Breaking

Selasa, 17 Januari 2017

Rudal China di Pulau Buatan di LCS Mengarah ke Indonesia



Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan pihaknya mempunyai hak untuk mengerahkan "peralatan yang penting dan pantas untuk melindungi kedaulatan."

Dia juga kembali menyerukan pembicaraan dua arah antara China dan pihak yang mengklaim perairan tersebut, termasuk Filipina dan Indonesia.

Menurutnya, hubungan antara China dan semua pihak relevan kini sudah "secara progresif mendinginkan suasana di Laut China Selatan."

Filipina, di sisi lain, telah memutuskan untuk mengesampingkan peningkatan fasilitas di pulau-pulau yang dikuasainya untuk menghindari kemarahan China.

Lorenzana mengatakan protes diplomatis adalah prosedur yang tepat. Meski hubungannya dengan China menghangat, pemerintah masih tetap harus melindungi kepentingan negara.

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan langkah China mempersenjatai pulau-pulau buatan di Laut China Selatan sangat mengganggu.

"Mereka tidak beraksi sesuai dengan retorika pemerintahan China yang mengaku damai dan bersahabat," kata Lorenzana dalam pernyataan pers yang dikutip Reuters, Selasa (17/1).

"Aksi China memiliterisasi perairan sengketa itu sangat mengganggu."

Pernyataan ini lebih keras dari Menteri Luar Negeri Perfecto Yasay yang enggan mengkritisi China. Dia hanya mengatakan masalah perlu ditangani dengan berhati-hati.

"Ketika peristiwa yang bisa mengancam kedaulatan kami terjadi, kami mengeluarkan nota verbal sehingga kita bisa membicarakannya dengan pantas," ujarnya kepada stasiun televisi ANC.

Filipina mesti menyeimbangkan antara mempertahankan kedaulatan dan hubungan baik dengan China yang telah dibangun oleh Presiden Rodrigo Duterte. Terutama, jutaan dolar potensi perdagangan dengan negara rivalnya itu kini dipertaruhkan.

 (cnn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar