14 Feb 2013

Copot Kapolres Tanah Karo

Ads by Google

 Lokasi Wisata Berastagi Jadi Sarang Judi

BERASTAGI-PM

Penggerebekan judi Sam Kwan di Villa Bukit Indah, Jl. Mimpin Tua, Desa Sempa Jaya Berastagi, Selasa (11/2) lalu, ‘menampar’ wajah aparat Polres Tanah Karo. Kapolres Tanah Karo AKBP Marcelino Sampouw didesak copot.

Reaksi keras itu datang dari Ketua Pusat Studi Hukum dan Pembaruan Peradilan (Pushpa) Sumut Muslim Muis SH. Menurutnya Kapolres Tanah Karo hanya pura-pura tidak tahu terkait adanya perjudian di wilayah hukumnya.

“Mana mungkin tuan rumah (Polres Tanah Karo) tak tahu ada aktifitas kriminal di daerahnya. Itu bukan tak tahu, tapi pura-pura tak tahu,” tegasnya.

Menurut Muslim, Kapolres Tanah Karo AKBP Marcelino Sampouw harus segera dicopot sementara dari jabatannya. “Harus segera dicopot sembari menunggu proses penyelidikan untuk membuktikan polisi Tanah Karo tahu atau tidak judi itu,” tukas Muslim.

Dikatakannya, apabila terbukti mengetahui aktifitas tersebut, berarti Kapolres Tanah Karo telah melakukan pembiaran. “Kalau terbukti, berarti Kapolresnya sudah melakukan pembiaran (by omition). Itu yang bahaya, itu merupakan pelanggaran berat,” tuturnya. Menurutnya, kawasan wisata di Indonesia belum pernah ada yang dijadikan lokasi judi. “Bali sekali pun tidak pernah dibuat sebagai markas judi, malah disana aturan begitu ketat. Tidak bisa itu,” tegasnya.

Sebelumnya, sepasukan polisi bersenjata lengkap dari Unit 5 Subdit Reskrimum Poldasu, Senin (11/2) sekira pukul 21.30 WIB, mengepung Villa Bukit Indah, Berastagi. Detik berikutnya, petugas berpakaian preman tersebut mendobrak pintu rumah mewah di Blok I-3. Braaak…! 23 pemain judi samkwan, 4 diantaranya wanita, kesemuanya berdarah Tionghoa berhasil dicokok. Anehnya, sang bandar besar berinisial KY malah dibiarkan kabur.

Alhasil, 19 pria diamankan diantaranya, Tjin Hoat alias A Hua dan Kai Suang alias A Guan, berperan sebagai ceker. Sedang 17 pemain masing-masing, Girwin Gotawa alias Winwin, Tjiang Sang alias A Seng, Toni Aristan alias A Guan, Masnasuidi, Tek Huat alias Jimmy, Kai I, A Hiok, Mui Hong, Suwani, Jensen, Goik Cin alias A Cin, Erwan, Heryanto, A Tiam alias Husen, Suandi, L Sianrto alias Kok Sing alias A Sin, Feng Lai serta Jen Like alias A Lai. Sedang 4 wanita yang turut diamankan tak dipaparkan polisi.

Parahnya, Polres Tanah Karo tak mengetahui aksi aparat Poldasu yang patut diacungi jempol itu. Hal itu terkuak saat POSMETRO menghubungi Kanit Reskrim Polsekta Berastagi, Iptu Sihombing. Perwira di jajaran Polres Tanah Karo itu dengan enteng menjawab tidak tahu menahu. “Saya tidak ada melakukan penangkapan, kami pun tidak tahu,” ujar Iptu Sihombing.

Pasca digerebek petugas Poldasu, kemarin (13/2) petugas Polsekta Berastagi baru mulai sibuk turun ke TKP ke Villa yang terletak tak jauh dari Warung Wajit Peceren.

Selain di Vila Bukit Indah, penangkapan sejenis juga pernah berlangsung di vila tak jauh dari TKP. Sekitar tahun 2011, polisi dari Polda Sumut juga menangkap sekitar 21 penjudi, berikut barang bukti uang senilai Rp28 juta rupiah di Vila Manchester, Jalan Mimpin Tua Desa Sempa Jaya Berastagi.

>> Tertutup Rapi

Permaian judi Sam Kwan di Villa Bukit Indah sendiri terbilang rapi dan tertutup. Para pemain yang keseluruhan warga Medan itu bahkan mampu menutup mulut orang-orang di seputaran arena judi.

Saat POSMETRO MEDAN kembali menyambangi Villa yang dijadikan arena judi itu, baik sekuriti dan resepsionis memilih bungkam. Seorang security malah mengaku baru tau ada permaianan judi di lokasi jagaannya setelah polisi mengamankan para pemain.

“Kami saja baru tahu ada penangkapan setelah mendengar ada suara ribut-ribut dari lokasi penggrebekan yang berada tak jauh dari areal lapangan basket. Waktu itu sudah banyak polisi berseragam preman, ditanyainya juga kami, ya kami jawab apa adanya,” ujarnya, Rabu (13/2).

Lantas apakah sekuriti tidak melakukan pemantauan terhadap semua aktifitas yang berlangsung disana? “Kalau di dalam rumah itukan sudah masuk ruang privacy mereka. Kami (sekuriti dan teknisi) hanya datang bila dipanggil. Kalau tidak, mana berani kami masuk, bisa dikomplain nanti,” terang mereka.

Terlebih menurut security tadi, tamu Villa tidak seperti tamu hotel yang tercatat di receptionis. Sementara untuk bookingan tidak semua melalui mereka, karena kebanyakan tamu yang langsung berhubungan dengan pemilik. (nang/ala/bud)



Berbagi Cerita Disini




lazada.co.id