News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pelaporan Dugaan Korupsi DAK Bupati Langkat "Dibola", Kajati Diduga Main Mata

Pelaporan Dugaan Korupsi DAK Bupati Langkat "Dibola", Kajati Diduga Main Mata

 


Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Langkat, (GEMPALA), kembali beraksi di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Rabu (10/03/2021).


Kali ini, puluhan aktivis mahasiswa tersebut dengan membawa bendera merah putih dan spanduk bertulikan "Kami Mendesak Kejatisu Untuk Segera Memproses Pelaporan Gempala" mengungkapkan rasa kekecewaannya atas sikap Kejatisu yang seolah mempermainkan pelaporan dugaan korupsi Bupati Langkat yang telah mereka laporkan sejak bulan lalu.


Dalam orasinya yang dilakukan secara bergantian, Gempala menuding jika pihak Kejatisu diduga sudah "main mata" dengan pihak Bupati Langkat selaku pihak terlapor.


"Hari ini kami datang kembali ke Kejatisu untuk mempertegas pergerakan kami terkait pemberantasan korupsi yang terjadi di Kab.Lngkat yang merugikan keuangan negara. Hari ini kami kembali datang untuk mempertanyakan  proses pengaduan yang dilayangkan oleh Gempala beberapa bulan yang lalu. Gempala juga sudah beberapa kali mempertanyakan perkembangan laporan pengaduan secara lisan maupun tulisan(surat resmi). Kami datang  beberapa kali setelah mengirimkan surat secara resmi ke Kejatisu, kami pun diberikan jawaban yang berbelit belit/sejuta alasan  dari pihak Kejatisu.

Hari ini kami melihat bahwasannya Kejatisu tidak serius dalam meperoses laporan kami. Apalagi, jelas tertulis bahwa setiap laporan yang berbau korupsi wajib di proses. Namun sampai sejauh ini kami belum mendengar sejauh mana laporan kami," teriak Koordinator aksi Gempala, Kokoh Aprianta Bangun, sembari menggoyang pintu  gerbang Kejatisu.


Kokoh maparkan, jika mahasiswa merupakan bagian dari aset bangsa, mereka meminta dan mendesak Kejatisu untuk tidak bermain-main dalam masalah kasus-kasus korupsi.


"Aneh, salah satu pegawai Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara yang tidak ingin disebut kan namanya, dia mengatakan jika laporan pengaduan yang kami laporkan telah dilimpahkan ke Kejari Langkat. 


Namun, tambah Kokoh, kami sebagai pelapor belum juga medapatkan surat balasan secara resmi dari Kejatisu atau surat tebusan pemberitahuan jika memang bener pelaporan Gempala telah dilimpahkan ke Kejari Langkat.


"Seharusnya, Kejatisu memberikaan surat resmi kepada pelapor (Gempala). Gempala juga mentaati peraturan secara administrai, kenapa Kejatisu yang seharusnya sebagai benteng untuk pemberantasan tindak pidana korupsi hari ini tidak mentaati peraturan secara administrasi yang baik dan benar. Ada apa dengan Kejatisu hingga engan memperoses lapporan kami? Apakah Kejatisu bermain mata dengan Bupati Langkat selaku terlapor, sehingga enggan memperosesnya. Kami juga sudah mengirimkan surat resmi ke Komisi Kejaksaan dan Kejaksaan Agung RI. Sedangkan pelaporan kami sudah jelas terkait DAK (Dana Alokasi Khusus) yang diduga diselewengkan Bupati Langkat, tapi tidak juga di jadikan landasan oleh Kejatisu untuk memproses laporan kami," ujar Kokoh.


Itu artinya, lanjut Kokoh, selaku pihak pelapor, kami berhak menduga kalau disini ada permainan yang dilakukan oleh Kejatisu dan juga Bupati Langkat.


"Kami Gempala tidak akan berhenti menyuarakan kebenaran untuk membuat Kabupaten Langkat bersih tanpa korupsi. Kalau hari ini Kejatisu masih bermain mata dengan Bupati Langkat, maka kami GEMPALA akan terus melakukan aksi sampai ke Kejaksaan Agung, bahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," tandas Kokoh.


Awalnya, saat para orator GEMPALA menyampaikan tuntutannya bergantian, tidak seorangpun pemimpin dan petinggi Kejatisu yang menemui para pendemo.


Namun, setelah pintu gerbang gedung Kejatisu digoyang-goyang, tidak berselang lama staf Kejatisu, JP Lumban Batu, menemui mahasiswa.


Menurut JP Lumban Batu, pihak Kejatisu bukan mengabaikan pelaporan dari GEMPALA.


"Tapi kami lagi mempelajari pelaporan yang disampaikan GEMPALA ke kami," ujar JP Lumban Batu.


Aksi GEMPALA tersebut berlangsung 1 jam dikawal oleh polisi dari Polrestabes Medan dengan tetap mematuhi protokoler kesehatan.(Rudi)

Tags

Posting Komentar