Header Ads

Hiii... Lintah Danau Toba Masuk ke Hidung Turis, Nggak Bisa Ditarik, Akhirnya...


Lintah di Danau Toba. (foto : ist) 

Prof Bungaran Antonius Simanjuntak (BAS) menceritakan pengalamannya tentang betapa tercemarnya air Danau Toba dan rusaknya ekosistem di kawasan pendukungnya.

Kisahnya itu ia ceritakan saat menghadiri diskusi publik "Menagih Janji Pemerintah Menutup Perusahaan Perusak Danau Toba" yang digelar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Medan, di Aula PKM, Jalan Iskandar Muda, No 107 A, Medan, Kamis sore (8/8/2019).

"Saya punya teman orang Amerika. Satu kali ia mandi ke danau dan tiba-tiba lintah sudah ada di lubang hidungnya," kata BAS membuka cerita.

Sialnya, sambung BAS, waktu kami bawa ke rumah sakit, lintah itu tidak bisa diambil. Jika dipaksa ditarik keluar, bisa-bisa lintahnya putus. Dan sebagian yang tetap tinggal tetap akan hidup dan bisa saja berkembang biak. Lalu, sambung antropolog ini, kami teringat dengan ramuan tradisional yakni menggunakan tembakau. Setelah kami coba, lintah itu pun keluar.

"Saya bilang pada teman itu, jangan kau ceritakan atau kau tuliskan pengalaman ini, nanti enggak ada yang mau datang ke Danau Toba ini," kata BAS.

Penulis buku "Pikiran Kritis untuk Rakyat Indonesia : Pengaduan Kepada Bung Karno dan Ompui Nommensen" ini mengaku, sudah 37 tahun ia melakukan perlawanan terhadap perusahaan perusak lingkungan di KDT. Namun ia tetap mengabarkan keindahan Danau Toba ke dunia luar.

"Tapi sekarang tak bisa. Dunia sudah tahu kerusakan KDT. Anehnya perusahaan perusak itu masih saja beroperasi. Saya berterima kasih pada adik-adik mahasiswa GMKI Medan, yang masih perduli. Tapi kalian juga harus menambah terus wawasan kalian soal itu," kata BAS yang belum lama ini mendapat penghargaan Pande Ugari dari Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak. (mbz)



Loading...

Tidak ada komentar