19 Jul 2012

Massa IPK Acung Klewang, Medan Utara Mencekam

Ads by Google

Lagi, Posko Dibakar, Plank Dirusak

MEDAN-PM

Jabatan tangan tanda perdamaian yang dilakukan petinggi IPK dan PP kawasan Medan Petisah sehari sebelumnya, ternyata tak serta merta mengademkan hati seluruh anggota. Kini, gejolak justru memanas di Medan Utara. Massa IPK menggelar konvoi dengan mengacungkan klewang di kawasan Titipapan.

Informasi dihimpun POSMETRO MEDAN, sebelum konvoi itu, siang harinya telah terjadi keributan antar pemuda di Komplek Bank, Kel Titipapan, Kec Medan Marelan.

Tak diketahui apakah ada hubungannya, tetapi sekitar jam 8 malam, sekelompok pemuda datang beramai-ramai dan mencopot plank IPK Ranting Kel Titipapan. Posisinya tepat berada di jembatan Titipapan, Jl Platina Raya, Kel Titi Papan, Kec Medan Deli.

Begitu kabar perusakan plank itu sampai ke telinga anggota IPK, mereka langsung menggelar pertemuan sekitar jam 10 malam di rumah Ketua IPK Medan, Basirun yang terletak di Jl Platina VII, Simpang Dobi.

Usai berkumpul di rumah Basirun yang berjarak kira-kira 3 KM dari TKP robohnya plank, massa IPK yang mengendarai puluhan kereta, mendatangi lokasi plank rubuh itu. Kedatangan mereka spontan membuat suasana sekitar menjadi mencekam.

Bagaimana tidak? Massa organisasi kepemudaan ini begitu nekadnya mengusung klewang di hadapan orang ramai. Suasana baru bisa mereda setelah polisi datang melakukan pengamanan di lokasi. Saat itu juga, massa IPK kembali ke rumah Basirun.

>>> Lagi, Pos IPK Dibakar

Aksi teror terus membuntuti insiden berdarah massa Pemuda Pancasila (PP) dengan Ikatan Pemuda Karya (IPK). Di sela upaya kuat Polri mendamaikan konflik 2 OKP ini, pembakaran berantai terhadap kantor IPK malah terjadi. Citra Irjen (Pol) Wisjnu Amat Sastro tengah digembosi.

Sepertinya lagi-lagi perintah Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu A Sastro diabaikan oleh kedua OKP ini. Pasca menjamin keamanan dan kenyamanan serta jaminan tak akan ada lagi bentrok antara IPK dan PP, polisi kembali kecolongan.

Teranyar, Selasa malam (18/7) sekitar pukul 23.00 wib, pos IPK yang terletak di Jl Pabrik Kimia, dibom molotov orang tak bertanggungjawab. Akibatnya, posko yang terletak di ujung jalan tersebut terbakar dan rusak.

Informasi yang diterima dari para warga di lokasi, pelemparan bom molotov kali ini, kata mereka, merupakan ulah sekelompok orang tak dikenal. Teror itu, ujar mereka, sengaja dilakukan guna aksi balasan atas rusaknya pos PP di Jl Pabrik Padi.

Aksi saling tebar  teror, seolah ingin menunjukkan power kedua kubu. Namun, perusakan terhadap pos IPK di Jl Pabrik Kimia tersebut sama sekali tidak diketahui warga saat kejadian.

Namun kuat dugaan, warga sekitar hanya tidak mau terlibat dalam memanasnya kedua kubu yang masing-masing punya massa militan ini. Sepemantauan wartawan, serta penjelasan seorang ibu rumah tangga, br Tobing (36), pos IPK tersebut benar dilempar oleh orang tak dikenal.

Hal itu tampak dari pecahan kaca dan botol yang berserakan di dalam ruangan berukuran 4×4 meter tersebut. Bekas bakaran juga terlihat di dinding pos IPK yang dirusak. “Semalam, bau minyak bensinya masih terasa kali,” terangnya.

Hanya saja, kata br Tobing, pos tersebut memang tak berpenghuni dan jarang ditempati. Namun aksi pelemparan tersebut jelas membuat warga sekitar resah dan ketakutan. “Kami takutlah, kalau ini terus gini bisa jantungan kami,” tambahnya.

Namun, Kapolsek Medan Baru Kompol Budi Hendrawan terkesan ingin menutupi kasus ini. Dia mengatakan, pos IPK tersebut memang telah lama rusak dan tidak digunakan. “Ah, tidak ada. Itu memang sudah lama rusak,” katanya singkat.

Masih lanjut Kompol Budi Hendrawan, jika tidak ada penjagaan khusus terhadap pos-pos kedua OKP, ia berharap agar warga tidak terpropokasi atas aksi-aksi tersebut. “Tidak ada penjagaan khusus. Kami menghimbau agar warga masyarakat tidak terprovokasi dengan aksi provokatif tersebut,” tambahnya.

>> Kantor Dibersihkan, Bapak Anak Diungsikan Tidur

Pengrusakan dan pelemparan bom molotov yang dialami Kantor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pemuda Karya (IPK) Labuhan Deli di Jalan Proyek Sungai Deli, Desa Helvetia, Kec Labuhan Deli telah ditangani Polsek Medan Labuhan.

Beberapa sisa pecahan kaca dan puing-puing bakaran bekas molotov terlihat mulai dibersihkan oleh anggota IPK dengan cara disapu dan dibuang ke tempat sampah. Sementara itu garis polisi masih merekat belum dibuka karena masih dalam proses penanganan pihak kepolisian. “Tadi kita sudah kordinasi sama ketua, jadi sudah bisa kita bersihakan biar tidak kotor,” kata Ramu.

Dijelaskan pria keturunan India ini juga, pihaknya tidak terpancing dengan perusakan kantor mereka. Tapi mereka kecewa, persoalan di Jalan Sekip, kenapa harus sampai terbawa ke kantor mereka. “Kalau di sana yang punya masalah, jangan kita yang dijadikan sasaran,” katanya sambil membersihkan kantor tersebut.

Sementara, Krisna (44) dan anaknya Rohid (11) yang sehari-hari biasanya tidur di kantor itu, terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. “Saya tadi malam tidur di rumah teman, karena situasi belum aman,” kata Krisna yang sudah 5 tahun sering tidur di kantor tersebut.

Terpisah, Ketua IPK Labuhan Deli, Aldiansyah yang dikonfirmasi mengatakan, pihaknya menyerahkan persoalan itu kepada aparat penegak hukum. “Kita tidak mau terpancing dengan hal yang seperti ini,” katanya tak mau banyak komentar.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Yudi Friyanto mengatakan, pihaknya sudah menangani kasus itu. Beberapa saksi, katanya, sudah dimintai keterangan, termasuk mengamankan barang bukti.

>> Dikangkangi, Kapoldasu Harus Malu

Perang organisasi kepemudaan IPK dan PP berbuntut panjang. Para kader-kader kedua OKP tidak menggubris arahan dari petinggi mereka. Bahkan arahan dari Kapolda Sumut, Irjen Wisjnu Ahmad Sastro supaya perang tidak berlanjut, dikangkangi kedua kubu.

Padahal, saat terjadi keributan di Jalan Sekip beberapa hari lalu, Kapolda Sumut langsung turun ke TKP untuk mendamaikan kedua kubu. Tapi, arahan Kapoldasu tidak digubris. Malahan kedua kubu melanjutkan perang, dini harinya, dan merembet ke lokasi lain.

Menanggapi hal itu, Wadir LBH Medan, Muslim Muis SH angkat bicara. Katanya, bila ingin mendamaikan, Kapoldasu harus turun sebagai masyarakat biasa. “Jadi bukan sebagai jendral. Karena kredibilitas Kapoldasu dipertaruhkan di kasus ini,” terangnya.

Dilanjutkannya, selama ini Kapoldasu dikenal intim dengan Pemuda Pancasila. Nah, karena kedekatan itulah, opini masyarakat timbul. Seolah bahwa Kapoldasu telah berlaku ‘berat sebelah’.

“Seharusnya Kapoldasu jangan berjanji kalau tidak bisa ditepati. Kapoldasu saja ditentang. Bagaimana pulak dengan masyarakat biasa, termasuk ketua-ketua masing-masing kubu?” keluhnya.

Dijelaskannya, perang ini tidak luput dari intervensi bos-bos kedua kubu. “Sekip itukan basis IPK. Masak pelantikan PP di situ juga? Lebih aneh lagi, mengapa para petinggi-petinggi OKP tidak membahas soal tempat pelantikan itu? Apalagi menurut Kapolsek Medan Baru, Kompol Budi, bahwa surat ijin keramaiannya tidak ada. Jadi, mengapa mereka masih menggelar pelantikan di Sekip,” tanyanya balik.

Dia berpendapat, sudah saatnya Kapoldasu menempatkan beberapa polisi di setiap pos-pos OKP yang ada di Medan dan sekitarnya. Hal itu guna mempersempit ruang gerak kedua kubu untuk bentrok.

“Atas pecahnya perang susulan ini, Kapoldasu seharusnya malu. Karena arahannya tidak diindahkan oleh para pemuda yang bentrok itu. Dan kalau beliau tidak bisa mengkondusifkan Medan, lebih baik mundur saja,” tegasnya.(well/ril/gib/jhon)



Berbagi Cerita Disini




bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

lazada.co.id