23 Nov 2012

Massa PP & PKPPI Nyaris Bentrok

Ads by Google

 Sidang Pembacokan Kader PP di PN Pakam Mencekam

MEDAN

Sidang lanjutan kasus pembacokan dua kader Pemuda Pancasila (PP) di Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam, Kamis (22/11) siang, jauh lebih mencekam dibanding sidang-sidang sebelumnya. Ratusan massa beratribut FKPPI yang turun mendukung para terdakwa memancing kemarahan ratusan massa PP dan Aliansi Masyarakat Pecinta Otomotif (AMPO).

Sejak pagi sebelum sidang digelar, massa beratribut FKPPI yang datang menggunakan dua Bus Sutra (Sumatera Transport) dan belasan mobil lainnya sudah memadati Gedung PN Lubuk Pakam. Mereka tampak bersiaga menggenggam batu dan beberapa diantaranya mempersenjatai diri dengan kelewang.

Puluhan personel Polres Deli Serdang memang berada di lokasi. Namun, mereka tidak memblokir Gedung PN Lubuk Pakam. Sehingga, ratusan massa beratribut FKPPI tersebut dengan leluasa mengisi setiap sudut gedung. Bahkan, sebagian dari mereka membentuk pagar betis di gerbang masuk PN Lubuk Pakam.

Dipihak lain, massa Pemuda Pancasila (PP) dan Aliansi Masyarakat Pecinta Otomotif (AMPO) yang datang dari Medan tidak menduga bahwa sidang tersebut digelar pukul 11.00 WIB. Mereka mengira sidang digelar pukul 14.00 WIB, sebagaimana sidang-sidang sebelumnya yang digelar PN Lubuk Pakam di Gedung Peradilan Labuhan Deli. Padahal, mereka datang mengawal kedua korban, yakni Rudianto alias Rodot dan Anto Diharjo alias Anto Solar. Bersama massa PP dan AMPO turut serta seorang saksi dari jajaran pengurus IMI Sumut, yakni Mahyudanil.

Sesuai agenda sidang, Anto Solar dan Mahyudanil masih akan dimintai kesaksiannya oleh Majelis Hakim yang diketuai Deni Lumbantobing SH. Saat Anto Solar dan Mahyudanil tiba, persidangan sudah dibuka oleh Deni Lumbantobing. Polisi tidak memperkenankan keduanya memasuki Gedung PN Lubuk Pakam, dengan alasan takut terjadi bentrokan.

Akhirnya, polisi yang dipimpin Kapolres DS AKBP Wawan Munawar SIk mencoba menghadang massa PP agar tidak merambat ke PN, karena massa FKPPI masih berada di lokasi, dan terkesan menunggu massa PP. Potensi ricuh pun mulai menunjukkan tanda-tanda karena massa PP sudah kian mendekat.

Polisi dengan sigap menyuruh massa FKPPI agar segera meninggalkan kantor PN dengan melintasi jalan kearah Medan, sementara menahan massa PP. Satu jam berselang, massa PP berhasil menembus jalan Sudirman menuju Simpang Tangsi kearah Medan.

Selanjutnya, sekira pukul 13.00 WIB, barulah polisi mempersilahkan kedua saksi dan massa pengiringnya memasuki PN Lubuk Pakam. Namun, saat itu sidang sudah ditutup oleh Deni Lumbantobing.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Josep Christian yang ditemui kedua saksi di depan ruang sidang mengatakan majelis menunda persidangan hingga Kamis pekan depan. Tidak puas, kedua saksi yang ditemani beberapa kader PP dan aktivis AMPO mencoba menemui Hakim Deni Lumbantobing.

Deni yang ketika itu sedang bersantap siang mengatakan pihaknya tidak bisa melarang massa beratribut FKPPI memadati ruang sidang. “Sidang ini terbuka untuk umum, kita tidak bisa larang. Kalaupun terjadi kerusuhan, itu urusan pihak keamanan,” tegasnya.

Sekretaris Eksekutif AMPO, Indra Gunawan SE, kepada wartawan mengatakan pihaknya patut menduga massa beratribut FKPPI itu merupakan massa bayaran yang dikerahkan PT Mutiara Development. “Apa keterkaitan massa beratribut FKPPI itu datang ke lokasi sidang? Mereka tidak memiliki keterkaitan apa-apa. Makanya, patut kita duga mereka itu dibayar. Beda dengan kita. Kita jelas ada keterkaitan. Kedua korban adalah kader PP yang dianiaya saat mengerjakan fasilitas olahraga otomotif,” tandas Indra.

Di tengah kekecewaan akan kondisi di PN Lubuk Pakam, ratusan massa AMPO dan PP serentak balik kanan, kembali mengarah ke Medan. Tak dinyana, saat konvoi di Jalan Sudirman, Lubuk Pakam, massa AMPO dan PP bertemu dengan sebagian massa beratribut FKPPI.

Spontan, massa beratribut FKPPI itu diuber-uber. Mereka kabur memasuki gang-gang kecil di sekitar Jalan Sudirman. Kesal buruannya lolos, massa AMPO dan PP akhirnya merusak angkutan umum Rahayu Medan Ceria (MRC) trayek 54 BK 7353 DL

yang membawa massa FKPPI.

>> Kantor Developer Dirusak

Setibanya di Medan, sebagian massa AMPO dan PP yang sudah diperintahkan membubarkan diri justru mendatangi Kantor PT Mutiara Development di Jalan Suprapto. Sejumlah kaca di kantor tersebut dirusak lantaran massa tidak diperkenankan bertemu pimpinan PT Mutiara Development.

“Ini spontanitas kawan-kawan. Kita tak bisa membendungnya. Kawan-kawan kesal lantaran diperlakukan tidak adil oleh aparat Polres Deli Serdang. Ditambah lagi, mereka merasa telah dilaga-laga dengan kelompok pemuda lain yang diduga sengaja dikerahkan PT Mutiara Development ke PN Lubuk Pakam,” ujar Koordinator Pokja Humas Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) PP Sumut, Idrus Djunaidi didampingi Sekretaris Komando Inti (KOTI) PP Sumut, Ibnu Abbas SE yang akhirnya menyusul massa PP dan AMPO ke Jalan Suprapto untuk kemudian memerintahkan mereka membubarkan diri.

Sekedar mengingatkan, pembacokan Rudianto alias Rodot dan Anto Diharjo alias Anto Solar terjadi 1 Agustus 2012. Saat itu, keduanya sedang berada di Sirkuit Road Race Multi Fungsi milik Pemprov Sumut yang dikelola IMI Sumut di Jalan Pancing, Desa Medan Estate, Kecamatan Percut Seituan, Deli Serdang. Kasus ini ditangani Polresta Medan dan Kejaksaan Negeri Cabang Labuhan Deli.

Sejak tiga pekan lalu, kasus ini sampai ke tahap persidangan. JPU Josep Christian dan Rahmaniar mengajukan Irwan alias Iwan Bablo (28), Kasman Simarmata (35) dan Hazrat alias Kajat alias Mbah (49) sebagai terdakwa. Dalam persidangan kedua yang digelar PN Lubuk Pakam di Labuhan Deli, pekan lalu, ketiga terdakwa mengakui telah membacok Rudianto dan Anto Diharjo di lokasi sirkuit.

Rudianto dan Anto Diharja kepada wartawan mengaku mengenal baik para terdakwa. Mereka tidak menduga para terdakwa akan melakukan penyerangan bersama belasan orang lainnya yang masih buron. Sebab, mereka sebelumnya tidak pernah terlibat konflik dengan para terdakwa.

“Satu-satunya konflik yang terjadi adalah terkait lahan sirkuit, lantaran tiba-tiba PT Mutiara Development mengklaim telah membeli sebagian lahan sirkuit. Dan, para terdakwa menyerang kami juga lantaran saat kami tidak mau menghentikan pengerjaan lintasan tanah untuk balapan off road di lokasi sirkuit itu,” ujar Anto Diharjo. (man/pas/bud)



Berbagi Cerita Disini




bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

lazada.co.id