Polisi dan Militer, Bungkam

Soal Oknum Polantas Dianiaya Pria Cepak

MEDAN-PM

Agaknya, pihak Polantas harus hati-hati jika ingin menilang pelanggar lalu lintas. 2 kasus dalam sepekan, yakni Selasa (10/7) di Helvetia dan Sabtu (14/7), di Jalan B Katamso, cukup menjadi contoh. Bahkan, dalam kasus terakhir, seorang petugas dianiaya hingga berdarah-darah.

Sayang, untuk menelusuri proses perkembangan perkara terakhir, wartawan menemui jalan buntu. Semua pihak, baik kepolisian mau pun kemiliteran, terkesan mengelak dan enggan untuk berkomentar.

POSMETRO akhirnya hanya bisa kembali ke TKP penganiayaan Bripka Junior Lumbantobing. Tepatnya di Pos Polisi Simpang, Jl Brigjen Katamso, Kel Kampung Aur, Medan Maimoon.

Seperti diketahui, oknum Satlantas Polresta Medan ini, dipukul pakai bangku serta helm, lalu dipijak-pijak oleh pria tinggi tegap yang diduga oknum TNI. Peristiwa ini terjadi setelah Bripka Junior menilang pengendara Toyota Yaris lantaran melanggar lampu merah simpang Jl Suprapto menuju Jl B Katamso.

POSMETRO kemarin (15/7) siang menghampiri kembali lokasi kejadian. Tapi tak satu pun anggota Polantas yang melakukan penjagaan di lokasi tersebut. Hanya ada terlihat tenda, meja dan bangku yang sebelumnya kerap digunakan personil Lantas untuk mangkal.

Hanya ada dua petugas lalu lintas yang melakukan penjagaan di Jalan Pandu, simpang Jalan SM Raja. Saat dihampiri, salah seorang personil mengaku mengenal sosok Bripka Junior.

“Baik lah orangnya, pendiam,” katanya membuka pembicaraan. “Kejadian itu berawal adanya sebuah mobil jenis Toyota Yaris yang menerobos lampu merah. Sehingga korban menilangnya. Tak senang ditilang, wanita itu memanggil dua pria berambut cepak tersebut. Masih muda ceweknya,” katanya.

Di Jalan Pandu simpang Jalan SM. Raja tersebut, bukan hanya anggota Satuan Lalu Lintas yang tampak bertugas. Tak seperti biasanya, di situ juga ada anggota dari Satuan Shabara Polresta Medan.

Menurut anggota Sabhara itu pada POSMETRO, mereka memang diperbantukan di lokasi semenjak peristiwa itu terjadi menimpa Bripka Junior. “Mengenai kejadian itu, rupanya korban bukan hanya dipukuli. Pipi kirinya juga ditikam oleh pelaku PAKAI sangkur,” kata pria berkepala plontos itu.

Terpisah, Kapolresta Medan, Kasatlantas serta Kapendam tak kunjung mau menjawab telepon wartawan terkait adanya kasus ini. Hanya telepon genggam Kapolresta Medan, Kombes Pol Monang Situmorang yang menerima. “Maaf pak, ini ajudan. Bapak (kapolresta-red) sedang apel,” kata seorang pria menjelang dini hari kemarin.(eza/jhon)

Share This Post

4 Comments - Komentar Anda

  1. kalo memang langgar peraturan, ya byar tilang aja napa? terkecuali tidak bersalah..tapi tidak perlu andal deking hanya tuk aturan lalu lintas.

    Reply
  2. Emang dasar tentara Indonesia tak ad malunya, hnya nakut2in masyarakat saja tau nya. Bwt rusuh… Sesama abdi negara saja sprti itu tingkah tentara apa lg di masyarakat. Maen rimba….. Seprtinya tantara di indonesia ni hrs di bekali ilmu lg, krena otak dengkul semua tentara indonesia

    Reply
  3. Siapaun orangnya harus turut hukum tak perduli siapapun,kalo begini berarti hukum itu utuk siapa,sehrusnya ada budaya malu,malah aparat melanggar hukum,seharusnya jadi contohh,Di negara mju,rakyat biasa boleh melintas lampu merah,tp klo saya perhatikan bila aparat lampu merah lbih patuh,meski hujan,panas,atau keadaan sepi,tetap patuh peraturan,jadi yg memulai budaya patuh itu adalah aparat,tp sperti ini malah mereka mengajar utk tidak taat,AMBURADUL negaraon

    Reply
  4. kalau TNI cepak,Polisi juga cepak,kenapa rupanya kalau TNI?,beraninya deking cewek,tempatkan aja Brimob beking polantas biar imbang.

    Reply

Post Comment