Header Ads

Masyarakatnya Tidak Ramah dan Kasar, KDT Mustahil Jadi Monaco Of Asia



Sikap dan perilaku masyarakat di kawasan Danau Toba yang tidak menampilkan keramahtamahan (friendly) dan cenderung kasar terhadap para wisatawan membuat anggota Dewan Perwakilan Daerah RI, Badikenita Sitepu, pesimis kawasan pariwisata Danau Toba akan bisa menjelma menjadi "Monaco of Asia".

Ditambah tata cara pelaku usaha pariwisata melayani tamu-tamu (turis), pesimisme itu tambah menguat.

Badikenita yang juga seorang pengusaha membandingkan bagaimana buruknya sambutan pelayanan hotel di kawasan Danau Toba dengan di Bali. Satu ketika saat berada di Balige dia bermaksud menginap di hotel. Jauh dari sikap ramah dan santun, yang didapatkannya malah sikap "kasar".

"Ada apa?" katanya menirukan pelayan pria hotel pertama kali menyambutnya.

Hal itu disampaikan Badikenita di hadapan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Sumatra Utara (FEB USU), Ramli, para dosen, alumni serta ratusan mahasiswa, pada Seminar Ilmiah Tantangan dan Peluang Bisnis di Era Revolusi Industri 4.0, sekaitan Dies Natalis ke-58 Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU, Sabtu (23/11/2019), di Kampus USU, Padang Bulan, Medan. Bersamanya juga tampil berbicara Ketua Satgas Wirausaha Investasi Otoritas Jasa Keuangan, Tongom Lumbantobing.

Normalnya, ungkap Badikenita, seharusnya sapaan ramah, seperti selamat pagi, siang, sore atau malam yang diterimanya. Bukan sambutan kasar yang bisa membuat siapa saja tak betah.

Berdasarkan pengalamannya sebagai komisaris salah satu hotel bintang lima di Bali, Badikenita menyatakan, berkat sikap ramah warga dan pelaku usaha sektor pariwisata di Bali, tingkat hunian hotel mencapai 99%. Para turis asing setiap harinya menghabiskan uang US$ 100. Secara langsung atau tidak seluruh masyarakat mendapat untung.

"Boro-boro Danau Toba jadi Montecarlo (Monaco of Asia)," ujarnya pesimis.

Kekecewaan serupa terhadap sikap tidak ramah warga kawasan Danau Toba juga dijelaskan Tongam. Di Tomok yang berada di Pulau Samosir dia pernah menyaksikan wisatawan diomeli pedagang souvenir. Karena batal membeli barang yang ditawarkan.

"Macam mana ini, sudah dipegangi, dibolak-balik, satu pun tak ada yang dibeli," papar Tongom menirukan ungkapan marah si pedagang.

Badikenita dan Tongom sangat berharap kepada para stakeholder pariwisata di kawasan Danau Toba, khususnya masyarakat dan pelaku usaha, mengubah mindsetnya menjadi lebih ramah dan menahan emosi ketika menyambut wisatawan. Agar tercipta kenyamanan yang membuat para turis betah. (mbz)



Loading...

Tidak ada komentar