01 May 2012

(Keris Pesugihan Pembawa Petaka) Didatangi Lelaki Tua Berjenggot Panjang

Ads by Google

Namaku Rahmatullah. Keluargaku memanggil namaku Rahmat. Tapi karena profesiku sebagai pemulung barang-barang bekas, aku juga dikenal dengan sebutan Rahmat Rongsok. Aku terima saja penambahan nama itu, sebab tak ada masalah lantaran profesiku.
Menjalani profesi pemulung bukanlah cita-citaku. Ini sebuah keharusan jika tidak boleh dikatakan keterpkasaan. Sejalh lulus SMP, aku tak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA. Aku menyadari keadaan orangtuaku yang memang tidak mampu dan tidak sanggup membiayaiku.
“Ayah tak bisa membiayai sekolah kamu lagi, Mat. Sebaiknya kamu membantu ayah saja mencari rongsokan,” tutur ayahnya yang kembali keluar dari mulut pria yang menetap di Padalarang, Bandung.
Setiap hari, aku keliling kampung menyusuri jalanan mencari barang bekas yang masih bisa dijual. Dari satu kampung ke kampung lain, dari satu tempat sampah ke tempat sampah lain, aku mengorek rejeki. Namun, hingga tiga tahun aku menjalani profesi ini tidak ada perubahan berarti yang bisa mengangkat derajatku atau keluargaku. Kami tetap miskin dengan penghasilan pas-pasan. Padahal, aku dan ayahku sudah bekerja keras setiap hari, tapi Tuhan belum juga memberi rejeki yang bisa merubah kehidupan kami.
Sering terlintas di kepalaku untuk berbuat kejahatan, tapi hati kecilku selalu bisa meredam nafsu itu. Berkali-kali aku mengutuk nasib ini, tapi tetap saja menjalani profesi sebagai pengumpul barang bekas, kardus, plastik, besi dan apapun yang masih bisa aku hargai. Sempat pula aku tak percaya dengan keadilan Tuhan, mengapa aku yang bekerja banting tulang harus tetap miskin. Sementara banyak orang yang kerjanya santai saja tapi bisa kaya raya.
Hari itu, aku tengah berada di sebuah selokan kecil di pinggir kota Padalarang. Seperti biasa, aku mengorek beberapa tempat sampah milik warga yang rata-rata orang kaya. Di sini, mereka banyak membuang sampah plastik, kardus dan besi-besi tua.
Bermodalkan tongkat magnit, aku mengorek sampah seraya berharap menemukan apa yang dicari. Tiba-tiba tongkat magnitku menyambar sebuah benda yang ku kira paku atau potongan besi. Tapi, setelah aku perhatikan benda itu lebih mirip dengan sebuah keris yang panjangnya mencapai 10 centimeter dan masih menebar bau harum yang khas seperti minyak wangi orang-orang Arab.
Cukup lama aku memperhatikan keris kecil itu. Hatiku tertarik untuk merawat benda itu setelah aku sampai di rumah. Lalu, aku menyimpannya dalam karung bersama barang-barang bekas lainnya dan aku kembali mengorek tempat sampah di pinggiran selokan kecil itu.
Menjelang maghrib, aku baru tiba di rumah. Tak berapa lama kemudian, ayahku juga dating sambil membawa sekarung plastik bekas botol air mineral. Tanpa basa-basi aku langsung mengambil keris kecil yang tadi ditemukan. Benda itu aku bawa ke kamar mandi untuk dibersihkan dengan sabun dan sikat gigi. Kemudian, aku menyimpannya didalam dimpet dekilku.
Malam itu, aku dikejutkan oleh mimpi aneh dan menyeramkan. Dalam mimpi itu, aku didatangi seorang lelaki tua berjenggot panjang dan berpakaian hitam-hitam. Lelaki tua itu membawa sebuah tongkat dan seekor anjing berbulu hitam di samping kanannya. Apa yang terjadi di dalam mimpi Rahmat, tunggu selanjutnya. (bersambung/es/mm)

Artikel terkait :





Berbagi Cerita Disini





fanspage