23 Apr 2013

Pemerkosa & Pembakar Boru Manurung Ditangkap di Kampung Durian Medan

Ads by Google

KISARAN-PM

Kecurigaan polisi terhadap Fernando Malau alias Nando (20), sebagai pelaku pemerkosa, pembunuh & pembakar Winda Sari Manurung (18), siswi SMKN 1 Kisaran, terbukti. Tim Satreskrim Polres Asahan berhasil meringkusnya dari lokasi persembunyian di Gang Sepakat, Kampung Durian, Medan, Minggu (21/4) malam pukul 21.00 WIB.

Kapolres Asahan AKBP Yustan Alpiani, bersama Kasat Reskrim AKP Fahrizal, S.Ik, dan Kanit Resum Satreskrim Iptu Triatno Pamungkas, dalam jumpa pers sesaat setelah tersangka diboyong ke Kisaran, Senin (22/4) mengatakan penangkapan tersangka dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam.

Hal itu berkat beberapa petunjuk awal yang diperoleh polisi saat melakukan pemeriksaan terhadap 2 rekan korban, yakni Sri Endang (18) dan Devi br Sihombing (18), pasca penemuan jenazah korban areal perkebunan karet PT BSP Serbangan. “Jadi dalam pengakuan saksi, Sri Endang dan Devi br Sihombing cukup membantu kita untuk mengarahkan kecurigaan kepada tersangka ini,” terang Kapolres.

Menurut mantan Kapolres Dairi ini, dalam kesaksiannya, Sri Endang mengaku mencuriga Nando memiliki hubungan dengan raibnya korban sejak Jumat (19/4) silam. Katanya, kecurigaan itu berawal dari pesan singkat (SMS) yang dikirim dari nomor ponsel korban, ke ponselnya. Jumat (19/4) malam sekitar pukul 21.00 WIB, Sri Endang menerima SMS dari korban yang memintanya untuk menyampaikan kepada orangtuanya, bahwa korban tak akan pulang.

“Saksi curiga, karena tak biasanya dia dipanggil dengan sebutan Endang oleh korban. Kata saksi, hanya Nando lah yang memanggilnya dengan sebutan Endang. Makanya, oleh saksi, sms itu sempat dibalas, namun tak lagi terkirim,” urai Kapolres.

Sedangkan Devi br Sihombing, jelas Kapolres, dalam kesaksiannya mengakui sekitar pukul 18.00 WIB Jumat lalu sempat berpapasan dengan korban yang berboncengan dengan tersangka, di kawasan Jalan Besar Desa Rawang, Kisaran. Namun saat itu karena dia mengenakan helm, Devi yakin, korban dan tersangka tidak melihatnya.

“Nah, berdasarkan kesaksian ini, kecurigaan kita mengarah kepada Nando. Ketepatan saat kita cek dia tak ada di rumahnya. Nah, pihak keluarga juga membantu memberi informasi, bahwa Nando berada di Medan. Selanjutnya, untuk memastikan tersangka tidak lari, kita berkoordinasi dengan pihak Poldasu untuk mengamankannya,” jelas Kapolres diamini Kasat Reskrim.

Mendapat kabar dari Polres Asahan, Subdit III, Unit Jahtanras Polda Sumut dibawah pimpinan AKBP Andry Setiawan langsung bergerak menuju TKP. “Tidak ada perlawanan, itu rumah temannya. Sudah kita serahkan ke Polres Asahan untuk proses lebih lanjut,” terang Kasubdit III Umum, Ditreskrimum Polda Sumut, AKBP Andry Setiawan kepada POSMETRO MEDAN.

AKP Fahrijal, Kasat Reskrim Polres Asahan menambahkan, dari penelusuran yang dilakukan, tersangka Nando sempat berencana akan kabur dari Sumatera Utara. Pasalnya, kepada temannya, pemilik rumah yang sempat dijadikannya tempat persembunyian di Medan, tersangka sempat meminta ditemani mencari tiket pesawat. Namun, belum sempat terlaksana, Siregar, rekannya itu berkoordinasi dengan warga di Desa mereka, yang kemudian melaporkan hal tersebut kepada polisi.

“Berkat koordinasi yang baik antara keluarga korban dengan polisi, pelaku dapat tertangkap. Dan secepatnya, proses hukumnya akan kita rampungkan untuk dibawa ke persidangan,” janji Fahrizal.

Dijelaskan pula oleh Farizal, dalam kasus ini, pihaknya menjerat tersangka dengan pasal berlapis, yakni 340 yo 338 yo 365 yo 385 KUHPidana, dengan ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.

>> Dibakar Setelah Jadi Mayat

Keterangan dr Reinhard Hutahaean selaku dokter forensik usai otopsi jenazah Winda Sari Manurung diketahui, gadis malang itu dibakar setelah dibunuh. Dugaan hendak menghilangkan jejak kekerasan pada tubuh korban. Pembakaran memakai bahan bakar bensin yang disiramkan pada tubuh korban. “Tubuh korban dibakar setelah tak bernyawa karena tidak ada gerakan maupun trauma fisik saat korban melawan jika dia dibakar hidup-hidup,” kata Reinhard.

Selain itu, trauma benda tumpul juga terdapat pada kepala bagian belakang korban. Benda tidak keras seperti saat seseorang memukul menggunakan tangan kosong. Memar pada dada dan punggung. Namun tidak menjadi penyebab kematian korban. Justru korban mati lemas karena sesuatu yang tak bisa disebutkan demi kepentingan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak kepolisian.

Korban jelas dianiaya sebelum menjadi mayat, bahkan kematian sudah 24 jam atau persisnya Jumat (21/4) malam antara pukul 21.00 WIB sampai 23.00 WIB. Lebih ke arah perencanaan karena kematian korban akibat mati lemas, bisa saja dibekap lantas dipukul dan diracun lalu dianiaya. Karena itu, cairan lambung sudah diambil sampelnya untuk selanjutnya dikirim ke laboratorium Poldasu.

Selain itu, ada memar diselangkangan paha korban yang mengarah pada persetubuhan. Sayangnya, kelamin korban sudah dalam proses pembusukan hingga sulit diketahui. “Gadis atau tidak, itu sudah kita beritahu pada keluarga dan penyidik. Karena korbanpun diketahui sudah berpacaran,” kata Reinhard.

Reinhard menambahkan, setelah memeriksa bagian rahim korban diketahui tak hamil.

Sebelumnya, diberitakan POSMETRO MEDAN, bertepatan dengan Hari Kartini pembunuhan sadis terjadi di Kisaran. Korbannya, Winda Sari boru Manurung pelajar kelas XII Jurusan Tata Busana 2, SMKN 1 Kisaran. Korban diperkosa, dibunuh lalu dibakar di areal kebun karet PT BSP, tepatnya di kawasan Mandoran 4, Ancak B, Divisi II Serbangan. Sebelumnya cewek berusia 17 tahun itu dilaporkan menghilang sejak Jumat (19/4).

Dalam hitungan menit, lokasi kejadian diramaikan oleh sejumlah karyawan, dan warga yang penasaran dengan penemuan mayat wanita tersebut. Dari warga pula, akhirnya identitas korban diketahui. “Pas dicek, ada yang kenal. Ternyata, korban anak dari M Manurung (49), dan ibu S br Sitorus (48). Alamatnya di Desa Rawang Baru, tak jauh dari lokasi ini,” tegas Simamora. (sus/ndo/bud)

Artikel terkait :





Berbagi Cerita Disini





fanspage