Dua Polisi Dihukum, Amat dan Edi Diburon


Kasus Bocah Disetrum

 

LANGKAT-PM-Walau awalnya sempat dibantah anggotanya ikut terlibat menganiaya Ardiansyah Putra, belakangan Polres Langkat mengakui.

 

Hal ini terbukti dengan dihukumnya Briptu JG dan Bripka AS yang ikut menganiaya korban.
Keduanya dikenakan hukuman berupa sanksi indisipliner.

 

“Kedua personil kita berikan sanksi tindakan indisipliner. Masing-masing atas tindakannya yakni ada yang menepuk bahu korban dengan tangan dan yang memukulkan buku di kepala korban,” ujar Kapolres Langkat, AKP Mardiyono.

 

Kala itu didampingi Waka Polres Langkat Kompol Robert Kennedy Aritonang dan Kasubbag Humas, AKP J Aruan dan Kasat Binmas AKP Zulkifli ketika berlangsung penerimaan bantuan fasilitas kendaraan dari Polda Sumut yakni 1 unit mobil Ford, 1 unit bus dan 15 sepeda motor Trail di Mapolres Langkat, Kamis (15/9) kepada wartawan.

 

Kedua personi l yang dihukum itu adalah Briptu JG, anggota Sabhara Polres Langkat dan Bripka As, anggota SPK yang saat kejadian sedang piket (jaga). Namun Mardiyono berkata, tindakan penganiayaan berupa penyetruman, sesuai dari hasil pemeriksaan, tidak ada dilakukan. Meski begitu, pihaknya tetap akan menyelidiki dan saat ini fokus mengejar Amat dan Edi Siswanto.

 

Menyikap hal tersebut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indodesia (KPAID) Langkat, Drs Ernis Syafrin, mengaku gembira mendengar kabar telah diketahuinya siapa oknum yang terlibat atau mengetahui anak itu dianiaya. “Dengan diketahuinya siapa oknum petugasnya, mengisyaratkan kalau peristiwa itu memang ada. Artinya bukan direkayasa, apalagi kita banyak mendengar kalimat yang menyebutkan anak itu memang bandel, seolah-olah ada semacam pembenaran atau kewajaran kalau anak itu dipukuli,” jelasnya.

 

“Kalau masalah hukum terhadap oknum yang diduga melakukan perbuatan atau yang seharusnya dapat mencegah terjadinya perbuatan itu, kita serahkan saja kepada pimpinannya. Selain itu, kita juga meminta kepada dua pelaku lagi yang diduga melakukan penganiayaan tersebut segera ditangkap polisi dan mempertanggungjawabkan perbuatanya,” himbau Ernis. (wis/joe)

Share This Post

2 Comments - Komentar Anda

  1. ada..ada aja polisi skrg, tdk ada lg rasa pengayom masyarakat. hanya sebagai simbol doang aja…!
    untuk pak kapolda : tolong di tindak pak anggota bapak yg tdk beres…!

    Reply
  2. polisi ada karena masyarakat , polisi juga berasal dari masyarakat, utk itu lebih banyak lagi mengingat asal usulnya, pangkat dan jabatan bukan segalanya, tapi budi baik akan selalu tumbuh dihati masyarakat, polisi yang bijak adalah selalu mengedepankan hati nurani.bukan kekuatan, saat anda jadi alat ingat bila anda berhenti jadi alat,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Reply

Post Comment