Breaking

Jumat, 07 April 2017

Megah, Kokoh, dan Bergaya Eropa-Asia, Ini Sejarah Masjid Raya Al-Mashun Medan


Masjid Raya Al-Mashun saat ini berumur 109 tahun (2015). Dibangun pertama kali pada Hari Senin, 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H) dan selesai 3 tahun kemudian pada Hari Kamis, 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H).
Keesokan harinya langsung dipakai ibadah Shalat Jum’at. Pemrakarsa berdirinya Masjid Raya Al-Mashun adalah Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam (Sultan Deli IX).
Dilihat dari topografi 109 tahun berdirinya Masjid Raya Al-Mashun konstruksinya mengambil perpaduan gaya Timur Tengah (Arab dan Persia), India (Mughal), Spanyol (Andalusia), Turki (Ottoman) dan Eropa. Sepintas mirip masjid lainnya semasa Melayu Deli berjaya.
Masjid Raya Medan atau Masjid Al-Mashun adalah masjid yang sama. Tetapi, tidak semua publik di Medan tau nama Masjid Raya yang sebenarnya bernama Al-Mashun.
Sebelum memasuki Masjid Raya Al-Mashun ada gapura. Gapura merupakan pintu besar untuk masuk pekarangan rumah, jalan, taman, bangunan. Gapura juga simbol penghormatan/penyambutan kepada tamu. Di sebelah gapura ada pos penjagaan (mirip kantor kecil). Sebelah Timur ada tempat berwudhu dan di sekeliling masjid terdapat saluran-saluran air.
Setelah gapura ada beranda untuk masuk ke ruang utama dengan jumlah anak tangga 13. Anak-anak penyemir dan penjaga selop/sendal/sepatu siap menawarkan jasa.
Sebagian bangunan masjid menggunakan kayu kualitas nomor satu. Masjid Raya Al-Mashun berbentuk segi delapan dengan empat “sayap atau serambi” penjuru mata angin: Barat, Timur, Utara, Selatan. Antara satu beranda saling terhubung seperti lorong atau gang.
Sedangkan bagian dalam masjid terdapat 8 pilar yang menjadi penyangga kubah. Jumlah kubah seluruhnya ada 5, 1 kubah utama, 4 kubah lagi ada di selasar masing-masing.
Tiap-tiap kubah yang berwana hitam memiliki teras dan pintu tersendiri yang menghadap ke arah jalan yang berbeda-beda. Tetapi, kini hanya satu pintu saja yang berfungsi.
Kalau penulis tidak khilaf pintu Timur saja yang dibuka. Kemudian, pada setiap jendela terpasang kaca patri. Masjid Raya Al-Mashun dirancang oleh arsitek Van Erp dan JA Tingdeman.
Sedangkan menara Masjid Raya Al-Mashun ada dua. Di pekarangan belakang terdapat kuburan Raja-raja Melayu, Gubernur Sumatera Utara, dan Haji Guru Kitab Sibarani, pendiri Yayasan Zending Islam Indonesia
Keistimewaan Masjid Raya Al-Mashun, selain sudah berumur 109 tahun dan menjadi ikon Kota Medan. Masjid ini menawarkan pesona keindahan sekaligus edukasi iman agar setiap pengunjung merasa dekat kepada Tuhan. Al-Mashun sendiri secara bahasa berarti ‘dipelihara.’ Kenyataannya demikian, masjid ini masih terpelihara hingga kini.
Setiap tamu-tamu yang datang ke Masjid Raya Al-Mashun tidak selalu ingin melakukan ibadah. Kebanyakan malah hanya berfoto ria. Bagi tamu-tamu non-Muslim (khususnya perempuan), sudah dianjurkan berpakaian menutup aurat. Sebab, sedang memasuki tempat suci.
Hormatilah rumah ibadah jangan samakan dengan mall. Aturan lainnya, tidak boleh meludah di halaman, tidak membuang sampah sembarangan, harap memakai alas kaki.
Satu lagi, jarak antara masjid dengan tempat berwudhu sekitar 3 meter dan sebaiknya memakai alas kaki yang sudah disediakan seperti terompah (kasut kayu). Tujuannya agar setelah bertharah (bersuci) tidak terkena najis. (semedan.com)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar