17 Jun 2013

Preman Penjara Lapas Tebing Tewas Ditikam

Ads by Google

Siksa Napi Pindahan dari Tanjung Gusta

TEBINGTINGGI-PM

Pemindahan narapidana yang terlibat bentrok di Lapas Kelas I, Tanjung Gusta-Medan beberapa waktu lalu, berbuntut panjang. Minggu (16/6) sore, salah satu napi yang dipindahkan ke Lapas Kelas IIB, Kota Tebingtinggi kembali terlibat perkelahian hingga menewaskan rekannya sesama tahanan. Fuad Ahmad (31) dan Khairul Syahbani Dalimunthe (33) adalah nama napi itu. Akibat kerjadian itu, Fuad yang tercatat sebagai warga Jl. Damar Laut VI, No. 79, Perumnas Bagelen, Kec. Padang Hilir, Kota Tebingtinggi itu pun akhirnya tewas setelah punggungnya ditikam ditikam satu liang.

Fuat meregang nyawa usai mendapatkan perawatan di rumah sakit Bhayangkara Kota Tebingtinggi. Info yang dihimpun POSMETRO, perkelahian kedua narapidana ini bermotif sakit hati. Pasalnya, sejak dipindahkan dari Rutan Tanjung Gusta 7 Juni lalu, Khairul mengaku sakit hati karena sering dipukuli Fuad. Tak ayal, Khairul yang menetap di Jl. Asrama Rindam, Blok I, Simpang Kantor, Pematang mau tak mau terpaksa melawan hingga keduanya kerap adu jotos. Apalagi keduanya saat itu diletakkan dalam satu kamar di blok 16 D.

“Pertama kali aku pindah ke Lapas Tebing sudah disambut pukulan dan tendangan dari Fuad. Katanya dia preman di sana,” terang Khairul. Karena sering disiksa, oleh petugas Lapas, Khairul sempat dipindahkan ke blok 17 B.

” Sama petugas lapas aku dipindahkan ke kamar 17 B, kamar itu khusus tahanan politik (tapol). Itu pun tetap saja Fuad mengajak ribut terus, padahal selaku orang baru aku sudah mengalah dan meminta maaf sama dia,” bilang Khairul yang terhitung baru 9 hari menghunii Lapas Kelas IIB, Jl. Pusara Pejuang, Kota Tebingtinggi.

Puncaknya,  Minggu sore sekira pukul 16.30 WIB, Fuad kembali menemui Khairul ke kamarnya.

” Semula ada kawan si Fuad datang ke kamarku, katanya aku dipanggil dia. Kubilang, sudahlah. Ngapain lagi, kan sudah minta maaf aku,” kenang pelaku. Tapi tak lama berselang, Fuad yang datang sambil ngomong, “sudah nggak bisa lagi kau kupanggil,” bentak Fuat yang ditirukan Khairul.

“Sambil ngomong kayak gitu, leherku ditendangnya pak, aku pun jadi berkelahi lagi dengan Fuad di kamarku. Lantaran kulihat Fuad mau mengambil batu, akupun jadi replek mengambil pisau yang ada di kamarku, lalu kutusukkan ke punggungnya sekali, hingga dia (Fuad) tersungkur,” beber Khairul.

Sejurus kemudian, situasi pun heboh. Fuad langsung dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara Kota Tebingtinggi untuk mendapatkan pertolongan medis. Sementara Khairul diamankan petugas Lapas bersama sebilah pisau yang digunakannya menikam Fuad. “Aku nggak tahu dari mana pisau itu, soalnya sejak aku pindah ke kamar 17 B kemarin, pisau itu sudah ada kian,” bilang Khairul yang telah dicerai isterinya Jumiati, sejak divonis 12 tahun penjara akibat kasus kepemilikan 4 kg ganja sambil mengaku dari vonis itu dirinya sudah 4 tahun menjalani masa hukuman.

Sementara itu, Fuad yang kehabisan darah langsung masuk ke ruang operasi Rumah Sakit Bhayangkara Kota Tebingtinggi. Namun sebelum Fuad dioperasi, korban keburu meninggal dunia. Kematian Fuad sontak membuat keluarga Fuad yang menunggu di luar ruang operasi menjerit histeris. Bakhtiar, ayah Fuad enggan memberikan keterangan, begitu juga dengan keluarganya yang lain. “Aku baru dikasih tahu, anakku ditikam di penjara, makanya buru-buru aku kemari. Baru sebentar sampai di sini, nyawa anakku tak tertolong”, bilang Bakhtiar.

Sedangkan isteri Fuad terlihat meraung-raung lalu jatuh pingsan, ” dia itu isteri si Fuad, namanya Sri Wulandari (28), sudah tiga anak mereka”, bilang keluarga Fuad sambil menunjuk ke arah Sri yang jatuh pingsan di luar ruangan operasi sehabis mengetahui nyawa suaminya tak tertolong.

Menurut dr. Sugeng, korban sempat kehabisan darah akibat luka tusukan tersebut.

“Terdapat satu luka tusukan di punggung selebar 6 Cm yang cukup dalam hingga menembus rongga dada dan merusak jaringan paru-paru. Ketika kami sedang bersiap-siap melakukan operasi, pasien bernama Fuad meninggal dunia,” jelas dr. Sugeng, ahli bedah, didampingi Kepala Rumkit, AKP Romi Sebastian.

Terpisah, Kalapas Tebingtinggi, Budi Argap Situngkir, A.Md. IP.SH, MH belum banyak memberikan keterangan seputar kasus perkelahian sesama napi ini. “Besok saja bos, kami lagi menangani pelaku Fuad, kamipun masih buat berita acara atas masalah ini. Soal dari mana pisau itu didapat Fuad masih kami selidiki,” kata Budi seraya bilang pisau yang digunakan pelaku penikaman itu sepanjang 30 Cm.

(awi/deo)



Berbagi Cerita Disini




bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

lazada.co.id