


Dalam waktu dekat, jenazah Yusuf Ahmad Ghazali, balita yang tewas dengan kondisi mengenaskan di anak sungai Jalan Pangeran Antasari Desember 2019 silam bakal kembali di autopsi untuk kedua kalinya.

Spesialis forensic (SPF) Kombes Pol S Hastry dari Mabes Polri yang siap melakukan autopsi tersebut. Polwan ahli forensik pertama di Asia tersebut menurut rencana tiba Senin (17/2/2020) hari ini di Samarinda dan Selasa (18/2/2020) besok langsung melakukan autopsi.

Hal ini diungkapkan Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Arif Budiman Senin (17/2/2020) siang tadi dalam konfrensi pers bersama awak media.

Autopsi dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian balita malang tersebut kendati pihak forensik RSUD A.W.Sjahranie dr Kristina Uli Gultom mengatakan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kemerasan, pada balita tersebut.

"Autopsi dilakukan karena keinginan keluarga dan juga kepolisian dalam mengungkap penyebab kematian balita tersebut," kata Arif.

Dari hasil penyelidikan kepolisian saat ini, balita ini hanyut di parit lebar kurang dua meter, hingga ditemukan 16 hari kemudian.

"Faktanya memang balita itu hanyut saat tenggelam di parit dan dari dokter forensik menyatakan tidak ada unsur-unsur kekerasan," sebutnya.

Dokter Forensik yang Sering Berkomunikasi dengan Arwah


Kombes Dr dr Sumy Hastry Purwanti SpF DFM merupakan dokter forensik perempuan pertama di kepolisian dan telah bertugas belasan tahun di Polri. Tugas besar pertama yang diembannya adalah mengidentifikasi jenazah korban Bom Bali I. Bom besar pertama mengguncang Bali pada 12 Oktober 2002 dan merenggut 202 nyawa. Sebagian besar korban adalah warga negara asing.

Sumy Hastry berkisah, sejak awal tak pernah takut menjalankan tugasnya: memeriksa mayat, membedah, dan menutupnya kembali meski hanya seorang diri di ruang mayat.

"Tidak ada (rasa takut), langsung aja, ya saya pikir itu suatu tantangan saya periksa, saya buka, tutup lagi, saya awetkan jenazahnya, saya mandikan, saya kafani, itu semua saya kerjakan sendiri. Itu sudah biasa," ujar Hastry.

Bahkan, ungkap dokter yang menetap di Semarang ini, tak jarang dia mengajak bicara jenazah yang sedang dibedahnya.

 "Sering terjadi, kadang saya ajak bicara kadang nggak jelas gitu. Terkunci di kamar jenazah sering, tertidur di sebelah jenazah juga sering, tapi saya sudah biasa," ujar Hastry yang mengaku sering mendapat firasat akan menangani kasus-kasus besar.

Tak jarang dalam mengidentifikasi jenazah dengan kasus sulit, Hastry didatangi dalam mimpi oleh arwah jenazah yang sedang ditangani tersebut. 

"Sering dikasi petunjuk, misalnya dia datang dalam mimpi saya. Misalnya, jenazah wanita yang tidak diketahui identitasnya, penyidik kesulitan ungkap kasus itu, nah malamnya saya mimpiin, 'saya punya anak di sini, saya kerja di sini', terus informasi itu saya kasih ke penyidik, penyidik langsung melacak dan oh ternyata betul," ungkap Hastry.

Dari petunjuk dalam mimpi-mimpi Hastry itulah, penyidik kepolisian banyak berhasil mengungkap kasus-kasus jenazah yang sulit teridentifikasi. (trb/lip/bbs)

Bagikan Gratis :


Loading...