08 May 2012

Sekdes Sekeluarga Diamuk Isu Begu

Ads by Google

TUKKA-PM, Gara-gara diisukan memelihara begu ganjang, Bilson Hutabarat (60) bersama istri, serta seorang anaknya dihajar puluhan tetangga. Rumah sekretaris desa sekdes itu dirusak. Sekeluarga ini baru bisa selamat setelah melarikan diri dan sembunyi di semak-semak di kebun karet.
Peristiwa ini terjadi di Desa Tapian Nauli Saurmanggita, Kecamatan Tukka, Tapteng, Minggu (6/5) malam sekira pukul 23.30 WIB. Akibat kejadian itu, Bilson, istrinya Rodiana Hutahaean (54), serta anaknya Hot Saroha Hutabarat (22), menderita luka-luka.
“Saya tidak tahu apa sebabnya. Malam itu kami sekeluarga sudah tidur. Tiba-tiba rumah kami dilempari pakai batu dan kayu. Trus kami keluar. Mereka langsung melempari kami,” katanya.
Masih sebut Bilson saat ditemui di sela menjalani pengobatan di UGD RSUD Pandan, Tapteng, Senin (7/5) sore, di malam kejadian itu ada 4 orang di dalam rumah. Dia, istrinya Rodiana Hutahaean, anaknya Hot Saroha Hutabarat, serta cucu mereka Andika Tanjung (8).
Bilson mendapat luka sobek 4 jahitan di pelipis kiri dan luka sobek 3 jahitan di lutut kiri, kemudian lebam di bahu dan pinggul kiri. Sementara istrinya luka di bagian kuku jempol kaki kiri, serta lebam ringan di beberapa bagian tubuhnya.  Sedangkan anaknya Hot Saroha Hutabarat menderita luka sobek di kepala dan lutut kiri. Hanya cucu Bilson yang tidak mengalami luka.
Diceritakan Bilson lagi, karena dihujani lemparan, ia dan keluarganya terpaksa lari menyelamatkan diri ke arah kebun karet di belakang rumah. Sementara warga yang mengamuk, terus melempari rumah mereka yang terbuat dari papan tersebut hingga rusak parah.
Amatan METRO TAPANULI, grup POSMETRO MEDAN di lokasi kemarin, dinding dan atap kediaman Bilson jebol. Di bagian dalam dan di sekitar pekarangan rumah panggung itu tampak tumpukan bebatuan dan kayu-kayu.
“Malam itu kami terpaksa lari dan sembunyi ke kebun karet. Sampai pagi saya dan istri sembunyi di kebun karet itu. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah kami. Sementara anak dan cucu saya kemudian diam-diam pergi ke rumah anak saya yang ada di desa itu juga,” tutur Bilson.
Bilson merupakan Sekdes Tapian Nauli. Dia memiliki 8 anak. 5 di antaranya laki-laki dan 3 perempuan. Hot Saroha Hutabarat adalah anak keenam. Kini hanya dia, istrinya, anaknya Hot Saroha Hutabarat, serta anaknya yang masih duduk di kelas 6 SD yang tinggal di rumah tersebut.
Hanya saja, anak bungsunya tersebut kebetulan sedang berada di Desa Hutanabolon, Tukka, karena mengikuti ujian nasional, sehingga tidak ikut menjadi korban pada malam kejadian. Sementara anak-anaknya yang lain sudah menikah dan tinggal dengan keluarga dan berada di luar daerah.

>> Disulut Tuduhan Dukun Kampung

Apa sebabnya warga menghakimi Bilson? Sang Sekdes Tapian Nauli ini mengaku, dia dicurigai dan diisukan memelihara begu ganjang. Kemunculan isu itu sudah diketahuinya sehari sebelum kejadian malam itu. Hanya saja dia tidak menyangka akan ada serangan tak berprikemanusiaan itu.
“Hari Sabtu (5/5) malam sebelumnya lae saya datang ke rumah, dia menceritakan ada isu menyebar bahwa saya memelihara begu ganjang. Katanya, saat salahsatu warga (Janto Zebua) yang sakit di kakinya berobat ke dukun. Si dukun bilang, penyakitnya itu saya yang membuat, atau saya yang mangula-ulai-nya,” tutur Bilson.
Kemudian, sambung Bilson, pada hari Minggu (6/5) pagi, dirinya menemui kepala desa setempat, Edison Sitompul. Dia pun menceritakan perihal isu yang menerpanya itu. Namun Bilson dengan tegas menyangkal.
“Waktu lae saya datang ke rumah, dan waktu saya jumpai kepala desa, saya sudah terangkan bahwa saya tidak ada melakukan itu. Saya tidak ada memelihara begu ganjang seperti yang diisukan,” sebut Bilson dengan wajah lesu.
Karena khawatir akan keselamatan mereka, sementara ini Bilson dan keluarga memilih tinggal di rumah menantunya bermarga Tanjung di Muara Pinang, Sibolga. “Kami belum berani kembali ke desa. Sementara ini kami tinggal di rumah menantu saja,” kata Milson yang mengaku pasrah dengan kondisi rumahnya yang sudah dirusak warga.
>> 2008, ada Warga Tewas tak Wajar
Sementara itu, menurut pengakuan warga desa setempat, Tigor Simanungkalit (23), Naskom Sitompul (47) dan Alinuddin Simanungkalit (50), bahwa sebelum aksi pengeroyokan dan pelemparan terjadi, puluhan warga desa mendatangi rumah Bilson.
Warga awalnya meneriaki Bilson agar keluar dari dalam rumah, dan harus segera pergi meninggalkan desa tersebut. Sebab, warga menuding bahwa Bilson adalah parbegu ganjang (pemelihara begu ganjang-red).
Kemudian, sambung ketiga warga tadi, Bilson dan anaknya Hot Saroha Hutabarat keluar dari dalam rumah dengan memegang golok di tangannya masing-masing. Salahsatu warga desa kemudian memukul tangan Bilson dengan sebilah kayu panjang, lalu golok yang dipegang Bilson terlepas dari tangan. Sesaat kemudian terjadilah aksi pengeroyokan terhadap Bilson.
Sementara anak Bilson, Hot Saroha Hutabarat, langsung dihujani lemparan batu dan kayu. Sehingga parang yang dipegangnya juga terlepas dari tangannya. Sempat terjadi pergulatan antara warga dengan Bilson dan anaknya. Namun karena tidak sanggup melawan, Bilson dan anaknya mundur dan lari ke kebun karet dari belakang rumahnya. Pelarian itu diikuti istri dan cucunya.
Sebelumnya, masih menurut warga, pada tahun 2008 lalu Bilson pernah terlibat perkelahian dengan warga desa setempat yang bernama Linner Sitompul. Dalam perkelahian tangan kosong tersebut Bilson lebih unggul.
Tapi anehnya, kata warga, pada sore harinya, Linner Sitompul meninggal dunia. Kata warga, almarhum Linner Sitompul meninggal dunia karena karena hatinya remuk. Padahal, sambung warga, dalam perkelahian itu Linner Sitompul tidak mengalami luka parah. “Kematian Linner Sitompul diduga karena ilmu santet oleh Bilson,” tutur warga.
Kemudian, masih cerita warga, pada tahun 2009 lalu, ada salahseorang warga yang mengalami sakit aji tur-tur, semacam penyakit kusta. Warga tersebut akhirnya meninggal dunia. Kematian warga itu pun dicurigai warga adalah ulah ilmu santet oleh Bilson.
Hingga terakhir munculnya penyakit lumpuh kaki yang diderita oleh Janto Zebua, juga warga desa setempat. Di mana sesuai penuturan dukun yang mengobati Janto Zebua, bahwa penyakit tersebut juga adalah ulah Bilson dengan ilmu hitamnya.
“Karena itulah warga makin curiga. Apalagi saat ditanyai apakah dia (Bilson) benar parbegu ganjang, dia tidak pernah marah. Dia hanya diam saja. Berarti benar dia parbegu ganjang,” tutur warga.
>> Bilson Dijemput dari Kebun Karet
Setelah mendapat informasi atas peristiwa tersebut, personel Polsek Pandan, Tapteng, dipimpin Kanit Reskrim, Aiptu UB Simanjuntak, kemudian datang ke lokasi, Senin (7/5) pagi sekitar pukul 10.00 WIB.
Petugas bersama pihak keluarga kemudian menjemput Bilson dan istrinya dari tempat persembunyian mereka di kebun karet. Petugas juga menjemput anak Bilson, Hot Saroha Hutabarat dari rumah kakak laki-lakinya yang juga tinggal di desa tersebut.
Dengan pengawalan petugas, Bilson dan istrinya sempat mengambil pakaian dan surat-surat berharga dari rumahnya yang sudah rusak. Kemudian Bilson dan keluarganya dibawa ke RSUD Pandan untuk berobat. Usai mendapat pengobatan, Bilson dan keluarga kemudian membuat laporan pengaduan ke Polsek Pandan.
Namun sebelumnya, petugas Polsek Pandan bersama aparat Koramil 04 Pandan, Kepala Desa setempat, menggelar pertemuan dengan warga desa, Senin (7/5) siang. Hasil pertemuan itu, warga desa membuat surat pernyataan keberatan atas keberadaaan Bilson dan keluarga di desa mereka. Karena itu, warga meminta supaya Bilson pindah dari desa tersebut. Surat pernyataan tersebut kemudian disampaikan kepada Kepala Desa, Edison Sitompul, agar kemudian dapat disampaikan kepada Bilson.
“Seluruh warga menandatangani surat pernyataan tersebut, kecuali keluarga dekat Bilson yang tinggal di desa ini, maka sementara ini kita turuti dulu permintaan warga,” tutur Kepala Desa, Edison Sitompul kepada METRO di lokasi.
Sementara itu, Kapolsek Pandan AKP H Edi Sidauruk SH membenarkan laporan informasi peristiwa tersebut. Karena itu, kemarin pagi Kapolsek langsung memerintahkan personel untuk mengamankan Bilson dan keluarganya.
“Korban sudah membuat laporan pengaduan. Sementara ini pasalnya tentang penganiayaan dan pengerusakan secara bersama-sama, pasal 170 KUP Pidana. Para korban (Bilson, Rodiana Hutahaean dan Hot Saroha Hutabarat) sudah diobati sekaligus diambil visumnya,” tutur Kapolsek.
Hanya saja, Kapolsek menyatakan bahwa pihaknya belum menetapkan siapa-siapa saja yang tersangkanya. Ditanya motifnya, Kapolsek mengakui karena dipicu isu yang berkembang cepat di tengah warga, bahwa korban memiliki ilmu batin atau memelihara begu ganjang.
“Belum ada ditetapkan siapa tersangka. Sementara ini penyidik masih akan mengumpulkan bukti, keterangan dari korban, dan keterangan dari saksi-saksi,” kata Kapolsek. (smg)



Berbagi Cerita Disini




bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

lazada.co.id