Breaking

Kamis, 05 April 2018

MEDAN HEBOH! Setelah Todongkan Pistol ke Orangtua, Wakapolres Tembaki Adik Ipar


Tindakan oknum personel Polri kembali menjadi sorotan. Setelah sebelumnya oknum Brimob di Bogor terlibat penembakan yang menewaskan seorang warga sipil, kini hal serupa juga terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Wakapolres Lombok Tengah (NTB) Kompol Fahrizal menghabisi nyawa Jumingan, adik iparnya dengan enam tembakan. Setelah kejadian, Fahrizal bahkan tidak menunjukkan penyesalan.

Pembunuhan sadis itu terjadi di Jalan Tirtosari, Gang Keluarga No 14, Kelurahan Bantan, Medan Tembung, Sumatera Utara, Rabu malam (4/3). "Kita prihatin karena hal ini mencederai institusi polisi. Namun demikian, ini sudah terjadi dan kita akan hadapi bersama-sama," ujar Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpauw kemarin (5/3).

Kapolda mengatakan, Jumingan saat ini sedang menjalani otopsi di RS Bhayangkara Medan. Dari tubuh pria 33 tahun itu ditemukan enam bekas luka tembakan. "Barang bukti yang diamankan yakni sebuah senpi milik Polri berupa 1 buah revolver yang dibawa dari satuan asal, 6 butir selongsong, 1 pecahan proyektil, dan KTA milik terlapor," ujarnya.

Paulus juga menjelaskan, pihaknya sedang memeriksa tiga saksi atas kejadian itu. Masing-masing ibu dan istri Fahrizal serta istri Jumingan. Tujuannya, mengetahui segala hal yang berkaitan dengan motif pelaku. "Ada dugaan motif mengarah ke 340 (pembunuhan berencana) dengan dia memiliki dan membawa senpi," jelasnya.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos (Jawa Pos Group), teka-teki motif pembunuhan itu memang belum terungkap. Kronologi yang diungkapkan saksi kepada polisi juga masih sumir. Sebab, pembunuhan dilakukan secara tiba-tiba. Bahkan di tengah kehangatan suasana keluarga yang sedang berkumpul.

Para saksi mengisahkan, penembakan terjadi sekitar pukul 19.30 WIB. Ketika itu Fahrizal bersama istrinya pulang ke Medan untuk menemui Elly atau yang biasa disapa Wak Kartini, 60. Bahkan, perwira polisi berusia 41 tahun itu tampak memijit kaki sang ibu. Tapi, tiba-tiba Fahrizal menodongkan pistol ke arah ibunya.

Melihat peristiwa itu, Jumingan berusaha melerai. Namun, moncong pistol Fahrizal malah beralih ke arah adik iparnya itu. Selanjutnya terdengar beberapa kali letusan hingga mengakibatkan Jumingan roboh bersimbah darah.

Paulus Waterpauw mengakui ada keanehan sikap dalam diri Fahrizal setelah penembakan terjadi. Saat diinterogasi, mantan Kasatreskrim Polrestabes Medan itu terlihat santai. Bahkan, dia tidak menyatakan penyesalan. "Tetapi, setelah bertemu dengan anak dan istrinya, barulah dia mulai menitikkan air mata," kata Paulus.

Dari catatan yang diperoleh Polda Sumut, Fahrizal adalah alumnus Akpol 2003. Dia masuk kategori baik serta cukup menonjol dari jabatan. Saat mengunjungi ibunya di Medan, Fahrizal diketahui memiliki izin dari kesatuannya di NTB.

Setelah penembakan itu, Fahrizal menyerahkan diri ke kepolisian dan kini diperiksa Polda Sumut. Dia dijerat pasal 340 jo pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

Sebelumnya aksi penembakan juga dilakukan oknum Brimob, Briptu AR. Tembakannya membuat Fernando Alan Wowor, kader Partai Gerindra tewas. Kasus itu terjadi ketika keduanya terlibat perkelahian di di lapangan parkir tempat hiburan malam LIPSS Club, Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (20/1) dini hari.

(mag-1/c19/fat)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar