Breaking

Jumat, 23 Juni 2017

Polri : Jaringan Teroris Medan Berniat Ledakkan Markas Brimob Sumut



Densus 88 Antiteror terus memburu teroris pasca ledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu (24/5). Sampai kemarin (22/6), tidak kurang 41 terduga teroris ditangkap.

Memang tak semuanya berkaitan dengan bom bunuh diri di Kampung Melayu. Dari angka tersebut, hanya 14 terduga teroris terkait aksi teror yang menewaskan tiga anggota Polri itu.

Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan, 14 terduga teroris itu termasuk dua pelaku yang tewas di lokasi kejadian. Yakni Ahmad Sukri (AS) dan Ichwan Nurul Salam (INS). Sedangkan 12 lainnya ditangkap pasca kedua pelaku melancarkan aksi biadab di terminal bus Kampung Melayu.

”Lima di antaranya sudah dipulangkan. Terdiri atas tiga pria dan dua perempuan,” ucap Setyo. Itu setelah pemeriksaan yang dilakukan selama 7 x 24 jam oleh Densus 88 Antiteror.

”Pemeriksaan untuk klarifikasi yang ditangkap dapat dinaikan menjadi tersangka atau tidak,” kata Setyo.

Hasilnya, mereka tidak berhubungan dengan aksi teror yang dilakukan AS dan INS. Sedangkan sisanya berkaitan dengan ledakan yang juga menyebabkan sejumlah korban luka itu. Karena itu, Polri meningkatkan status mereka sebagai tersangka. Semua pihak yang berkaitan dengan aksi teror pasti ditangkap.

”Menyembunyikan kena, memberi dana kena, melatih kena,” ucap perwira tinggi kelahiran Oktober 1961 itu.

Berdasar data yang diterima, Rohim alias Bontot Bin Marta adalah salah seorang terduga teroris yang ditangkap kemudian naik status menjadi tersangka. Perannya mengamankan sepeda motor yang sempat dipakai AS. Agus Suryana yang ketitipan sepeda motor sebelum diserahkan kepada Bontot juga turut ditetapkan sebagai tersangka. Sebabnya jelas, mereka membantu kedua pelaku dalam rentetan kejadian yang berujung ledakan bom bunuh diri di Kampung Melayu.

Selain itu, mereka terdeteksi sebagai anggota jaringan teroris Jamaah Anshorut Daulah (JAD) Mudiriyah yang berpusat di Bandung, Jawa Barat.

”JAD, mereka berbaiat kepada ISIS. Bisa langsung kontak Bahrun Naim,” terang Setyo.

Mantan wakil kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri itu menjelaskan, JAD merupakan jaringan teroris paling aktif saat ini. Meski tidak semua anggota JAD saling kenal, mereka punya akses berkomunikasi dengan Bahrun Naim yang berada di Syria. Selain JAD Mudiriyah, jaringan teroris lain yang juga aktif berada di Medan, Jambi, dan Poso. ”Lampung, Banten, Solo juga,” ujarnya.

Karopenmas Divhumas Polri Brgijen Rikwanto menyebutkan, Densus 88 Antiteror mengamankan sekaligus menangkap 27 terduga teroris lainnya. Terdiri atas tujuh terduga teroris yang masuk daftar pencarian orang (DPO), lima terduga teroris terkait foreign terrorist fighter (FTF) dan pendanaan aksi teror, serta 15 terduga teroris lain yang diamankan dan ditangkap guna mencegah aksi teror berikutnya.

Mantan Kabidhumas Polda Metro Jaya itu menyebutkan, Densus 88 Antiteror mengamankan dan menangkap puluhan teroris dalam tiga pekan merupakan bagian upaya preventif . ”Kami melakukan preventive strike untuk mencegah Idul Fitri dan Ramadan terjadi hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Dari 27 terduga teroris yang ditangkap di luar aksi teror di Kampung Melayu, Densus 88 Antiteror mendeteksi aksi teror yang akan dilakukan akhir tahun ini. Serupa dengan aksi teror sebelumnya, mereka mengincar anggota Polri sebagai sasaran. Di antaranya Polsek Woha di Bima, NTB, dan Mako Brimob Sumut. (idp/jpg/nin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar