Breaking

Sabtu, 21 Juli 2018

Dua Bocah Manurung Dimakamkan Satu Peti, Tangisan Pilu Mengiringi


Dua bocah korban pembunuhan ibu kandungnya, DS, 37, akhirnya dimakamkan di Desa Motung, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa, Sumut, Rabu (18/7).

Isak tangis pun pecah ketika jenazah bocah berinisial RM (8) dan adiknya MM (2,5) yang dibunuh ibunya di Lampung, Minggu (15/7), itu tiba di rumah kakeknya.

Seperti dilansir pojoksatu (Group Posmetro Medan) , korban RM mengalami 11 luka tusukan di bagian belakang sedangkan adiknya MM mengalami sembilan kali tusukan.

Sedangkan pelaku sendiri sempat berusaha mengakhiri hidupnya dengan menikam bagian perutnya sebanyak enam kali menggunakan pisau dapur.

Pisau yang sama yang digunakan pelaku menghabisi kedua anaknya. Namun, pelaku berhasil diselamatkan dan hingga kini masih dalam proses penyembuhan dan pengawasan kepolisian Resort Pasarawan, Lampung.

Jenazah kedua korban, dibawa ayah korban TM, 42, dan beberapa orang kerabat yang disambut isak tangis keluarga yang sudah ramai menantikan kedatangan korban.
Bahkan kakek dan nenek korban yang sudah tua tak hentinya menjerit sebagai bentuk duka mendalam atas kepergian kedua cucunya. Saat tiba di rumah duka, kedua korban berada dalam satu peti.

Terlihat betapa malang nasib keduanya dengan tubuh yang terbujur kaku di peti yang sama. Pihak keluarga pun memutuskan untuk tidak memisahkan peti korban. Disepakati, keduanya akan dikebumikan tetap dengan peti yang sama pula.


Usai acara adat, sekira pukul 13.00 WIB keduanya dimakamkan di pemakaman milik keluarga tak jauh dari rumah duka. Ratusan orang ikut mengiringi prosesi pemakaman.

Dan lagi lagi, tangisan pilu yang mengiringi pemakaman keduanya. Dari percakapan sejumlah warga, mereka menyayangkan tindakan DS yang tega menghabisi nyawa kedua putranya.

Kepala Desa Motung Edu Manurung turut berdukacita atas meninggalnya RM dan MM. Dia berharap agar semua keluarga yang ditinggalkan lekas terhibur hatinya. “Duka ini bukan hanya keluarga tapi kami semua warga Motung turut berdukacita,” tukas Edu.

Sementara itu, berdasarkan penuturan Dosmar Ambarita keluarga dekat korban, kisah pilu ini terjadi diperkirakan akibat depresi yang dialami ibu korban.

Dosmar menceritakan sebelum terjadi peristiwa nahas tersebut, ibu korban sekaligus besannya menderita penyakit asam lambung yang sudah akut. DS juga dikabarkan baru seminggu pulang dari salah satu Rumah Sakit di Lampung dan sedang rawat jalan.

“Semenjak pulang dari Rumah Sakit, DS sering melamun, tidak seperti biasanya. Itu yang diceritakan suami DS tadi malam,” ujar Dosmar.

Di mata keluarga, terkhusus keluarga suaminya, M Manurung, pelaku DS dikenal sebagai menantu yang baik, ramah dan pekerja keras. Dosmar bahkan menggambarkan DS sebagai menantu yang selalu perhatian dengan keluarga.

Hal ini juga dibenarkan mertuanya. DS hampir tiap minggu menelepon menanyakan kabar kesehatan mertuanya dan kabar keluarga lainnya di Motung.

Kondisi rumah tangga pelaku juga dinilai keluarga harmonis dan tidak ada persoalan dengan masalah keuangan. “Tidak disangka peristiwa ini bisa terjadi,” Pungkas Dosmar.(ana/JPG)





loading...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar