04 Jul 2012

Ujian Susulan Digelar Dadakan

ilustrasi
Ads by Google

Penerimaan Siswa Baru Rawan KKN
MEDAN-PM
Penerimaan siswa baru tahun Pelajaran 2012-2013 di SMP dan SMA Negeri Kota Medan rawan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pihak sekolah menggelar ujian susulan mendadak, tak sesuai jadwal.
Setidaknya hal ini didapati POSMETRO di SMP Negeri 7 Medan dan SMA Negeri 17 Medan. Sejumlah orangtua protes dan menduga hal ini merupakan trik bagi oknum-oknum pendidik guna meraup keuntungan dengan menjual kursi siswa. Ujian dilakukan lebih cepat dari jadwal ditentukan. Hal ini membodoh-bodohi orangtua siswa. Dan diduga merupakan salah satu upaya guna menyisipkan siswa lain yang membayar jutaan rupiah agar lulus di sekolah negeri.
Hal sama juga terjadi di SMAN 17 Medan. Sejumlah orangtua dan siswa kebingungan saat menanyakan kapan ujian susulan digelar, pihak panitia malah mengatakan mereka terlambat. Karena ujian susulan sudah dilakukan kemarin (2/7). Padahal tertera ujian susulan tanggal 3 Juli. Namun kenyataannya, ujian susulan dilakukan 2 Juli.
Hal ini membuat para orangtua dan siswa menjadi marah. Mereka menuding pihak sekolah sudah melakukan praktik KKN. Kepala SMA Negeri 17 Medan Drs Marnaek Nainggolan M,Si saat hendak dikonfirmasi POSMETRO MEDAN tak berada diruangannya. Panita PSB, Bobbin Nainggolan yang dikonfirmasi POSMETRO mengatakan, memang awalnya di nomor peserta penerimaan siswa baru tertulis tanggal (3/7). “Kami ganti sesuai dengan arahan dari dinas, kesalahan seperti yang ada di sini juga sama dengan sekolah lainnya yang ada di Medan, sebab semua peraturan dari Dinas, mungkin ada beberapa orang tua maupun siswa yang tidak tau,” ujar Bobbin membela diri.
Dia mengatakan, pihaknya akan menggelar ujian balik bagi orangtua siswa yang tidak mengetahui perubahan jadwal tersebut.
“Kapan pendidikan di Medan ini bisa lepas dari korupsi. Dulu guru-guru miskin, sekarang guru-guru pun kerjanya korupsi. Anak-anak yang pintar dipinggirkan, mana yang bayar itu yang diduluankan masuk,” ketus sejumlah orangtua siswa mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap pendidikan di Medan.
Rumornya, SMP negeri favorit dipatok harga per siswanya Rp3 juta hingga Rp5 juta. Untuk SMA negeri harganya bervariasi, mulai Rp3 jutaan. Tapi untuk sekolah favorit seperti SMA 1, 2, 3, 4 dan 5, harga per kursinya mencapai Rp7 juta hingga belasan juta rupiah. (roy/mar)

Artikel terkait :





Berbagi Cerita Disini





fanspage