Breaking

Minggu, 28 Juli 2019

[Lipsus Gabungan] Terlampau Sadis! Begini Perlakuan Polisi Terhadap Anak-anak yang Ditahan Saat Rusuh di Bawaslu


Nana dan suami terlihat panik saat mendatangi sejumlah rumah sakit, Kantor Polsek dan Polres Jakarta Barat, hingga ke direktorat kriminal umum dan narkoba Polda Metro Jaya. Akhirnya mereka menemukan anaknya ditahan di bawah wewenang Subdirektorat Reserse Brigade Mobil Polda Metro.

 Andika, berusia 16 tahun dengan muka bengep dan tubuh lebam-membiru, berada satu ruangan dengan orang-orang dewasa, yang dikumpulkan dan dituduh polisi sebagai “perusuh” dalam aksi Bawaslu, 21-22 Mei.

“Saya sampai enggak mengenali anak saya sendiri,” kata Nana kepada Tirto, CNNIndonesia TV, dan Jaring.id yang melakukan kolaborasi untuk liputan ini.

“Hidungnya berdarah. Di kepalanya, darahnya ngucur.”

Ada luka seperti bekas pecutan di bagian belakang tubuh Andika. Nana mendekap erat putranya. Andika memohon maaf berkali-kali, meminta ibunya tak lekas pulang.

Dua hari kemudian, masih dengan luka segar di tubuhnya, Andika “dititipkan” oleh Bripka Maruli dari petugas Unit 2 Reserse Brimob Polda Metro ke Balai Rehabilitasi Sosial Anak Handayani. Panti di bilangan Bambu Apus, Jakarta Timur, ini menampung anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus.

Di Panti itu juga ada Dimas, 14 tahun, yang diancam disetrum oleh polisi; Heru, 17 tahun, yang pinggangnya nyeri dan lecet akibat ditangkap dengan diseret di aspal oleh polisi; Rudi, 17 tahun, yang terluka di ubun-ubun kepalanya; dan Tama, 17 tahun, yang pinggang kanannya terluka akibat peluru karet.

Jejak Kekerasan


Panti Handayani menampung sedikitnya 62 anak—artinya berusia di bawah 18 tahun—yang “dititipkan” dari Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Barat; dua institusi kepolisian Indonesia yang menangani ratusan orang yang ditangkap setelah aksi di Gedung Bawaslu berakhir bentrok dengan polisi usai KPU mengumumkan hasil Pilpres 2019 dimenangkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Bentrokan pada Selasa dini hari hingga Kamis pagi, 21-23 Mei, itu berbuntut 9 orang tewas, tiga di antaranya anak-anak.

Ada 893 orang luka-luka. Sekitar 257 orang ditetapkan tersangka dan dituding polisi sebagai “perusuh”.

Ratusan orang yang terluka, atau mereka yang tewas atau meninggal dalam perawatan, dilarikan ke 11 rumah sakit, paling banyak di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan yang menangani 196 pasien dan RS Budi Kemuliaan yang merawat 187 pasien.

Dari jumlah itu, ada 87 orang terkena luka tembak (tidak dijelaskan apakah oleh peluru tajam atau peluru karet); 35 orang di antaranya mengalami trauma berat; 19 di antaranya masih anak-anak.

Kolaborasi Tirto, CNNIndonesia TV, dan Jaring.id mendatangi Panti Handayani dan bertemu tujuh anak yang diduga kuat mengalami penyiksaan oleh polisi.

Didampingi petugas di Handayani dan Lembaga Bantuan Hukum Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (LBH PAHAM), kami menggali cerita mereka selama dua hari dan menguatkannya dengan beberapa foto yang merekam bekas luka di tubuh mereka.

Andika, yang ditemui orangtuanya di Polda Metro Jaya, berkata ia diseret oleh dua polisi tanpa seragam di dekat Rusun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lalu dibawa ke Gedung Bawaslu di bilangan Thamrin.

Di lokasi terakhir itu polisi-polisi memukulnya—”ada lebih dari 20 polisi”—dengan tangan kosong, pentungan, gagang senjata laras panjang, hingga ditendang dengan sepatu laras.

“Sampai Polda [Metro], digebukin dulu di lantai pertama,” katanya. Setelahnya, ia dibawa ke Ruang Unit 2 Reserse Brimob untuk diperiksa. Di sini ia dipukuli lagi.

Rudi, yang menjadi korban penangkapan paksa, diciduk selagi menonton bentrokan di dekat kedai Starbucks di Skyline Building, sekitar 400 meter dari Gedung Bawaslu. Ia merasa aman karena melihat ada banyak satpam di sekitarnya.

Namun, polisi merangsek mendekati lokasinya. Ia diseret ke areal Gedung Bawaslu. Di situ ia dipukuli oleh para polisi. Bajunya dicopot paksa hingga robek.

Rudi masih menerima kekerasan dari polisi yang melintasinya, lalu personel lain melakukan hal serupa, dan personel lain berbuat hal sama. Tujuannya terlihat main-main tapi menyakitkan. Mereka mendatangi Rudi dan menggebukinya.

“Di matanya, kepalanya, bibirnya,” ujar seorang pekerja sosial di Panti Handayani menerangkan jejak luka yang dialami Rudi. “Hampir semua [badan].”

Heru menahan nyeri saat diinterogasi di ruangan Polda Metro Jaya. Dadanya ditendang dan dipukul berulangkali. Ia tak kuasa melawan karena melihat korban lain berani menjawab “malah parah dipukulinya.”

“Jadi saya diam saja,” kata Heru.

Ia disuruh mengepel lantai Reserse Brimob Polda Metro, lalu pergi ke kamar mandi. Di situ ia muntah darah.

Tubuh Dimas gemetar saat proses interogasi. Seorang polisi menyorongkan ujung kabel putih ke arahnya. Pangkal kabel itu dicolokkan ke arus listrik. Ia diancam akan disetrum. Ia berjalan jongkok. Ditendang. Dipukuli.

“Kepala digetok pakai HP tebal,” katanya.

Tama, juga korban penangkapan paksa, dibawa ke Polsek Metro Gambir. Ia direndam di kolam ikan bersama sekitar 30 orang lain selama empat jam. Ketika dibawa ke dalam sel, karena tak kuasa lagi menahan sakit, ia memperlihatkan pinggang kanannya yang terluka peluru karet.

Bukannya menuai iba, seorang polisi malah menendang luka itu. (Kapolsek Metro Gambir AKBP Yohanes membantah ada tindak kekerasan tersebut saat dikonfirmasi oleh kami.)

Sumber : Tirto









loading...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar