21 Jun 2013

Serda Ucok Tigor Simbolon Habisi Nyawa 4 Tahanan Pakai AK-47

Ads by Google

Sidang Penyerangan LP Cebongan

BANTUL-PM

Serda Ucok Tigor Simbolon jadi aktor utama penyerangan LP Cebongan. Prajurit Kopassus berdarah Batak kelahiran Jakarta itu mengajak rekan-rekannya yang tengah latihan pergi ke Yogyakarta dan akhirnya menyerang LP Cebongan.

Dalam sidang perdana kasus penyerangan Lapas Cebongan yang dilakukan 12 anggota grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Jawa Tengah yang menewaskan 4 tahanan, digelar di Pengadilan Militer atau Danmil II-12 Yogyakarta, Kamis (20/6).

Sidang yang dimulai pukul 10.00 WIB mendapatkan perhatian ratusan warga Yogyakarta dan turut hadir ke pengadilan untuk memberikan dukungan kepada 12 terdakwa. Berkas 12 terdakwa dipisah menjadi empat. Berkas perkara pertama meliputi terdakwa Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik.

Berkas perkara pertama ini sidang digelar di ruang sidang utama dengan Oditur Militer Letkol (Sus) Budiharjo dan Majelis hakim Letkol (CHK) Dr Joko.

Dalam dakwaannya, Odmil Letkol (Sus) Budiharjo menjerat Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik dengan dakwaan primer telah melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 340 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman mati. Ketiga terdakwa dijerat dengan dakwaan subsider melanggar pasal 338 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Lebih subsider lagi, kata Oditur dalam dakwaannya itu, ketiganya melanggar pasal 351 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dan pasal 103 ayat 1 KUHPM juncto ayat 3 ke-3 KUHPM.

“Terdakwa Serda Ucok merupakan eksekutor dalam kasus penyerbuan Lapas Cebongan yang menewaskan empat tahanan titipan Polda DIY,” kata Budiharjo.

Dalam dakwaan setebal 61 halaman dibacakan secara bergantian. Disebutkan oditur setelah tersiar kabar anggota Kopassus Serka Heru Santosa tewas di Hugo’s Cafe, semua prajurit Grup-2 Kandangan Menjangan diharuskan apel. Komandan Grup meminta semua anggota berada di markas dan tidak terpancing emosinya.

“Kasus tersebut sudah ditangani polisi, anggota harus bersabar,” kata oditur Letkol CHK Sus Budiharto saat membacakan dakwaan.

Beberapa hari kemudian terdengar kabar Sertu Sriyono dianiaya Marcel Cs yang ditengarai berkaitan dengan kelompok Deki Cs (tersangka pembunuhan Serka Heru Santosa). Sertu Sriyono adalah anggota Kodim 0734 Yogyakarta dan juga mantan anggota Kopassus. Dia memiliki hubungan dekat dengan Serda Ucok.

“Keduanya sama-sama menempuh pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung. Terdakwa juga berutang budi karena pernah diselamatkan saat operasi militer di Aceh,” kata Sus Budiharto.

Emosi Serda Ucok Tigor Simbolon tak terbendung saat mendengar kabar anggota Kodim 0734 Yogyakarta yang juga mantan anggota Kopassus Sertu Sriyono dianiaya. Emosi itulah yang ‘menuntun’ Serda Ucok menginisiasi penyerangan ke LP Cebongan.

Hubungan Sertu Sriyono dengan Serda Ucok sangat dekat. Keduanya sama-sama menempuh pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung. Serda Ucok juga mengaku berutang budi karena pernah diselamatkan saat operasi militer di Aceh.

Karena itu, begitu mendengar Sertu Sriyono dianiaya, emosi Serda Ucok mendidih. Ia mengajak Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik dari tempat latihan di Gondosuli, Pegunungan Lawu, Karanganyar. Saat ini, keduanya jadi terdakwa, satu berkas dengan Serda Ucok.

Dari tempat latihan, Ucok cs kembali ke markas untuk mandi dan mengajak beberapa teman lainnya. Mereka berjanji akan ketemu di kantin Denma Kopassus milik Ny Agustinus. Mereka sempat berkeliling kompleks mencari teman.

Pukul 22.00 WIB, Jumat (22/4), rombongan yang berjumlah 12 orang berangkat. Di Yogyakarta, mereka sempat bertanya ke warga soal lokasi penganiayaan Sertu Sriyono, tapi tidak ketemu. Namun seorang warga menyebut ada rombongan mobil tahanan yang menuju LP Cebongan pada sore hari. Serda Ucok cs pun langsung menuju LP tersebut.

Bersenjata AK-47, Ucok cs berhasil memaksa petugas LP membuka gerbang. Di tempat itulah, Ucok mengeksekusi 4 tahanan kasus pembunuhan Serka Heru Santosa, Sabtu (23/4) dini hari, lalu kembali ke tempat latihan di Gondosuli tanpa ada yang mengetahui.

Dalam dakwaan, oditur juga menyebut beberapa barang bukti. Di antaranya mobil Avanza, 3 buah senjata AK-57, 2 magasin AK-47, dan 2 replika senjata api.

Dibakar

Saat menginjak tubuh petugas lapas lanjut Budiharto, petugas kemudian menunjukkan alat rekaman CCTV ada di ruang bagian atas. Mereka kemudian mengambilnya. Beberapa orang terdakwa setelah mendapatkan kunci sel langsung menuju blok A 5 tempat penahanan empat tersangka, Hendrik Angel Sahetapi (Deki), Yohanes Juan Manbait, Gamaliel Yermianto Rohi Riwu (Adi), Adrianus Candra Galaja (Dedi).
Setelah Ucok melakukan eksekusi, mereka kemudian kembali ke Solo menggunakan dua buah mobil yakni Toyota Avanza warna biru nopol B 8446 XC dan mobil Suzuki APV. Empat buah handphone milik petugas lapas juga dibawa terdakwa bersama rekaman CCTV lapas. Rekaman tersebuat dibakar dan kemudian di buang ke Bengawan Solo.

Usai mendengarkan dakwaan, Majelis Hakim yang dipimpin Letkol (CHK) Dr Joko Sasmito itu kemudian memberi kesempatan ketiga terdakwa untuk menanggapi isi dakwaan. Kuasa hukum ketiga terdakwa Letkol Rokhmat, menyatakan akan menyampaikan eksepsi.

Sidang dilanjutkan Senin pekan depan dengan agenda eksepsi terdakwa. Selain Ucok cs, sidang pembacaan dakwaan juga digelar untuk 9 prajurit Kopassus lainnya.

Bersamaan dengan sidang terdakwa Ucok cs, di ruang 2 digelar sidang dengan terdakwa Serma Rokhmadi, Serma Muhammad Zaenuri dan Serma Sutar, menjabat sebagai Wakil Komandan (Wadan) Regu Provost dan Kepala Seksi Intel (Pasintel) Kopassus Grup-2 Kandang Menjangan, Kartasura.

Berdasarkan keterangan terdakwa, Serka Sutar menjabat sebagai Wadan Regu Provost yang piket jaga di pos Kopassus, sedangkan Serka Rohmadi dan Serka M Zaenuri menjabat sebagai Pasintel.

Oditur Letkol CHK Estiningsih mendakwa Serka Sutar dkk tak menginformasikan ke atasan terkait keberangkatan prajurit Kopassus ke LP Cebongan, Sleman. Padahal mereka sempat mencegat rombongan prajurit tersebut. Mereka dijerat pasal 121 ayat 1 KUHP Militer jo pasal 55 ayat 1 KUHP.

“Kami akan menyampaikan eksepsi 3 hari lagi,” kata penasihat hukum ketiga terdakwa, Supriyadi.

Setelah istirahat makan siang dan salat Zuhur, sidang dilanjutkan lagi. Di ruang sidang 2 dengan satu orang terdakwa yakni Serda Ikhmawan Suprapto. Terdakwa berperan sebagai penunggu mobil. Dia juga berperan mengetuk pintu gerbang, bernegosiasi dengan petugas lapas, dan menunjukkan kepada petugas sebuah stopmap serta mengaku dari Polda DIY. Namun menurut pengakuan Ucok, stopmap atau kertas surat itu ditemukan saat mobil Toyota Avanza dibawa dari Solo menuju Yogyakarta.

Pada saat bersamaan, di ruang utama digelar sidang dengan 5 orang terdakwa yakni Sertu Tri Juwanto, Sertu Anjar Rahmanto, Sertu Martinus Roberto Paulus Benani, Sertu Suprapto dan Sertu Hermawan Siswoyo. Kelima terdakwa dianggap turut serta dalam aksi penyerangan di Lapas Cebongan, melakukan penganiayaan kepada sejumlah petugas, merusak dan mebakar 2 buah LCD monitor dan satu buah alat VCR untuk merekam semua aktivitas di lapas serta merampas 4 buah handphone milik petugas lapas.

Teriakan ‘Salam Komando’ Menggema

Saat dibawa dengan mobil menuju markas Denpom IV Yogyakarta, salah satu terdakwa berteriak ‘Salam Komando!. Teriakan serupa pun saling berbalas. Terdakwa Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik, mendapat giliran pertama keluar dari mobil.

Usai sidang, 12 prajurit tersebut dibawa menuju tempat penahanan di Markas Denpom IV Yogyakarta dengan menggunakan mobil tahanan milik POMAD. Setelah masuk di dalam mobil, salah satu terdakwa sempat meneriakkan ‘Salam Komando’. Aksi itu dibalas dengan teriakan yang sama oleh teman-teman terdakwa yang turut menyaksikan persidangan.

Komnas HAM Risaukan Saksi

Ketua Komnas HAM Siti Nur Laila dan stafnya, Mimin, disoraki massa pendukung Kopassus di Pengadilan Militer yang menyidangkan kasus eksekusi di LP Cebongan. Mobil yang ditumpangi keduanya pun sempat dipukul massa. Tapi ditanya soal perlakuan itu Nur Laila tak khawatir.

“Iya nggak apa-apa,” kata Nur Laila.

Yang dipikirkan Laila justru persidangan kala menghadirkan saksi-saksi. Melihat begitu banyaknya pendukung para terdakwa dia khawatir intimidasi yang didapatnya juga didapatkan saksi.

“Yang harus dipikirkan dan harus dievaluasi pemeriksaan saksi-saksi nanti. Saksi tidak bisa mempengaruhi keterangan yang diberikan,” jelasnya.

Kondisi ruang sidang juga tidak memungkinkan karena sempit. Sehingga saksi dan para pengunjung sidang bisa berdekatan, intimidasi akan mudah dilakukan.

Karena itu pihaknya melakukan upaya bersama LPSK, MA, dan KY agar para saksi bisa hadir di persidangan dengan melalui video conference.

“Pada kondisi hari ini, Komnas HAM tidak merekomendasi hadir,” tegasnya.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan, sebanyak 10 dan 42 orang saksi kasus LP Cebongan masih mengalami depresi sehingga tidak dapat hadir langsung ke gedung pengadilan. Agar mereka tetap dapat menyampaikan kesaksiannya yang dibutuhkan majelis hakim, maka perlu difasilitasi dengan video conference.

(net/bbs/fal)



Berbagi Cerita Disini




bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

lazada.co.id