29 Sep 2011

Polisi Langkat & Binjai Diringkus Polres Aceh

ilustrasi
Ads by Google

Terjadi Saat Menganiaya Warga, Ditemukan Bong Sabu dari Mobil

LANGKAT-PM-Personel Polres Langkat dan Polres Binjai diringkus anggota Polres Aceh Timur, Selasa (27/9) dini hari. Penangkapan keduanya disebut-sebut terkait bisnis sabu-sabu. Adalah Aipda MP bertugas di bagian unit Paminal (Pengamanan Internal) Polres Langkat dan Bripka Dy anggota Brimob Detasemen A-Binjai.

Selain mengamankan kedua oknum petugas dari satuan berbeda ini, petugas Polres Aceh Timur juga mengamankan dua warga sipil, Mislaina Bin Zainal Abidin (47) warga Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur yang menjadi korban penganiayaan dan Rus alias Anto alias Aheng warga Kelurahan Bandar Senembah, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai yang dicurigai sebagai bandar narkoba.

Dari mobil tanpa plat yang dikendarai keduanya, ditemukan bong sabu-sabu.

Pasca kabar tak sedap ini, tak seorangpun petinggi di lingkungan Polres Langkat yang mau memberikan keterangan secara resmi saat dikontak. Setiap perwira yang dihubungi POSMETRO MEDAN selalu mengatakan jangan. ”Jangan sayalah yang memberikan keterangan, nanti nggak enak sama Wampu Satu (maksudnya Kapolres Langkat). Lagian kasusnya masih ditangani Polres Aceh Timur, jadi kita nggak tau pasti kasusnya apa. Memang sekilas ada yang bilang kasus sabu, tapi ada juga yang mengatakan terlibat penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang warga,” ungkap seorang perwira yang mewanti-wanti namanya untuk tidak dituliskan.

Bahkan sangkin tertutupnya, Waka Polres Langkat Kompol RK Aritonang yang biasanya ramah membalas atau menjawab panggilan atau SMS wartawan POSMETRO MEDAN, tak mau menjawab pesan yang dilayangkan kepadanya, Rabu (28/9) perihal kasus tersebut.

Orang nomor dua di lingkungan Polres Langkat ini sepertinya malu karena gagal melakukan pembinaan internal. Senada dengan itu, Kapolres Langkat AKBP Mardiyono juga enggan berkomentar perihal ditangkapnya salah seorang anak buahnya ini.

Meskipun belum ada keterangan resmi yang didapat POSMETRO MEDAN dari Kapolres Langkat, namun dari berbagai sumber yang bisa dipercaya menyebutkan kalau penangkapan terhadap Aipda MP dan Bripka Dy berawal dari bisnis sabu-sabu yang digeluti mereka belakangan ini.  ”Kalau Aipda MP dan Bripka Dy itu memang udah target. Kalau tidak ditangkap sama Polres Aceh, mungkin dah diambil sama Poldasu,” bilang sumber POSMETRO MEDAN yang tau mau identitasnya dituliskan karena kenal baik dengan yang bersangkutan.

”Dia itu (Aipda MP-red) sudah berulang kali diingatkan untuk tidak lagi berkecimpung di dunia itu. Memang belakangan dia sempat terlihat berhenti mengunakan sabu-sabu. Waktu itu dia dipindahkan jadi anggota Samapta. Kebetulan Kasatnya saat itu orang pengajian. Mungkin karena sering dikasi pencerahan agama dia berubah. Tapi begitu Kasatnya pindah, dia balik lagi. Kalau nggak, sempat cerah mukaknya dilihat,” ketus petugas ini mengaku tak kaget mendengar kabar perihal ditangkapnya Aipda MP atas kasus tersebut.

Sumber POSMETRO MEDAN lainya menyebutkan tertangkapnya Aipda MP dan Bripka Dy di Aceh Timur berawal dari kepergian mereka ketempat itu bersama dua warga sipil, Senin (27/9) malam. Ceritanya, saat itu Aipda MP mendatangi Bripka Dy. Keduanya bertemu di kawasan Jati Negara-Binjai Utara. Saat bertemu dengan Bripka Dy, Aipda MP mengendarai mobil. Di dalam mobil saat itu ada seorang warga yang kondisinya telah babak belur dan tangan digari, diduga habis dipukuli.

Selain warga tadi, ada seorang warga lagi yang disebut-sebut bernama Aheng. Aheng diduga seorang bandar sabu di Binjai. Disebutkan, pria yang bonyok tadi karena tidak membayar sabu yang telah diambilnya dari Aheng. Disyaki sabu yang dijualkan Aheng ke pria tadi merupakan barang milik Aipda MP. Oleh sebab itulah, Aipda MP minta pertangung jawaban pria itu dan meminta bantuan rekannya Bripka Dy.

Selanjutnya, ditemani Bripka Dy dan Aheng, Aipda MP berencana mendatangi keluarga pria yang belum diketahui namanya itu ke daerah Perlak-Aceh. Tujuannya, Aipda MP akan meminta keluarga pria itu membayarkan utang sabu yang nominal uangnya belum diketahui itu. Namun naas, sebelum misi berhasil, di perjalanan ketika memasuki wilayah hukum NAD, kendaraan yang digunakan Aipda MP dan tiga rekannya tadi terjaring razia.

Saat diperiksa petugas di Aceh, Bripka Dy dan Aipda MP sempat dilepaskan petugas yang razia karena keduanya diketahui Polisi. Namun, belakangan setelah pria yang disekap itu mengaku telah dianiaya oleh keduanya, akhirnya Bripka Dy dan Aipda MP kembali diamankan hingga akhirnya digelandang ke Polres Aceh Utara untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan petugas di sana, tes urin yang dilakukan terhadap, Aipda MP positif mengunakan sabu-sabu. ”Kalau tes urinenya, dianya positif makek sabu,” bilang seorang perwira yang berangkat ke Polres Aceh Timur untuk melakukan pemeriksaan.

”Kita sudah berangkat kesana (Polres Aceh Timur-red), tapi belum diperkenankan untuk bertemu dengan anggota itu. Menurut penyidiknya, mereka masih melakukan pemeriksaan. Kalau pemeriksaan mereka sudah selesai, barulah kita diperbolehkan bertemu. Lagian kita dengar Polda Aceh juga mau memeriksa mereka (Bripka Dy dan Aipda MP). Jadi yang bersangkutan belum bisa ditemui, jadi kita belum tau persis kasus apa yang menjerat anggota itu. Ada yang bilang terkait penyekapan,” ketus perwira dengan pangkat tiga balok di pundaknya seraya menambahkan kalau tes urinenya anggota itu positip mengunakan sabu-sabu.

Dari catatan POSMETRO MEDAN, Aipda MP sempat jadi bahan pergunjingan di kalangan rekan-rekannya di Polres Langkat karena menjadi tangan kanan seorang ‘mafia’ getah dan sawit. Bahkan, petugas yang sempat di BKO kan ke daerah perkebunan Batang Serangan ini, akhirnya lebih memilih membela mafia itu ketimbang menyelamatkan aset negara ini. (wis/fit/bud)

Kapolres Aceh Timur : Terkait Peredaran Narkoba

Kapolres Aceh Timur AKBP Ridwan Usman yang dikonfirmasi Harian Metro Aceh (Group POSMETRO MEDAN) menyatakan penangkapan awalnya dikarenakan korban teriak saat petugas Polres Aceh Timur mendekati mobil tanpa plat yang dikendarai dua oknum polisi Poldasu.

Setelah dicek, ditemukan bong sabu.

Ridwan menyatakan korban asal Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur mengalami luka-luka saat ditemukan dalam mobil pribadi, jenis Toyota Avanza warna hitam tak berplat di TKP di depan salah satu SPBU kawasan Peureulak Kota pukul 02.30 WIB.

“Kasus penganiayaan awalnya terungkap, saat personil kita dari Mapolres Aceh Timur, melakukan patroli rutin. Mereka melihat ada satu unit mobil Avanza warna hitam tak bernopol, terpakir di pinggir jalan. Karena kacanya gelap dan tak ada plat, mengundang kecurigaan dan mendekat. Namun ketika hampir sampai, terdengar suara rintihan dan jeritan orang minta tolong. Belakangan diketahui sedang dalam penganiayaan,” sebut Ridwan Usman.
Meski demikian, ternyata pelaku tak mau turun malah mencoba kabur kearah timur. Polisi yang melepas tembakan peringatan ke udara tak digubris.

Akhirnya personil kita menghubungi Mapolsek Peureulak Timur, untuk mencegat Avanza. Selanjutnya berhasil distop dan seluruh penumpang diringkus, termasuk dua oknum polisi Polda Sumut,” ujar AKBP Ridwan Usman.
Kata Kapolres, Mobil Avanza tak bernopol itu diduga dari Medan, kemudian menuju Kuala Simpang dan terus ke Kota Langsa.

“Belum kita ketahui pasti motif penganiayaan tersebut. Namun pemeriksaan awal terindikasi ada kaitan dengan peredaran Narkoba, karena temuan bong sabu di dalam Avanza itu. Sedangkan seluruh barang bukti sudah sita, korban juga telah melakukan visum,” demikian tegas Kapolres Aceh Timur AKBP Ridwan Usman. (metroaceh/jpnn/bud)



Berbagi Cerita Disini




bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

lazada.co.id