Tak Percaya Dengan Polres Langkat, Fikri Laporkan Penganiayaan Dirinya ke Poldasu



Ahmad Zulfahmi Fikri resmi melapor ke Polda Sumut terkait penganiayaan oleh OTK, terhadap dirinya, dengan Nomor :STPL / 347/11/2021/SUMUT/SPKT ‘I’ pada Senin,(15/02/2021) sekitar pukul 20:00 WIB.


Pelaporan yang dilakukan Ketua Aliansi Pemuda Langkat, ( ASPAL ) Ahmad Zulfahmi Fikri (23th), warga Desa Besilam Babussalam, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, yang notabene merupakan seorang mahasiswa UINSU dan Aktivis Kabupaten Langkat ini terkait dengan penganiayaan yang dialiminya oleh dua orang preman yang belum diketahui identitasnya pasca mengukuti kegiatan audensi dengan Bupati Langkat, Senin (15/02/2021) sekitar pukul 11.30 WIB.


Didampingi kuasa hukumnya, Muhammad Iqbal Zikri, SH dan rekan-rekannya dari Aliansi Pemuda Langkat,(ASPAL), meminta pihak Kepolisian, khususnya Poldasu agar dapat mengusut tuntas kasus penganiayaan dan pengeroyokan serta menangkap pihak-pihak yang diduga sebagai aktor intelektual dibalik kasus ini.


Hal ini dikatakan oleh Kuasa hukumnya, Muhammad Iqbal Zikri, kepada wartawan bahwa, apa yang dialami oleh Kliennya, bukan hanya semata-mata tindak pidana penganiayaan oleh dua orang pelaku yang tak dikenal.


"Namun, kuat dugaan adanya upaya dari otoritas untuk membungkam aktivis yang juga sebagai kontrol sosial dan corong demokrasi,” sebut Iqbal Zikri.


Ditambahkannya, bukan tidak beralasan permasalahan ini terjadi karena kuat dugaan setelah kliennya diterima audensi oleh Bupati Langkat, Terbit Rencana PA, terkait permasalahan yang hancurnya sarana dan prasarana jalan di wilayah Langkat sehingga jadi tranding topik Kabupaten Langkat Sejuta Lubang yang digaungkan Fikri beserta rekan-rekannya sesama aktivis, ungkap Iqbal Zikri lagi.


“Harapan kami pihak Polda Sumut, dapat menindak lanjuti kasus ini, dan mengungkap, membongkar aktor/dalang yang diduga menyuruh kedua OTK pelaku penganiayaan terhadap klien kami, agar kedepannya tidak lagi terjadi penzoliman aktivis aktivis Mahasiswa khususnya di Kabupaten Langkat," ucapnya.


Saat ditanya kenapa tidak melaporkan brutalnya tindakan premanisme penganiayaan yang dialami Fikri ke Polres Langkat, M.Iqbal mengatakan pelaporan ke Poldasu yang dilakukan Fikri karena dirinya sudah tidak percaya lagi dengan Polres Langkat.


"Klien saya mengatakan bahwa dirinya tidak percaya dengan kinerja Polres Langkat karena diduga adanya pengaruh kepentingan terkait kekuasaan penguasa Langkat. Jadi klien meminta untuk melaporkan peristiwa aksi premanisme penganiayaan yang dialaminya ke Poldasu," jelas Iqbal.


Sebagaimana diketahui, peristiwa penganiayaan ini bermula terjadi pada Senin,(15/02/2021) sekitar siang pukul 13:00 WIB, saat itu kliennya bersama temannya baru saja sampai di Cafe Lajor Kopi, di Jalan Sudirman Stabat, usai mengikuti audensi dari kantor Bupati Langkat, terkait persoalan sejuta lobang sarana jalan yang kerap disoroti oleh Kliennya.


 Audensi tersebut bisa berlangsung karena difasilitasi oleh Anggota DPRD Provsu, Zainudin Purba yang merasa terpanggil untuk mengajak dialog Tokoh Pemuda sekaligus Aktivis ASPAL yang akrab dipanggil Fikri ini bersama Bupati dan Dinas terkait.


Audensi yang dihadiri Bupati Langkat, Terbit Rencana PA, Wakil Bupati Langkat Syah Afandin, Sekda Langkat dr.Indra Salahuddin, Kadis PUPR Subiyanto, Kadis Kominfo H.Syahmadi, sejumlah staf ahli, nggota DPRD Provsu, Zainudin Purba, dan Ketua Satgas Pemuda Marga Silema (PMS) Langkat Edi Bahagia, berlangsung aman.


Dalam audensi itu, banyak dibahas Bupati yang minta agar Fikri dan kawan-kawan jangan hanya mengkritisi masalah jalan dan pengaspalan. Baik Bupati Terbit Rencana, Zainudin Purba dan Sekda Langkat, bergantian menjelaskan semua permasalahan serta solusi terkait dengan kritikan yang disampaikan Fikri dan rekan-rekan aktivis ASPAL.


Bahkan, Wakil Bupati Langkat, Syah Afandin, sempat mengeluarkan canda untuk mencairkan situasi aidensi. 


Wakil Bupati Langkat, Syah Afandin, mengatakan bahwa pihaknya akan bekerjasama dengan Asosiasi Pemuda Langkat (Aspal) yang selama ini telah menjuluki Kabupaten Langkat Sejuta Lubang.


"Saat ini kalian dengan hanya memakai baju kaus bisa menjumpai Bupati di sini.


"Kebetulan saya hari ini memakai baju batik dan Pak Bupati ini menggunakan baju batik motif kepala Macan. Jadi kalian sekarang sudah masuk ke sarang macan," ujar Wabup yang disambut tawa seluruh peserta audensi, sembari menutup kegiatan audensi tersebut.


Nah, begitu kegiatan usai, Fikri dan rekan-rekannya meninggalkan Kantor Bupati Langkat menuju markas para aktivis di Jln.Perdamaian.


Begitu sampai di cafe kopi tempat para aktivis ASPAL berkumpuk, belum sempat turun, entah bagaimana dua orang tak dikenal dengan memakai masker dan kacamata berwarna hitam dengan mengendarai sepeda motor tanpa plat nomor polisi menghampirinya dan langsung memukuli serta menginjak-injak korban, sembari mengeluarkan kalimat seolah-olah mereka bagian dari pihak Bupati Langkat.


"Jangan kau campuri urusan Bupati Langkat..!" ujar oknum preman yang belum diketahui identitas itu berulang kali.


Setelah menganiaya korban, kedua pelaku dengan memakai masker, kacamata dan helm melarikan diri naik sepeda motor ke arah Simpang Jalan Kantor Bupati Langkat, yang sempat terekam oleh rekan korban dari posisi belakang.


Akibat tindakan aksi premanisme penganiayaan dan pengeroyokan seolah-olah sudah direncanakab tersebut membuat wajah dan tubuh Fikri memar-memar dan luka dibeberapa bagian tubuhnya," tandas M Iqbal Zikri SH di Poldasu usai membuat laporan.


Sementara itu, Ahmad Fikri Aktivis ASPAL yang menjadi korban penganiayaan berencana tersebut juga meminta perlindungan hukum kepada pihak Kepolisian maupun para penegak hukum lainnya agar kedepannya tidak lagi terjadi pada kawan-kawannya khususnya para Mahasiswa yang selalu mengkritisi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.


“Saya dipukuli, kepala saya dipijak, badan saya juga dipijak. Akibatnya beberapa luka dibagian tubuh, dikaki, dipinggang, di lengan, di belakang badan saya juga mengalami luka lebam, pelaku menyatakan saat itu ketika saya dipijak pijak(dengan membabi buta), disaat saya ampun ampun, pelaku bilang “Jangan ikut campur masalah Bupati,” ujarnya.(rud)


Bagikan Gratis :


Loading...

Tidak ada komentar