Breaking

Selasa, 18 Juli 2017

Indonesia Krisis Garam, Harga Naik 6 Kali Lipat


Sejumlah merek garam konsumsi menghilang dari pasaran sejak beberapa pekan terakhir.

Tidak adanya stok komoditas yang hampir wajib ada di setiap masakan tersebut disebabkan suplai bahan baku garam konsumsi yang masih terbatas.

Direktur Produksi PT Garam Budi Sasongko mengatakan, kelangkaan garam di pasar konsumsi itu tidak terlepas dari produksi bahan baku garam. Hingga pekan ketiga Juli, produksi garam masih sedikit.

’’Di kami, produksi garam selama satu pekan hanya sekitar sepuluh ton,’’ katanya, Selasa (18/7).

Padahal, dalam kondisi ideal, produksinya bisa mencapai 20–30 ribu ton tiap pekan.

Perhitungannya, dalam setahun, konsentrasi panen garam berlangsung selama 3–4 bulan.

Nah, dalam masa panen tersebut, pada kondisi normal PT Garam bisa menghasilkan 350 ribu ton.

’’Sementara sekarang, di beberapa sentra produksi masih hujan sehingga kristalisasi belum merata,’’ ungkapnya.

PT Garam mengelola 5.000 hektare lahan garam yang tersebar di Madura.

Akibat produktivitas yang masih rendah tersebut, harga bahan baku garam melonjak.

Dulu harganya sekitar Rp 500–600 per kg, kini naik hampir enam kali lipat. Yakni, menembus Rp 3.000 per kg.

Sedangkan harga garam konsumsi juga melonjak dari sekitar Rp 3.800 tahun lalu menjadi tembus Rp 5.000 per kg.

’’Meski harga tinggi, stok juga tidak ada,’’ tambah Budi.

PT Garam merupakan produsen penyuplai bahan baku garam untuk industri pengolahan.

Meski memiliki pabrik pengolahan sendiri, kapasitasnya masih terbatas.

Sesuai perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi iklim pada Juli masih cenderung basah.

Dengan demikian, produksi garam belum bisa maksimal pada bulan ini.

’’Harapan kami, Agustus-September iklim sudah mendukung sehingga produksi bisa normal lagi,’’ jelas dia.

Secara terpisah, Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) M. Hasan menambahkan, kondisi cuaca dan harga seperti sekarang membuat petani memanen garam lebih cepat.

’’Selain faktor iklim, mereka kejar harga tinggi,’’ tutur Hasan.

Dengan demikian, jika biasanya panen garam berlangsung tiap sepuluh hari sekali, kini dalam beberapa hari saja garam sudah dipanen.

Hal itu berlangsung hampir di 12 kota/kabupaten sentra penghasil garam di Jatim. ’’Tingginya harga juga tidak terlepas dari suplai dan permintaan pasar,’’ lanjutnya.

Mestinya, ketika stok bahan baku garam melimpah, harga akan perlahan turun.

Meski bahan baku garam menipis, pihaknya meminta tidak ada impor garam untuk bahan baku garam konsumsi.

Sebab, Juli ini sudah memasuki musim panen. Puncak panen diperkirakan berlangsung pada September.

’’Kami optimistis dengan penerapan geoisolator di seluruh sentra garam, produksi garam tahun ini meningkat,’’ paparnya.

Produksi garam nasional pada 2017 diproyeksikan sebesar 2,5 juta ton. Sementara itu, kontribusi Jatim diperkirakan satu juta ton. (res/c7/sof)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar