23 Jan 2013

Trauma Bentrok 2002, Warga Binjai Cemas

Ads by Google

Karena bermarkas dekat Kota Binjai dan sebelumnya juga pernah menorehkan sejarah berdarah, peristiwa bentrok pasukan yang dulu bernama ‘Linud Cepek’ itu kontan melayangkan kenangan sekalangan warga Binjai dengan peristiwa berdarah 10 tahun lalu. “Ya kami sangat merasa cemas dengan kejadian itu. Takutnya, kalau tidak cepat diantisipasi, Tragedi Binjai Berdarah (30 September 2002) takutnya terjadi lagi. Soalnya, situasinya sama persis dengan kejadian 10 tahun lalu itu,” kata

Udin (40), warga Kelurahan Rambung, Kecamatan Binjai Selatan.

“Masih kami ingat bagaimana saat itu warga takut terkena peluru nyasar,”  sambung Amir (39), warga Kelurahan Satria, Kecamatan Binjai Kota, yang rumahnya dekat Mapolres Binjai, lokasi peristiwa menyeramkan itu. Senin berdarah itu, 30 September 2002, kawasan Mapolresta Binjai dan Mako Brimobdasu Kompi A Tanah Tinggi Binjai, berubah jadi medan perang. Sepasukan dari Linud 100/PS Namu Sira-sira Kodam I BB baku tembak dengan personel Polresta Binjai/ Polres Langkat yang dibantu anggota Brimobdasu Kompi A Binjai.   Desing peluru membuat ratusan warga Binjai lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Tapi naas dialami Tumpal SA Sidauruk MT (33).

Hasil investigasi LBH Medan menyebut, warga asal Jl. Kertas Pematang Siantar, itu tewas akibat luka tembak. Ya, Sidauruk yang saat itu melintasi Binjai dengan mobil Rocky-nya jadi sasaran peluru nyasar. Mautnya terjadi di Tugu Kota Binjai. Di situ, Sidauruk dihadang sepasukan bersenjata serbu. Dor! Sidauruk tewas di tempat usai timah panas diobral ke kepalanya. Nasib serupa juga dialami Erwin, yang PNS, serta Rusli Mandai (45) sang pengusaha RM di Medan. Rusli, warga Jl. Ismaliyah Medan, itu juga tewas didor di seputaran Tugu Binjai. LBH Medan juga mencatat sejumlah warga yang terluka. Sementara, dari pihak Brimob/ Polresta/Polres Binjai tercatat 4 personil tewas. Keempatnya yakni Iptu Tito Yudha Dharma (Wadanki 3/A),
Briptu Pol. Ilham, Bharada Pol. Herry Kurniawan, dan Bharada Marwin  Pasukan Brimob/ Polresta yang terluka sedikitnya ada 22 orang. Mereka yakni Kombes Drs. Syafei Askal (Dansat Brimobdasu), Iptu Budi Wardiman (Danki 1/A), Briptu Hadi Suprayitno, Briptu Lambok Manullang, Briptu Ilham Harahap, Briptu Eko Riau Santoso, Briptu Doni Siagian, Briptu M. Nur Suhadi, Briptu Robi Supriyatna, Bripda Ronal, Bripda Dariatno Purba, Bripda Suyadi, Bripda Gunawan Widjaya, Bharaka Tarmizi, Bharada Ngationo, Bharada Parada Harahap, Bharatu Sarjono, Bharada Herman, Bharada Poltak Tambunan, Briptu Bobby Hartawan, Bripda Ronald Sitorus, dan harada Bambang Nurdiansyah. Sementara dari pihak Linud 100/PS  ada 3 prajurit yang terluka, yakni Pratu Arben, Pratu Khairul, dan Pratu Chandra.
. Hasil penyelidikan LBH, tragedi berdarah itu berawal dari masalah backing-membacking narkoba. Tapi isu lain menyebut peristiwa itu merupakan klimak dari akumulasi sejumlah masalah, salah satunya soal sengketa kepemilikan hak atas tanah di Jl. A.Yani Binjai. Dua pihak berseteru dalam konflik tanah itu diketahui diback-up oleh oknum aparat dari 2 korps yang saling baku tembak itu. “Jalan-jalan jadi penuh ceceran darah korban tembak. Kota ini pun menjadi seperti kota mati. Orang-orang takut ke luar rumah, listrik dimatikan,” sambung Amir, tak ingin tragedy itu terulang lagi. (bam/sal/deo)



Berbagi Cerita Disini




lazada.co.id